Home / Berita / Lindungi Gigi agar Tidak Berlubang

Lindungi Gigi agar Tidak Berlubang

Kasus gigi berlubang pada anak masih tinggi. Hal itu berpengaruh buruk terhadap kemampuan belajar anak di sekolah. Untuk itu, penutupan pit dan fisura gigi dianjurkan sedini mungkin.

Menurut riset Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia 2015 di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Bekasi (Jabodetabek), prevalensi karies gigi anak usia 15 tahun mencapai 84 persen dengan rata-rata tiga gigi berlubang per anak. Dengan penutupan pit dan fisura sejak usia anak, itu diharapkan menurunkan angka kasus karies gigi.

“Penutupan pit dan fisura penting untuk mencegah gigi berlubang dan karies gigi,” kata Dekan FKG UI Yosi Kusuma Erawati pada jumpa pers Peringatan Hari Kesehatan Mulut Sedunia, di Rumah Sakit Gigi dan Mulut UI, Jakarta, Minggu (20/3). Pada acara itu, FKGUI mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia karena menutup pit dan fisura 844 gigi dari 608 anak SD usia 7-9 tahun dalam waktu sekitar dua jam.

Pit dan fisura gigi adalah cekungan atau ceruk pada gigi geraham. Bentuk pit dan fisura beragam, umumnya sempit, melipat, dan tak teratur sehingga jadi tempat sisa makanan dan bakteri menumpuk. Itu bisa memicu karies gigi, penyakit infeksi perusak struktur gigi yang menyebabkan gigi berlubang, nyeri, penanggalan gigi, bahkan kematian.

Sementara penutupan pit dan fisura merupakan prosedur untuk melindungi gigi agar tak mudah berlubang. Tim dokter memakai glass ionomer cement, bahan campuran semen, keramik, serta mengandung fluor untuk menutup pit dan fisura. Itu membuat permukaan gigi dangkal dan mencegah penumpukan sisa makanan dan bakteri demi mencegah gigi berlubang dan karies.

Metode itu biasanya diberikan pada gigi geraham nomor enam, yakni gigi yang tumbuh sejak manusia usia 6 tahun dan tak tergantikan lagi. Metode itu bisa untuk gigi geraham lain. “Idealnya penutupan pit dan fisura sejak usia anak agar gigi bertahan hingga dewasa,” kata Yosi.

Anton Rahardjo dari Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Kedokteran Gigi Pencegahan FKGUI, dan rekan-rekannya, melakukan riset pada 2015 di Bekasi pada 1.000 anak usia 6-7 tahun dan 445 anak usia 10-11 tahun. Hasilnya, gigi sehat meningkatkan prestasi siswa di sekolah. “Gigi mereka sehat, tak ada gangguan, dan mereka bisa konsentrasi belajar. Hasilnya, nilai rapor sekolah mereka bagus,” ujar Anton. (C11)
———–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Lindungi Gigi agar Tidak Berlubang”.
————————
Infeksi Memperbesar Risiko Penyakit Serius

Infeksi gigi dan rongga mulut dapat memicu berbagai penyakit kronis, seperti kelainan katup jantung, radang selaput otak, abses hati, dan radang sendi. Karena itu, kesehatan mulut perlu dijaga guna memperkecil risiko terjadinya infeksi.

Berbagai penyakit kronis itu terjadi karena masuknya bakteri ke dalam tubuh. “Ada ratusan bakteri di dalam rongga mulut. Namun, tidak berbahaya asal jumlahnya cukup dan tidak masuk ke dalam tubuh,” kata dokter ahli penyakit dalam Mangatas Manalu pada temu media memperingati Hari Kesehatan Gigi Sedunia, di Jakarta, Jumat (18/3).

Infeksi adalah masuknya bakteri ke dalam tubuh yang menimbulkan respons dari sistem pertahanan tubuh. Infeksi gigi dan rongga mulut terjadi, antara lain, ketika ada pelemahan di struktur gigi dan gusi, seperti karies; perubahan lingkungan dalam mulut, seperti suasana asam yang mengakibatkan kerusakan gigi dan infeksi; ada bakteri patogen dalam rongga mulut; sering mengonsumsi obat antibiotik; serta terjadi perpindahan mikroba dari organ satu ke organ lain.

Bakteri akan mudah masuk ke aliran darah secara langsung dari rongga mulut, terutama melalui gigi berlubang dan perdarahan gusi. Bakteri mulai masuk ketika terjadi karies gigi yang menyebabkan lapisan gigi tergerus hingga dentin dan pulpa. Setelah itu, memasuki lapisan pembuluh darah di tulang rahang sampai jaringan lunak di sekitar gigi berupa nanah.

Dari celah itulah bakteri masuk mengikuti aliran darah atau limfa ke organ tubuh lain. Contohnya, paru-paru, jantung, dan ginjal. Sementara itu, bakteri yang masuk ke tubuh ketika perdarahan gusi bisa akibat menyikat gigi terlalu keras atau membersihkan gigi dengan benang.

Salah satu kasus, bakteri yang menyebabkan peradangan selaput otak menimpa seorang perawat. Ia mengalami kejang dan suhu tubuhnya mencapai 42 derajat celsius. Ketika diuji di laboratorium, dalam darahnya terdapat bakteri berbahaya Streptococcus viridans. “Bakteri itu masuk melalui rongga mulut. Dari mulut kemudian menyebar ke seluruh tubuh,” kata Mangatas.

Streptococcus merupakan flora alami dalam tubuh. Jika jumlahnya berlebih, maka berkompetisi dengan mengeluarkan racun yang menjadi faktor risiko penyakit lain. Namun, jumlah streptococcus tak boleh kurang karena akan memancing peningkatan jumlah jamur (Kompas, 6/9/2012).

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia Farichah Hanum mengatakan, jangka waktu infeksi berkisar 14-21 hari. Adapun penyebaran bakteri dalam tubuh membutuhkan waktu sekitar 30 hari. Upaya pencegahan perkembangan penyakit dan bakteri adalah menjaga kesehatan rongga mulut.

Upaya tersebut antara lain menggosok gigi sehari dua kali di pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur; rutin mengontrol kesehatan gigi ke dokter enam bulan sekali; mengurangi konsumsi makanan bergula tinggi yang memicu gigi berlubang; serta tidak merokok karena kebiasaan itu dapat menimbulkan karies gigi.

“Jangan menyepelekan penyakit gigi. Sebab, gigi adalah bagian dari tubuh secara keseluruhan,” kata Farichah. (C05)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Infeksi Memperbesar Risiko Penyakit Serius”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: