Home / Berita / Kecanduan Media Digital pada Remaja Timbulkan Penyakit ADHD

Kecanduan Media Digital pada Remaja Timbulkan Penyakit ADHD

Masalah kesehatan jiwa yang ditimbulkan oleh kecanduan media digital semakin terbukti dalam penelitian. Sebuah penelitian di Amerika Serikat membuktikan, kecanduan media digital pada remaja menyebabkan gangguan kurangnya perhatian/hiperaktivitas atau attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).

KOMPAS/DENTY PIAWAI NASTITIE–Seorang anak bermain catur memanfaatkan aplikasi di telepon pintar di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Rawa Panjang, Bekasi Timur, Kamis (13/7/2017). Anak dan remaja semakin sering menggunakan media digital setiap hari.–Kompas/Denty Piawai Nastitie (DNA)

Hasil penelitian berjudul “Hubungan Penggunaan Media Digital dengan Gejala Gangguan Kurangnya Perhatian dan Hiperaktivitas pada Remaja” itu dimuat dalam Journal of American Medical Association, yang juga dipublikasikan sciencedaily.com 17 Juli 2018.

Penelitian dilakukan oleh tim peneliti AS seperti Chaelin K Ra dan Adam Leventhal dari Universitas Southern California (USC), Los Angeles, dan serta Junhan Cho dari Universitas California, AS.

Institut Kesehatan Jiwa Nasional AS mendefinisikan ADHD sebagai gangguan otak dengan gejala yang mencakup pola kurangnya perhatian, perilaku hiperaktif dan impulsif yang mengganggu fungsi atau perkembangan remaja. Menurut Institut Kesehatan Nasional AS, ADHD adalah gangguan jiwa yang umum pada anak-anak dan remaja dan juga mempengaruhi sekitar 4 persen orang dewasa AS.

–Pengunjung menjajal telepon pintar yang dipajang di salah satu stan pameran Mega Bazaar Computer 2013 di Jakarta, beberapa waktu lalu. Remaja semakin mudah terpapar media digital saat ini.–Kompas/Heru Sri Kumoro

Studi ini berfokus pada konsekuensi kesehatan jiwa pada generasi baru yang terpapar media digital, seperti media sosial, video digital, pesan teks, unduhan musik, dan ruang obrolan daring. Fokus penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang menghubungkan penggunaan TV atau gim video dengan penyakit ADHD tersebut.

“Teknologi digital memberi rangsangan yang cepat pada remaja dan berintensitas tinggi yang dapat diakses sepanjang hari, yang telah meningkatkan paparan media digital jauh melampaui apa yang telah dipelajari sebelumnya melalui TV dan gim video,” kata Adam Leventhal, Guru Besar Kedokteran Pencegahan dan Psikologi Fakultas Kedokteran USC.

Dalam penelitian USC, para ilmuwan mulai dengan mencari responden 4.100 siswa yang memenuhi syarat, berusia 15 dan 16 tahun, di 10 sekolah umum peringkat tertinggi di wilayah Los Angeles. Sekolah-sekolah tersebut mewakili status demografi dan sosial ekonomi campuran.

–Tiga remaja, Dinda, Alya, Diva mengoprerasikan telepon genggam pintar milik mereka saat menunggu bus transjakarta di Halte Busway Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (15/4/2013). Perkembangan teknologi saat ini sangat memungkinkan mengakses media sosial lewat telepon genggam.–Kompas/Wisnu Widiantoro (NUT)

“Para peneliti memfokuskan pada remaja karena masa remaja menandai momen awal untuk terkenanya ADHD dan akses tak terbatas ke media digital,” tutur Leventhal.

Dari 4.100 siswa, selanjutnya diciutkan menjadi 2.587 peserta penelitian, dengan mengeluarkan siswa yang sudah gejala ADHD sebelumnya. Tujuan para ilmuwan adalah agar penelitian dapat fokus pada munculnya gejala baru ADHD yang muncul selama studi selama dua tahun 2014 – 2016.

Para peneliti bertanya kepada para siswa seberapa sering mereka menggunakan 14 platform media digital populer. Mereka mengurutkan frekuensi penggunaan media menjadi tiga kategori: tidak digunakan; penggunaan sedang dan penggunaan tinggi. Selanjutnya, para ilmuwan memantau para siswa setiap enam bulan antara tahun 2014 dan 2016. Mereka berusaha untuk menentukan apakah penggunaan media digital di kelas 10 dikaitkan dengan gejala ADHD yang dilacak hingga kelas 12.

KOMPAS/ARIS PRASETYO–Agustine Alfonite Lay (tengah), guru SMP Negeri Satu Atap di Desa Kataka, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, asik memeriksa telepon seluler miliknya, bersama dua muridnya Rabu (13/92017). Penggunaan media digital sudah sampai ke pelosok Indonesia.–Kompas/Aris Prasetyo (APO)

Pada akhirnya, peneliti menemukan 9,5 persen dari 114 anak-anak yang menggunakan setengah dari platform media digital dan 10,5 persen dari 51 anak-anak yang menggunakan semua 14 platform sering menunjukkan gejala ADHD baru. Sebaliknya, 4,6 persen dari 495 siswa yang tidak sering pengguna aktivitas digital menunjukkan gejala ADHD.

“Kami dapat mengatakan dengan yakin bahwa remaja yang terpapar ke tingkat yang lebih tinggi dari media digital secara signifikan lebih mungkin mengembangkan gejala ADHD di masa depan.” kata Leventhal.

Leventhal mengatakan temuan itu membantu dalam memahami bagaimana media digital dan pilihan konten yang tampaknya tak terbatas menimbulkan risiko kesehatan jiwa bagi anak-anak. Temuan ini berfungsi sebagai peringatan karena media digital menjadi lebih umum, lebih cepat, dan merangsang.

“Studi ini menimbulkan kekhawatiran apakah proliferasi teknologi media digital berkinerja tinggi mungkin menempatkan generasi baru pemuda yang berisiko terkena ADHD,” kata Leventhal.

Temuan ini memiliki konsekuensi bagi orang tua, sekolah, perusahaan teknologi dan dokter anak yang peduli bahwa remaja yang bergantung pada teknologi terdorong untuk mengalihkan perhatian atau lebih buruk lagi.

Survei baru-baru ini oleh lembaga nirlaba Common Sense Media menunjukkan, remaja menghabiskan sekitar sepertiga dari hari mereka–hampir sembilan jam — menggunakan media daring.

Sebuah survei terpisah yang diterbitkan bulan lalu oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menunjukkan 43 persen siswa sekolah menengah menggunakan media digital tiga jam atau lebih per hari.

–Warga Desa Tampang Muda, Andi Supriadi (24) harus naik ke sebuah pohon untuk mengakses sinyal telepon selular di tepi pantai Desa Tampang Muda, Kecamatan Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus Lampung Jumat (29/1/2016). Semua kalangan sudah menggunakan media digital saat ini.–Kompas/Angger Putranto (GER)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti diberitakan Harian Kompas 4 Januari 2018, telah memasukkan kecanduan gim sebagai gangguan kesehatan jiwa dalam Klasifikasi Internasional Penyakit ke-11. Kecanduan gim ialah pola perilaku bermain berulang amat parah sehingga tak berminat pada hal lain. Gejalanya antara lain gangguan kontrol atas gim, baik frekuensi, intensitas, maupun lama bermain.

Indonesia tidak memiliki data tentang kecanduan media digital ini. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan, Indonesia tidak memiliki data masalah kecanduan gim. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik pun hanya menggambarkan seberapa besar masyarakat mengakses internet. Berdasarkan Susenas, persentase penduduk berusia 5 tahun ke atas yang mengakses internet pada 2012 sebesar 15,36 persen dan pada 2015 menjadi 33,56 persen (Harian Kompas, 23 Juni 2018).–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 18 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: