Home / Berita / Pembangunan Kawasan Iptek Jadi Tahapan Tersulit

Pembangunan Kawasan Iptek Jadi Tahapan Tersulit

Pembangunan kawasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terintegrasi (science and techno park/ STP) merupakan tahapan terakhir dan tersulit dari proses hilirisasi inovasi teknologi ke industri. Itu membutuhkan waktu panjang untuk mewujudkannya karena harus menyiapkan beberapa faktor pendukung.

Sejumlah faktor pendukung kawasan pengembangan iptek itu adalah infrastruktur dan kelembagaan, sumber daya manusia, inovasi dan penerapannya. Beberapa faktor lain adalah jejaring dengan industri pengguna, pendanaan, dan regulasi.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir pada Bedah Kinerja 2017 dan Fokus Kinerja 2018 Kemristek dan Dikti di Jakarta, Kamis (4/1), memaparkan pencapaian pembangunan faktor pendukung itu, terutama peneliti, inovasi, dan perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Tahun 2017 baru 16 STP yang masuk kategori matang. ”Kemristek dan Dikti akan mengoptimalkan pengembangan STP sebagai program prioritas nasional agar sesuai target,” kata Nasir.

Pencanangan pembangunan 100 STP baru akan terlaksana paling cepat pada 2030. Itu tertuang dalam peta jalan STP. Tahap pertama, 2015–2019, pembangunan 22 techno park/science park/national STP. Tahap kedua, 2020-2024, ada 50 TP/SP dan NSTP beroperasi. Tahap ketiga, 100 TP/SP jadi STP untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Karena realisasi pembangunan STP butuh waktu 15 tahun atau tiga periode pemerintahan, menurut Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristek dan Dikti M Dimyati, harus ada konsistensi mewujudkannya. Keberlanjutan program dari periode ke periode pemerintahan berikut harus dikawal.

Untuk menjamin kesinambungan program STP, Peraturan Presiden tentang Kawasan Sains dan Teknologi diterbitkan pada Desember 2017.

Dukungan kebijakan mendorong industri dan swasta terlibat dalam riset di Indonesia akan diterbitkan Menteri Keuangan. Hal itu berupa keringanan pajak pada industri yang menyisihkan dana untuk riset dua kali dari pengeluaran riset. Penggunaan bahan baku dalam negeri dihitung pada keringanan pajak.

Pencapaian
Pada 2017, menurut Nasir, jumlah HKI 4.303, naik dibandingkan tahun 2016 ada 3.184 HKI. Inovasi baru dengan level kesiapan teknologi (technology readiness level/TRL)6 mencapai 1.412 dan TRL 7 sebanyak 86.

Peningkatan inovasi di perguruan tinggi dilakukan lewat program teaching industry. Tahun 2017 ada 15 produk inovasi, 4 produk dalam tahap uji coba dan 14 produk tahap uji coba produksi. ”Untuk meningkatkan hilirisasi inovasi, kami mendorong pendirian 661 usaha rintisan di perguruan tinggi,” kata Nasir.

Untuk penerapan inovasi di industri tahun 2017, anggaran yang dikucurkan Rp 65,240 miliar, meningkat dari tahun 2016 sebesar Rp 36,288 miliar dan 2015 sebesar Rp 18,500 miliar. Dalam dua tahun ini, 129 proposal penelitian didanai.(YUN/ELN)

Sumber: Kompas, 5 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: