Indonesia Raih Dua Medali Sains di Thailand

- Editor

Selasa, 31 Juli 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perwakilan Indonesia meraih satu emas dan satu perunggu di ajang The Fourth Asean Student Science Project Competition 2018 di Thailand. Medali emas bidang sains terapan diraih oleh Muhammad Athallah (18) asal SMA N 17 Makassar, serta medali perunggu bidang fisika diraih oleh Zahwa Devarrah (17) dan Muhammad Ilham (17) asal SMA N 1 Surakarta.

Athallah meraih medali emas itu lewat penelitian tentang pelapis sintetis dari kerang hijau (Perna viridis) sebagai penghambat korosi pada kapal. “Saya mencoba memanfaatkan limbah cangkang kerang hijau yang murah serta mudah didapat di Makassar,” kata Athallah saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, di Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Lebih kurang selama satu tahun, Athallah meneliti kandungan kitosan pada cangkang kerang hijau yang kemudian disintesis menjadi Basa Schiff untuk menciptakan lapisan penangkal korosi pada kapal. “Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan kitosan pada cangkang kerang hijau bisa menghambat proses penurunan mutu logam,” ujar Athallah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

PANDU WIYOGA UNTUK KOMPAS–Peraih medali perunggu bidang fisika di ajang The Fourth ASPC Muhammad Ilham (kanan) dan Zahwa Devarrah (tengah) didampingi oleh Kepala Sub Bagian Pembinaan Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ridwan Setiaji saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Adapun Zahwa dan Ilham meraih medali perunggu bidang fisika lewat penelitian manfaat penggunaan pohon sengon (Paraserianthes falcataria) sebagai indikator sistem peringatan dini tanah longsor. “Kami mencoba menggunakan pohon sengon yang banyak terdapat di Karanganyar, Jawa Tengah, sebagai alat deteksi dini tanah longsor,” tutur Zahwa.

PANDU WIYOGA UNTUK KOMPAS–Peraih Medali Emas bidang sains terapan di ajang The Fourth ASPC 2018, Muhammad Athallah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Zahwa dan Ilham sebelumnya telah menguji coba alat itu di lereng Gunung Lawu, Kelurahan Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. “Kami memilih sengon sebagai alat deteksi longsor, karena selain banyak terdapat di Bulurejo, jenis pohon itu juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata Ilham.

PANDU WIYOGA UNTUK KOMPAS–Peraih Medali Emas bidang sains terapan, Muhammad Athallah (memegang bunga), dan peraih medali perunggu bidang fisika Muhammad Ilham (pojok kanan) dan Zahwa Devarrah (kedua dari kiri) didampingi oleh Kepala Sub Bagian Pembinaan Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ridwan Setiaji saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Alat bernama Landslide Sengon Detektor (LsD) bekerja dengan merekam kemiringan sudut pohon yang diakibatkan oleh pergesaran tanah. ”LsD yang ditenagai oleh panel surya itu ditempelkan di pohon dan akan memancarkan sinyal bahaya ke radio masyarakat dengan radius jangkauan 1,3 kilometer jika sudut kemiringan sudut pohon melebihi 10 derajat,” ujar Zahwa.

Ajang Asean Student Science Project Competition (ASPC) merupakan kompetisi sains tahunan yang diselenggarakan oleh National Science Museum of Thailand. “Tujuan kompetisi itu sebenarnya menjalin komunikasi sesama peneliti muda Asia Tenggara,” kata Kepala Sub Bagian Pembinaan Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ridwan Setiaji.

Ridwan mengatakan, kesamaan kondisi geografis memungkinkan para peneliti di negara-negara Asia Tenggara berbagi hasil penelitian mereka untuk diterapkan di negara tetangga. “Harapannya melalui kerja sama di bidang sains tersebut, Asia Tenggara bisa menjadi poros baru perkembangan Sains di dunia,” ujar Ridwan. (E06)

M FAJAR MARTA

Sumber: Kompas, 28 Juli 2018

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 30 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB