Home / Berita / EL Nino; Awal yang Mirip Tahun 1997

EL Nino; Awal yang Mirip Tahun 1997

Nyaris setiap dua tahun sekali menjelang pertengahan tahun, kita menunggu-nunggu dengan harap-harap cemas: ”anak lelaki” itu datang atau tidak. Di Indonesia, El Nino—anak lelaki itu— membawa musim kemarau panjang. Dampak terbesar diderita Indonesia tahun 1997. Kini, muncul gejala mirip dengan gejala tahun 1997 tersebut.

El Nino terjadi saat ”kolam panas” (warm pool) di Samudra Pasifik pada garis Ekuator bergeser ke arah timur. Artinya, bergerak ke timur Pasifik Tengah—garis 180 derajat Bujur Timur/Bujur Barat—yang merupakan garis (imajiner) pergantian hari.

Pakar meteorologi-klimatologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Zadrach Loudefij Dupe, Senin (9/6), saat dihubungi dari Jakarta menegaskan, ”Anomali suhu muka air laut harus sama atau lebih besar dari 0,5 derajat celsius dan terjadi enam bulan berturut-turut.” Anomali diukur dari rata-rata suhu muka laut 30 tahun terakhir.

Ada tiga jenis El Nino yang dikaitkan dengan tingkat kekuatannya. Jika anomali berkisar 0,5 derajat celsius hingga 1 derajat celsius, itu digolongkan El Nino lemah. ”Tidak signifikan,” ujar Zadrach.

Jika anomali suhu berkisar 1-1,5 derajat celsius, berarti menunjukkan tingkat moderat. Jika penyimpangan tersebut mencapai angka di atas 1,5 derajat celsius, ”Itu termasuk El Nino yang kuat,” tambah Zadrach.

Saat El Nino tahun 1997-1998 muncul, terjadi anomali pada kisaran 2,9 derajat celsius. ”Nyaris mencapai tiga. Itu adalah El Nino terkuat yang pernah ada,” tegas Zadrach. Salah satu dampaknya, Indonesia dikategorikan negara pencemar emisi karbon terbesar ketiga di dunia karena kebakaran lahan dan hutan.

11233791hPenelitian global
Sejak tahun 1992, secara internasional dilakukan penelitian The Tropical Ocean Global Atmosphere Coupled Ocean Atmosphere Response Experiment (TOGA COARE) di Lautan Pasifik, di sepanjang garis ekuator. Di sepanjang garis itu dipasang deretan pelampung (buoy) untuk pengamatan.

”Di sana dilakukan pengukuran terhadap angin, suhu muka laut, dan tinggi muka laut,” ujar Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian.

Fenomena El Nino amat berkaitan dengan Indeks Osilasi Selatan (SOI), yang mengukur perbedaan tekanan antara Darwin, Australia, dan Pulau Tahiti di Polinesia. Jika angka berada di bawah 8, itu mengindikasikan terjadinya El Nino.

Prediksi El Nino dilakukan sepanjang musim semi, yaitu antara Maret-Mei. Pada saat itu matahari mulai memanaskan belahan bumi utara, setelah tanggal 23 Maret berada di atas ekuator.

Ada dua hal utama yang diamati pada periode tersebut, ”Apakah sudah terbentuk angin dari arah barat menuju timur yang homogen dan adakah pergeseran suhu panas air laut ke arah timur,” ujar Edvin.

Pada kondisi normal, massa air panas di kedalaman 150 meter berada di wilayah Pasifik Timur. Namun, pada saat terjadi El Nino, kolam panas air laut tersebut bergeser ke timur ke arah Pasifik Tengah.

”Seperti lidah api yang bergerak ke timur,” ujar Edvin. Jika angin tak berembus dari barat, juga berarti takkan ada El Nino.

Pergantian arah angin menjadi angin barat itu terjadi pada saat musim semi di belahan bumi utara. ”Pada saat itu di Indonesia sedang musim pancaroba. Saat pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau,” tambah Edvin.

”Prediktabilitas pada periode itu turun. Sebab, arah angin belum homogen,” kata dia.

Penelitian El Nino yang dilakukan secara intensif menyajikan berbagai data yang dicatat mingguan dan bisa diakses siapa pun.

Fenomena itu sebenarnya bukan fenomena sporadis, melainkan bagian dari osilasi yang memiliki periode tertentu. Banyak ahli menyebut periode 2-7 tahun. Sementara ada yang menyebut periode 3-5 tahun (Encyclopedia of Global Warming and Climate Change).
Bencana

Semula, El Nino dipandang sebagai sebuah fenomena pembawa berkah, terutama untuk wilayah Peru yang kering dan tandus. El Nino mengubah wajah kering dan tandus menjadi daerah bermandi hujan.

Namun, persepsi terhadap El Nino berubah karena di wilayah bentangan dunia lainnya terjadi kekeringan atau musim kemarau panjang, seperti yang dialami Indonesia. Kekeringan juga melanda wilayah utara dan timur Australia.

Dampak fenomena El Nino berkebalikan dengan dampak fenomena La Nina. Bila El Nino menimbulkan kekeringan panjang di sejumlah wilayah, La Nina berarti mengirim hujan berkepanjangan.

Pada saat ini, menurut Edvin, dari data yang dipantau per minggu, tampak adanya gejala yang mirip dengan fenomena yang terjadi tahun 1997. ”Saat ini tinggi paras muka laut mirip dengan tahun 1997 yang merupakan El Nino kuat,” kata dia.

Tinggi paras laut saat terjadi fenomena El Nino akan lebih tinggi dari periode tanpa El Nino. ”Karena suhunya tinggi (kolam panas), air laut memuai,” jelasnya.

”Belum terlihat dampak El Nino yang terasa di sekitar Jawa,” kata Edvin. Meski begitu, bukan berarti tak akan berdampak. Artinya, tetap saja dibutuhkan perencanaan mitigasi yang memadai agar risiko tak sebesar tujuh belas tahun lalu. Siapkah?

Oleh: Brigitta Isworo Laksmi

Sumber: Kompas, 11 Juni 2014

———-

Dampak El Nino; Kemarau Dimulai, Hujan Hanya Sekali

Awal kemarau sudah berlangsung di sebagian besar wilayah pantai utara Pulau Jawa. Hal itu mengakibatkan ketersediaan air di sejumlah lahan pertanian semakin berkurang. Karena itu, pemerintah harus mengelola persediaan air.

Prakirawan pada Stasiun Meteorologi Tegal, Laylya Isnaini, Selasa (10/6), mengatakan, saat ini hampir semua wilayah di Tegal dan sekitarnya sudah masuk musim kemarau. Bahkan, beberapa wilayah, seperti Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Brebes bagian utara, sudah memasuki kemarau pada Mei lalu.

Sejak 1 Juni hingga saat ini, hanya sekali terjadi hujan di wilayah Tegal, yaitu pada 4 Juni, dengan curah hujan 0,7 milimeter. Oleh karena itu, masyarakat harus mulai mengantisipasi terjadinya kekeringan dan kekurangan air.

Sementara itu, sejumlah petani sudah bersiap menghadapi kemarau meski belum semuanya mendapatkan informasi mengenai potensi terjadinya fenomena El Nino. Mereka meminta pemerintah mengelola dan melakukan manajemen ketersediaan air agar tetap cukup untuk mengairi lahan pertanian pada musim kemarau.

Sekretaris Kelompok Tani Sumber Pangan Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Subkhan mengatakan, hingga saat ini para petani di wilayahnya belum mendapatkan informasi mengenai adanya potensi El Nino. Meski demikian, saat ini ketersediaan air untuk pertanian di wilayahnya semakin berkurang.

Menurut Subkhan, menghadapi musim kemarau, petani di wilayahnya sudah menyiapkan beberapa upaya antisipasi, antara lain membuat dan memperbaiki sumur pantek atau sumur bor di tengah sawah.

Meski petani sudah menyiapkan sumur di sawah, mereka meminta pemerintah memperhatikan manajemen pengelolaan air. Pemerintah harus mengelola air secara tepat agar air bisa dihemat dan bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah pada musim kemarau.

Hal itu karena penggunaan air sumur pantek bukan tanpa risiko. Penggunaan air sumur pantek yang berlebihan dan terus-menerus akan berdampak terhadap berkurangnya ketersediaan air di sumur-sumur warga. ”Akibatnya, ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari warga juga akan berkurang,” ujarnya.

Memasuki musim kemarau, petani di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mulai kesulitan mendapatkan air untuk lahan pertaniannya. Dengan kondisi tersebut, saat ini tanaman milik petani terancam gagal panen.

Supandi (50), salah seorang petani asal Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, mengatakan, agar air mengalir ke lahan pertaniannya, dia sering berebut dengan petani lainnya.

”Sekalipun hampir setiap hari datang ke sumber air karena harus berebut dengan banyak orang, saya pernah sama sekali tidak mendapatkan air selama satu minggu,” ujarnya.

Kekurangan pasokan air juga dirasakan Turyadi (43), petani asal Desa Bumirejo, Kecamatan Mungkid. Karena debit air mulai menyusut, sekitar 2 hektar lahan yang digarapnya kini terpaksa hanya ditanami tembakau.

Kepala Desa Bumirejo M Nur mengemukakan, sistem pengairan bergilir ini khusus diterapkan untuk 6,7 hektar lahan yang merupakan sawah irigasi teknis. Meski demikian, pasokan air yang diperoleh tidak mencukupi.

Nellys Soekidi, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia Provinsi DKI Jakarta, menuturkan, antisipasi dini pemerintah adalah hal terpenting saat ini guna menghadapi dampak kemungkinan adanya El Nino.

Sugiono, Asisten Pengelola Bidang Usaha dan Pengembangan Pasar Induk Kramatjati, mengatakan, berdasarkan pengalaman musim kemarau sebelumnya, pasar tidak pernah kekurangan pasokan. (A03/A15/EGI/WIE)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: