Hilirisasi Inovasi Iptek Dirintis

- Editor

Selasa, 3 Maret 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Daerah Jadi Kunci Pengembangan Riset
Pusat ilmu pengetahuan dan teknologi (science and techno park) yang mulai dirintis di sejumlah kota di Indonesia akan dikembangkan sebagai ajang hilirisasi hasil riset iptek. Di kawasan itu bisa terjadi interaksi dan kolaborasi lembaga riset, pendidikan, dan industri dalam satu sistem dengan menggunakan sumber daya lokal.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengemukakan hal itu dalam rapat kerja nasional bertema “Peningkatan Daya Saing Bangsa Melalui Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi dan Inovasi”, Kamis (26/2), di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. Ia berharap pusat iptek bisa meningkatkan daya saing industri nasional.

Nasir mencontohkan Iran, negara yang dikunjunginya pada Pertemuan Tingkat Menteri Negara-negara Nonblok hingga Selasa (23/2). “Dalam 10 tahun, ada sekitar 1.000 industri di Iran yang memanfaatkan hasil riset science and techno park (STP),” ujarnya.

Dalam Laporan Daya Saing Global (The Global Competitiveness Report) tahun 2014-2015 yang dimuat di situs Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), posisi daya saing Indonesia di antara 144 negara berada di urutan ke-34. Itu berarti daya saing Indonesia naik dari posisi ke-38 pada 2013-2014 dan urutan ke-50 pada 2012-2103.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, Gopa Kusworo, Kepala Bidang Perkembangan Jaringan Iptek Pusat dan Daerah Kementerian Ristek-Dikti, menyatakan, daya saing nasional bisa ditingkatkan lewat peningkatan daya saing daerah, yang masih rendah. “Tak sedikit produk lokal kalah bersaing dengan produk impor, seperti jeruk, semangka, jambu, kelapa, dan ubi jalar, yang harganya lebih murah,” ujarnya.

Seratus pusat iptek
Menyadari pentingnya daya saing itu, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mencanangkan pembangunan 100 kawasan pengembangan teknologi dan inovasi di daerah. Itu dinilai sejalan dengan Nawa Cita Ke-6, yaitu “Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia maju dan bangkit bersama bangsa Asia lain”.

Pembangunan 100 pusat iptek di seluruh Indonesia akan diakomodasi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Selain itu, rencana pembangunan tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-21019.

“Program itu akan dilaksanakan oleh antara lain Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Ristek-Dikti, serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,” kata Wisnu Sarjono, Asisten Deputi Investasi Iptek Kementerian Ristek-Dikti.

Saat ini, lanjut Wisnu yang juga Ketua Asosiasi STP Indonesia, pusat iptek yang telah berdiri antara lain Bandung Techno Park, Kampung Teknologi di Jepara, Solo Techno Park, Sragen Techno Park, Pondok Pusaka Bengkulu, Puri Bangtek Riau, dan Agro Techno Park Palembang. “Namun, STP yang ada belum menyinergikan empat pemangku kepentingan, yakni akademisi, pebisnis, pemerintah, dan komunitas, hanya 2-3 pihak,” ujarnya.

Terkait itu, sejumlah pembenahan perlu dilakukan. “Pembenahan terkait sistem inovasi daerah, yaitu menata kelembagaan daerah, sumber daya, dan menata jaringan inovasi,” ujar Gopa, yang juga Sekretaris Jenderal Asosiasi STP Indonesia.

Dari 519 kabupaten/kota di Indonesia, menurut rencana, 100 kabupaten/kota di antaranya akan dipilih jadi lokasi pusat iptek. Saat ini kondisi sumber daya tiap daerah amat beragam. Untuk menjalankan program itu, perlu pendampingan badan penelitian dan pengembangan daerah oleh instansi terkait, lembaga riset, dan perguruan tinggi di daerah.

Sebuah pusat iptek butuh sumber daya manusia profesional, keterlibatan litbang perguruan tinggi dan litbang daerah, perusahaan baru, serta lembaga bisnis dan keuangan. Sebagai pemegang otoritas kebijakan daerah, pemerintah daerah jadi unsur terpenting dalam menata kebijakan, kelembagaan daerah, jaringan inovasi, sumber daya lokal, menyediakan alternatif pendanaan bagi industri kecil-menengah baru, memberi insentif seperti keringanan pajak.

Menurut Gopa, dalam pembangunan pusat iptek, perlu peningkatan pemahaman daerah tentang fungsi pusat iptek, pemetaan potensi daerah, dan pembuatan rencana induk pusat tersebut. (YUN)

——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Februari 2015, di halaman 13 dengan judul “Hilirisasi Inovasi Iptek Dirintis”

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB