Es di Puncak Jaya Diperkirakan Hilang pada 2023

- Editor

Sabtu, 2 Februari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gletser di Puncak Jaya, Papua, saat ini menyusut cepat akibat pemanasan itu dan diperkirakan lenyap pada 2023 atau paling lama pada 2026. Situasi itu disebabkan pemanasan global yang melaju makin cepat.

—(a) Skema pipa PVC terhubung yang menggambarkan perubahan ketebalan es pada ENF pada bulan Juni 2010, November 2015 (abu-abu), Mei 2016 (merah), dan November 2016 (biru). Foto udara ENF yang diambil pada (b) Juni 2010, (c) November 2015, (d) November 2016, dan (e) Maret 2018 menunjukkan pemisahan massa es. Sumber: BMKG

Pemanasan global semakin melaju dengan membawa berbagai perubahan yang tak terpulihkan. Gletser di Puncak Jaya, Papua, saat ini menyusut cepat akibat pemanasan itu dan diperkirakan lenyap pada 2023 atau paling lama pada 2026. Dampak lainnya berupa perubahan pola dan intensitas hujan di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

” Dua gletser besar yang tersisa di Puncak Jaya terus menyusut secara dramatis sejak pengamatan tahun 2002 hingga 2018 dan kami perkirakan segera lenyap dalam beberapa tahun ke depan,” kata Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Klimatologi dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Donaldi Sukma Permana, di Jakarta, Senin (1/2/2021).

Dari 2002 hingga 2015, tutupan es berkurang 1,45 kilometer (km) persegi , setara dengan tingkat kehilangan 0,11 km persegi per tahun. Pengukuran pada tahun 2018, luasan gletser ini tinggal 0,46 km persegi. Selain luasan, ketebalan es juga terus menyusut dengan cepat.

Berdasarkan perhitungan tim BMKG, lapisan salju di Puncak Jaya ini akan menghilang sepenuhnya pada tahun 2022 atau 2023. “Paling lama bertahan sampai 2026,” katanya.

Menurut Donaldi, menghilangnya es di Puncak Jaya ini bisa lebih cepat lagi jika terjadi El Nino kuat, sebagaimana pernah terjadi pada 2015 – 2016. Ketika El Nino tahun 2015-2016, penyusutan ketebalan esnya mencapai 5 meter.

Saat kunjungan ke lokasi pada 3 November 2015, es telah menipis hingga 5 meter (m) dengan kecepatan sekitar 1,05 m per tahun sejak 2010. Kemudian pada kunjungan berikutnya pada tanggal 31 Mei 2016, terjadi penipisan es tambahan sebanyak 4,26 m hanya dalam waktu enam bulan.

Pengukuran terakhir pada tanggal 23 November 2016, kembali terjadi penyusutan 1,43 m dari penipisan es sejak Mei 2016, mengkonfirmasikan, meski tingkat penipisan tahunan melambat setelah berakhirnya El Nino, secara rata-rata penyusutannya 2,7 kali lebih besar dari tingkat rata-rata dari tahun 2010 hingga 2015.

Selain dipicu oleh pemanasan suhu permukaan, penyusutan es di Puncak Jaya disebabkan pemanasan batuannya. Karena esnya mencair, luasan batuan hitam di puncak pegunungan ini cenderung menyerap sinar matahari dan akhirnya mempercepat pencairan.

“Jadi, ada dua tahap pemanasan, dari atas dan bawah. Penipisan ini menyertai kontraksi progresif dari luas permukaan gletser yang mengakibatkan pemisahan gletser menjadi dua massa es,” ungkapnya.

Menghilangnya gletser di Puncak Jaya kemungkinan besar akan berlangsung permanen, mengingat laju pemanasan global yang kian tinggi. ” Untuk membentuk gletser, suhu minimal harus nol derajat celsius dan ada uap air. Sekarang, suhu di atas Puncak Jaya lebih panas. Sekalipun sesekali masih terjadi hujan salju, tidak bisa membentuk lapisan es keras,” kata Donald.

Pola hujan
Donaldi memaparkan, selain mencairkan es di puncak gunung tertinggi di Indonesia ini, perubahan iklim menyebabkan perubahan pola dan intensitas hujan di Indonesia. Daerah bagian selatan ekuator, termasuk Pulau Jawa, secara akumulatif tahunan mendapatkan hujan lebih sedikit.

Kondisi sebaliknya terjadi di utara ekuator seperti Sulawesi dan Kalimantan yang mendapatkan hujan lebih banyak. Namun, secara keseluruhan, peluang terjadi hujan ekstrem harian bakal meningkat.

Penelitian yang dilakukan Donaldi dan tim di Sulawesi Tengah pada 2020 misalnya menemukan, ada tren peningkatan total curah hujan, tren penurunan jumlah hari hujan di bawah 5 milimeter (mm) per hari, dan tren peningkatan jumlah hari hujan di atas 50 mm per hari per tahun. “Tren peningkatan total hujan tahunan berkisar antara 4,68 – 52,40 mm per tahun,” tuturnya.

Tren peningkatan curah hujan tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Sigi, Tojo Una-Una, Morowali Utara dan Morowali. “Perubahan pola hujan akan mempengaruhi risiko bencana hidrometeorologi dan pertanian,” kata Donald.

Menurut Deputi Klimatologi BMKG Herizal, analisis tren perubahan curah hujan hasil pengamatan stasiun BMKG di berbagai wilayah selama 41 tahun terakhir (1979-2019) juga menunjukkan frekuensi hujan lebat, yakni di atas 50 mm per hari makin sering terjadi. Hal itu terindikasikan dari data-data dalam 40 tahun terakhir seperti di Jakarta, Surabaya, Mataram-Lombok, Ujung Pandang, Jayapura, Biak, Lhokseumawe, dan Medan.

Menurut dia, total curah hujan dan hujan ekstrim di Indonesia umumnya terkait anomali iklim yang terjadi di Samudera Pasifik dan di Samudera Hindia. Padahal, sepanjang lima tahun terakhir, variabilitas iklim di kedua Samudera itu menunjukkan terjadi penyimpangan iklim global berurutan mulai dari El Nino kuat 2015/2016, Indian Ocean Dipole positif (IOD positif) 2019 hingga La Nina moderate 2020/2021.

Penyimpangan iklim global itu berdampak pada terjadinya kondisi cuaca/iklim ekstrem di Indonesia di antaranya terjadi tahun dengan curah hujan di bawah normal atau lebih umum disebut tahun kering (El Nino 2015 dan Dipole Mode Positif 2019) dan tahun dengan curah hujan di atas normal atau disebut tahun basah 2020.

Tahun terpanas
Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto menjelaskan, dampak perubahan iklim yang makin nyata di Indonesia ini merupakan konsekuensi pemanasan global yang lajunya semakin cepat.

Dalam laporan State of the Climate 2020, Badan Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan, tahun 2020 menjadi tahun terpanas kedua setelah tahun 2016, mengungguli tahun 2019 dengan laju peningkatan suhu global 1,1 derajat celsius dari rerata iklim zaman pra-industri.

Sementara analisis perubahan suhu udara rata-rata untuk seluruh wilayah Indonesia selama 71 tahun terakhir (1948 – 2020), menurut Siswanto, menunjukan laju peningkatan suhu sebesar 0,3 derajat celsius per 10 tahun.

Data dari 91 stasiun pengamatan BMKG menunjukkan suhu udara rata-rata tahun 2020 sebesar 27,3 derajat celcius atau 0,7 derajat celsius lebih panas dibanding normal suhu udara rata-rata periode 1981-2010 sebesar 26,6 derajat celsius.

“Bagi Indonesia, tahun 2020 juga merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016 dengan anomali penambahan 0,8 derajat celsius, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 dengan penambahan 0,6 derajat celsius,” ujarnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 2 Februari 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB