Gletser Asia Penyuplai Air Penting bagi Penduduk

- Editor

Selasa, 11 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pentingnya Porter di Himalaya  Seorang porter memikul barang pendaki dari Desa Periche pada ketinggian 4.250 meter di atas
permukaan laut di kawasan pegunungan Himalaya, Nepal, Senin (7/5/12). Para porter yang kebanyakan
dari suku Sherpa ini berperan penting untuk menentukan sukses tidaknya pendakian ke
puncak-puncak di Himalaya, termasuk puncak Everest (8.848 mdpl). Seorang porter biasa mengangkut
barang 60-90 kilogram.

Kompas/Harry Susilo (ILO)
07-05-2012

DIMUAT 8/5/12 HAL 15 *** Local Caption *** Pentingnya Porter di Himalaya - Seorang porter memikul barang pendaki dari Desa Periche di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut di kawasan pegunungan Himalaya, Nepal, Senin (7/5). Para porter yang kebanyakan dari suku Sherpa ini berperan penting untuk menentukan sukses tidaknya pendakian ke puncak-puncak di Himalaya, termasuk puncak Everest (8.848 mdpl). Seorang porter biasa mengangkut barang antara 60-90 kilogram.

Kompas/Harry Susilo (ILO)
07-05-2012

Pentingnya Porter di Himalaya Seorang porter memikul barang pendaki dari Desa Periche pada ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut di kawasan pegunungan Himalaya, Nepal, Senin (7/5/12). Para porter yang kebanyakan dari suku Sherpa ini berperan penting untuk menentukan sukses tidaknya pendakian ke puncak-puncak di Himalaya, termasuk puncak Everest (8.848 mdpl). Seorang porter biasa mengangkut barang 60-90 kilogram. Kompas/Harry Susilo (ILO) 07-05-2012 DIMUAT 8/5/12 HAL 15 *** Local Caption *** Pentingnya Porter di Himalaya - Seorang porter memikul barang pendaki dari Desa Periche di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut di kawasan pegunungan Himalaya, Nepal, Senin (7/5). Para porter yang kebanyakan dari suku Sherpa ini berperan penting untuk menentukan sukses tidaknya pendakian ke puncak-puncak di Himalaya, termasuk puncak Everest (8.848 mdpl). Seorang porter biasa mengangkut barang antara 60-90 kilogram. Kompas/Harry Susilo (ILO) 07-05-2012

Sebuah studi baru menunjukkan ratusan juta penduduk di sekitar gunung-gunung tinggi bersalju di Asia menggantungkan air pada lelehan air es tersebut. Tekanan air membuat wilayah ini rentan terhadap kekeringan, namun gletser adalah sumber air yang tahan kekeringan yang unik.

Dalam jurnal Nature berjudul Asia’s Shrinking Glaciers Protect Large Populations from Drought Stress, 29 Mei 2019, Hamish D Pritchard dari British Antarctic Survey Cambridge di Inggris, menunjukkan pencairan gletser musiman setara dengan kebutuhan dasar ratusan juta orang serta sebagian besar kebutuhan kota dan industri tahunan Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan. Selama musim panas yang kekeringan, lelehan salju tersebut mendominasi suplai air pada Daerah Aliran Sungai Indus, Aral, dan Chu/Issyk-Kul.

Pentingnya Porter di Himalaya Seorang porter memikul barang pendaki dari Desa Periche pada ketinggian 4.250 meter di atas
permukaan laut di kawasan pegunungan Himalaya, Nepal, Senin (7/5/12). Para porter yang kebanyakan
dari suku Sherpa ini berperan penting untuk menentukan sukses tidaknya pendakian ke
puncak-puncak di Himalaya, termasuk puncak Everest (8.848 mdpl). Seorang porter biasa mengangkut barang 60-90 kilogram.
Kompas/Harry Susilo (ILO)–07-05-2012

KOMPAS/HARRY SUSILO–Ilustrasi pendakian di Himalaya: Seorang porter memikul barang pendaki dari Desa Periche pada ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut di kawasan pegunungan Himalaya, Nepal, Senin (7/5/12). Para porter yang kebanyakan dari suku Sherpa ini berperan penting untuk menentukan sukses tidaknya pendakian ke puncak-puncak di Himalaya, termasuk puncak Everest (8.848 mdpl). Seorang porter biasa mengangkut barang 60-90 kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Air lelehan ini penting bagi orang-orang yang tinggal di hilir ketika kemarau panjang atau kekeringan. Ini mengurangi risiko ketidakstabilan sosial, konflik, dan perpindahan penduduk yang dipicu kelangkaan air.

Pada Sciencedaily, pada tanggal sama, Hamish Pritchard menunjukkan, setiap musim kemarau, gletser melepaskan 36 kilometer kubik air – setara dengan 14 juta kolam renang olimpiade – ke sungai-sungai tersebut. Pasokan ini kini tak berkelanjutan karena perubahan iklim menyebabkan gletser di kawasan ini kehilangan 1,6 kali lebih banyak air daripada yang mereka dapatkan setiap tahun.

Wilayah pegunungan tinggi di Asia, yang dikenal sebagai Kutub Ketiga, meliputi Himalaya, Karakoram, Pamir, Hindu Kush, Tien Shan, Kunlun Shan, dan pegunungan Alai serta memiliki 95.000 gletser secara total. Sekitar 800 juta orang sebagian tergantung pada air lelehan mereka.

Pritchard menganalisis perkiraan kontribusi gletser dengan jumlah presipitasi pada tahun-tahun rata-rata dan tahun-tahun kekeringan. Dia menggunakan dataset iklim dan pemodelan hidrologi untuk menghitung volume air gletser yang masuk dan meninggalkan daerah aliran sungai utama di wilayah itu.

“Studi ini adalah tentang menjawab pertanyaan mengapa gletser penting? Bahkan di gunung-gunung tinggi Asia, mereka terpencil dan mencakup sebagian kecil wilayah itu. Ternyata mereka sangat berharga bagi masyarakat sebagai penyimpan air alami yang membuat sungai mengalir melalui musim panas, bahkan melalui kekeringan panjang,” kata dia.

Ia pun menilai dengan perkiraan peningkatan kekurangan air dan makanan terkait kekeringan dan kekurangan gizi, yang diprediksi selama beberapa dekade mendatang, gletser Asia akan memainkan peran yang semakin penting. Pasokan air gletser ini melindungi suplai hilir akibat tekanan air dari kekeringan.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 3 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB