Home / Berita / Prediksi El Nino; Musim Kemarau Lebih Pendek

Prediksi El Nino; Musim Kemarau Lebih Pendek

Hujan deras masih mengguyur Jakarta, Selasa (15/7) malam. Meski Prakiraan Musim Kemarau 2014 menyebut Jakarta memasuki kemarau mulai April hingga pertengahan Juni, hingga pertengahan Juli hujan deras masih terjadi. Bahkan, hujan yang terjadi siang hingga malam hari itu mirip pola hujan Januari, saat puncak musim hujan.

ondisi serupa terjadi di sejumlah daerah beriklim monsun lainnya, seperti Jawa, selatan Sumatera, tenggara Kalimantan, dan Bali-Nusa Tenggara.

Sementara itu, hujan deras di sebagian Sulawesi Tengah dan Maluku bagian tengah terjadi karena daerah beriklim lokal tersebut memang sedang menghadapi puncak musim hujan. Di daerah beriklim lokal, pola musimnya terbalik dengan daerah beriklim monsun.

Sejak Maret lalu, prakirawan mengingatkan ada potensi El Nino, yaitu fenomena peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik sekitar khatulistiwa bagian timur dan tengah. El Nino diperkirakan aktif saat suhu laut naik minimal 0,5 derajat celsius, Mei-Agustus.

El Nino akan menarik uap air di sekitar Indonesia sehingga udara di Indonesia akan kian kering. Akibatnya, daerah yang mengalami musim kemarau akan bertambah kering atau musim kemaraunya panjang. Adapun daerah beriklim lokal atau ekuatorial, El Nino akan membuat curah hujan di daerah itu berkurang.

Sejumlah prakirawan memperkirakan dampak El Nino tahun ini akan separah 1997-1998. Saat itu, kekeringan panjang memicu gagal panen dan kebakaran lahan di daerah.

Nyatanya, hingga Juli yang biasanya puncak musim kemarau, hujan deras masih terjadi. ”Ini merupakan pola El Nino yang baru,” kata pengajar Akademi Meteorologi dan Geofisika, Paulus Agus Winarso, di Jakarta, Selasa (15/7).

Pada periode El Nino 1981-1982 dan 1987-1988, sebelum gejala El Nino, sebagian wilayah Indonesia turun hujan dengan intensitas di atas normal. Sementara periode El Nino 1991-1994 dan 1997-1998, terjadi kenaikan suhu permukaan laut hingga 2,9 derajat celsius di Samudra Pasifik.

Hingga kini belum ada tanda El Nino akan aktif. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya menyebut kenaikan suhu di Samudra Pasifik hanya 0,38 derajat celsius pada Juni lalu.

Saat itu diperkirakan El Nino lemah dengan kenaikan suhu 0,5-1 derajat celsius akan terjadi Juli 2014 dan puncak musim kemarau Agustus-November. Datangnya musim hujan diperkirakan akan terlambat satu bulan.

Perairan Nusantara
12660331hBelum aktifnya El Nino membuat uap air di udara Indonesia belum tertarik ke Samudra Pasifik. Pasokan uap air terbesar saat ini berasal dari perairan Nusantara yang suhunya masih cukup hangat.

”Melimpahnya uap air itu akan meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sebagian daerah hingga memicu hujan dengan berbagai intensitas pada awal musim kemarau ini,” kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Kukuh Ribudiyanto.

Situasi itu diperparah lemahnya kekuatan angin muson timur yang kini berembus dari Australia menuju Asia. Akibatnya, uap air yang terbawa angin ini, meski sedikit (angin muson timur bersifat kering) tidak mampu terdorong hingga ke dataran Asia dan akhirnya jatuh di wilayah Indonesia.

”Selain itu, aliran udara basah dari Samudra Hindia semakin menambah kelembaban udara, khususnya di Indonesia barat,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistyo.

Di sisi lain, keberadaan siklon tropis Neoguri di timur Taiwan, awal Juli lalu, menimbulkan hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi di utara khatulistiwa. Siklon tropis ini menjauh dan dampaknya terhadap Indonesia berkurang. Namun, udara basah di Indonesia diperkirakan Widada tetap bertahan selama musim kemarau.

Seiring berbagai kondisi itu, kekeringan selama kemarau tahun ini diperkirakan tidak parah dan meluas. Melimpahnya pasokan dan ketersediaan uap air di udara Indonesia dan kemungkinan lemahnya El Nino membuat musim kemarau diperkirakan lebih pendek dibandingkan biasanya serta menghasilkan musim kemarau ”basah”.

Meski demikian, pantauan cuaca harus terus dilakukan untuk memperbarui prakiraan.

Aktivitas Matahari
Menurut Paulus, belum aktifnya El Nino hingga kini diperkirakan akibat lemahnya aktivitas Matahari. Intensitas radiasi rendah sinar Matahari berdampak global, seperti penurunan suhu di Australia utara yang membuat suhu di Jawa, Minggu (13/7) malam, turun 3-9 derajat celsius dan di Jakarta turun dari rata-rata 31 derajat celsius menjadi 23 derajat celsius.

Namun, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin membantah adanya pengaruh aktivitas Matahari terhadap cuaca ekstrem yang kini terjadi. Siklus 11 tahunan aktivitas Matahari mencapai puncak pada 2013. Kini, menurun.

Oleh: M Zaid Wahyudi dan Yuni Ikawati

Sumber: Kompas, 17 Juli 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: