Home / Berita / El Nino Hingga Juli, 2019 Lebih Kering

El Nino Hingga Juli, 2019 Lebih Kering

El Nino diperkirakan berlangsung hingga Juli 2019. Fenomena regional ini tidak banyak berpengaruh terhadap musim hujan di Indonesia yang akan berlangsung hingga Maret, namun akan menyebabkan puncak kemarau pada Juni-Agustus menjadi lebih kering dibandingkan pada tahun 2018.

“Kemunculan El Nino ini sudah terdeteksi tanda-tanda akan muncul sejak Oktober 2018. Pada kejadian El Nino kuat seperti 2015, diketahui memiliki dampak yang signifikan pada peningkatan rerata suhu global dan kekeringan parah di Indonesia. El Nino kali ini tidak akan sekuat 2015,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, di Jakarta, Kamis (28/2/2019).

El Nino 2015 berlangsung selama 18 bulan dari kuartal ketiga 2014 hingga kuartal pertama 2016. Sedangkan El Nino kali ini baru berlangsung sekitar dua bulan dengan kekuatan lemah. “Curah hujan masih akan cukup tinggi hingga April 2019 di sebagian besar wilayah Indonesia dan baru mulai akhir April sebagian wilayah akan memasuki musim kemarau,” kata dia..

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Awan gelap menggantung di langit Kota Jakarta, menjelang hujan, Kamis (21/2/2019). Cuaca di Jakarta selama Februari masih didominasi hujan lebat di sejumlah titik.

Kemarau juga diprediksi berlangsung dengan durasi yang normal untuk sebagian besar wilayah, namun pada puncak kemarau di bulan Juni – Juli – Agustus diprediksi akan lebih kering dari tahun 2018 dan dari normalnya.

“Sekalipun cenderung kering, tetapi tidak lebih kering daripada kemarau tahun 2015,” kata siswanto. “Apabila El Nino ternyata tetap berlangsung setelah Juli 2019, maka tingkat kekeringan kemarau tahun ini dapat lebih luas.”

Sekalipun dalam kategori lemah, suhu global, termasuk Indonesia, tetap akan mengalami peningkatan suhu tahunan sebagai dampak dari perubahan iklim atau pemanasan global. “Tahun 2019 dapat lebih panas dari pada 2018. Padahal, 2018 merupakan tahun terpanas ke-4 setelah 2015, 2016, dan 2017,” kata dia.

Deputi Bidang Iklim BMKG Herizal mengatakan, fenomena El Nino kali ini harus diantisipasi pada sektor pertanian. “Kegagalan memahami informasi iklim dapat menyebabkan kegagalan tanam dan panen,” kata dia.

–Perkiraan iklim di Riau dan potensi kekeringan yang bisa memicu kebakaran lahan. Sumber: BMKG, 2019

Kebakaran lahan
Menurut Herizal, untuk kerentanan kebakaran lahan di pantai timur Sumatera saat ini lebih dipengaruhi karena adanya aliran Madden Julian Oscillation (MJO) fase kering yang berbarengan dengan musim kemarau. Curah hujan di Pesisir Timur Aceh, Sumatera Utara hingga Riau pada pekan terakhir Februari ini masih diprediksikan berada dalam kisaran rendah 0 – 50 milimeter dalam sepuluh hari.

“Kondisi dapat berdampak kepada sektor pertanian, kehutanan dan lingkungan di daerah daerah tersebut,” kata dia.

Meskipun pantauan jumlah titik panas pada dua pekan terakhir menunjukkan penurunan dari 52 titik menjadi 49 titik pada pekan terakhir, kewaspadaan masih diperlukan mengingat masih rendahnya akumulasi curah hujan.

Pantauan alat kualitas udara milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan Indek Standar Pencemaran Udara berdasar konsentrasi Particulate Matter (PM10) di Riau saat ini berada dalam kategori sedang hingga baik.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 1 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: