Home / Berita / Ilmuwan Teliti ”Bakteri Jahat” Penyebab Gigi Rusak

Ilmuwan Teliti ”Bakteri Jahat” Penyebab Gigi Rusak

Kerusakan gigi terjadi ketika ”bakteri baik” dan ”bakteri jahat” di mulut tidak seimbang. Ada dua jenis bakteri jahat yang menyebabkan kerusakan gigi atau karies gigi, yaitu Streptococcus mutans dan Streptococcus sobrinus. S mutans sudah sering diteliti, sedangkan S sobrinus baru selesai diteliti oleh ilmuwan Amerika Serikat.

YUNIADHI AGUNG–Dokter gigi Devya Linda (kiri) memeriksa gigi penyanyi Nindy Ayunda di Beyoutiful Dental Clinic, Jakarta, Jumat (23/2/2018).

Penelitian berjudul ”Susunan Genome Lengkap Streptococcus sobrinus SL1 (ATCC 33478 = DSM 20742), NIDR 6715-7 (ATCC 27351), NIDR 6715-15 (ATCC 27352), dan NCTC 10919 (ATCC 33402)” itu dimuat dalam jurnal Microbiology yang juga dipublikasikan Sciencedaily.com pada 28 Juli 2018. Penelitian dilakukan tim peneliti dari Universitas Illinois, AS, seperti Paul Jensen dan Mia J Sales.

Bakteri jahat S mutans membentuk biofilm yang juga dikenal sebagai tartar, kemudian mengambil gula yang dimakan dan memfermentasinya menjadi asam, yang menutupi gigi dan menyebabkan gigi berlubang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Anggota Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia memberikan layanan pemeriksaan dan perawatan kesehatan gigi gratis kepada anak difabel di SLB Negeri 1 Bantul, Kecamatan Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (4/6/2015).

Para ilmuwan tahu, meskipun ada bakteri berbahaya kedua yang disebut S sobrinus yang mempercepat kerusakan gigi pada beberapa orang, sangat sedikit yang diketahui tentang mikroba ini.

Menurut Paul Jensen, S sobrinus sulit diteliti di laboratorium dan tidak hadir di gigi semua orang sehingga peneliti malah memfokuskan upaya mereka selama bertahun-tahun untuk memahami S mutans yang lebih stabil dan umum, yang diurutkan pada tahun 2002.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Dokter-dokter muda anggota Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia memberikan layanan pemeriksaan dan perawatan kesehatan gigi gratis kepada anak difabel di SLB Negeri 1 Bantul, Kecamatan Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (4/6/2015).

”Meskipun langka, S sobrinus menghasilkan asam lebih cepat dan dikaitkan dengan gejala klinis yang paling buruk, terutama di kalangan anak-anak,” kata Jensen, seorang peneliti di Institut Carl R Woese untuk Biologi Genomik di Universitas Illinois.

”Jika S sobrinus hadir bersama dengan S mutans, kerusakan gigi makin merajalela, yang berarti ada beberapa tingkat komunikasi atau sinergi antara keduanya yang belum kita pahami,” lanjutnya.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET)–Murid Madrasah Ibtidaiyah Riayatul Atfhal mengikuti pemeriksaan gigi gratis oleh tim dokter di sekolahnya di Krukut, Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (22/10/2014).

Sekarang, setelah sekuens S sobrinus selesai, Jensen dan mahasiswanya sedang membangun model komputasi untuk lebih memahami bagaimana kedua bakteri berinteraksi dan mengapa S sobrinus dapat menyebabkan kerusakan gigi yang merajalela ketika dikombinasikan dengan S mutans.

Menurut Jensen, S sobrinus tidak memiliki jalur lengkap untuk penginderaan kuorum, yaitu kemampuan bakteri harus merasakan dan bereaksi terhadap bakteri terdekat, dan akhirnya berkembang biak.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Asisten dokter gigi memeriksa gigi murid SD dalam kegiatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional yang diselenggarakan oleh Pepsodent dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia serta Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof Soedomo, kompleks Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (12/10/2017).

Bakteri S mutans mengirimkan peraba dalam bentuk peptida untuk mencari tahu berapa banyak sel S mutans lain di dekatnya. Setelah sel S mutans mencapai ambang tertentu, mereka menyerang dan menciptakan ketidakseimbangan di mulut seseorang antara bakteri baik dan jahat, yang mengarah pada pembentukan rongga gigi yang cepat.

”S sobrinus tidak memiliki sistem yang lengkap untuk melakukan ini. Kami benar-benar penasaran untuk mengeksplorasi ini lebih lanjut dan mencari tahu apa yang hilang dan mengapa,” ujar Jensen.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Anak-anak mengikuti kegiatan pemeriksaan gigi gratis yang dilakukan di SD Batur III, Dusun Selangisor, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (11/9/2017).

Penelitian terhadap S mutans sudah lama dilakukan, misalnya oleh Walter J Loesche dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Michigan, AS. Penelitian berjudul ”Peran Streptococcus mutans pada Pembusukan Gigi Manusia” itu dimuat dalam jurnal Microbiological Reviews tahun 1986.

Menurut Loesche, S mutans, mungkin S sobrinus, dan Lactobacilli adalah penyebab karies gigi pada manusia. Karies gigi adalah infeksi yang dapat didiagnosis dan dapat diobati. Kolonisasi oleh S mutans terjadi setelah gigi berlubang, dan jika celah dijajah bakteri S mutans di kedalamannya, pembusukan mungkin tidak dapat dihindari.

HEN–Direktur Utama PT Sarana Multi Griya (Persero) Emma Sri Martini (kedua dari kanan) didampingi dokter Yayasan Inspirasi Anak Bangsa memeriksa gigi siswa SDK Nunang, Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kecamatan Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (2/10/2017).

”S sobrinus tampaknya penting, terutama pada pembusukan permukaan halus dan, dengan demikian, dapat menjadi determinan kariogenik ketika pembusukan merajalela terjadi,” tulis Loesche dalam kesimpulannya.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 30 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: