Home / Artikel / Prospek Gejala Alam El Nino 2015

Prospek Gejala Alam El Nino 2015

Curah hujan sudah mulai berkurang secara meluas di wilayah Indonesia, tiupan angin timur terasa mantap, menandai dimulainya periode musim kemarau.

Kondisi ini sesuai dengan informasi awal musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, yang secara keseluruhan cenderung mendekati kondisi normal.

Namun demikian, karena informasi disusun awal tahun 2015, perlu adanya pembaruan sesuai perkembangan cuaca dan iklim yang terjadi hingga Mei ini.

Tulisan ini seiring dengan perkembangan signifikan setelah suhu muka laut kawasan ekuator Samudra Pasifik timur wilayah Indonesia, menyimpang mendekati atau lebih dari  1 derajat.

Di kawasan ekuator Samudra Pasifik, empat kawasan menjadi tolok ukur akan hadirnya gejala alam El Nino. Kawasan paling barat ekuator disebut kawasan Nino 4, kawasan ekuator bagian tengah disebut kawasan Nino 3, dan kawasan timur terbagi di belahan utara sebagai kawasan Nino 2 dan belahan selatan sebagai kawasan Nino 1.

Apabila dalam pengamatan setiap bulan pada masing-masing kawasan menunjukkan penyimpangan suhu muka laut di atas 1 derajat celsius, berarti telah giat gejala alam El Nino. Pemantauan suhu muka laut pada Mei menunjukkan, mulai Nino 4 di Samudra Pasifik barat, Nino 3 di bagian tengah, dan Nino 1 di bagian timur, terukur penyimpangan suhu muka laut. Hal ini memenuhi kriteria giatnya gejala alam El Nino.

Informasi akan hadirnya gejala alam El Nino telah merebak dan dibahas media massa di Amerika Serikat. Sebaliknya Biro Meteorologi Australia menginformasikan bahwa peringatan dini bahwa gejala alam El Nino dalam kondisi normal. Meski demikian, di situs Biro Meteorologi Australia awal Mei 2015, prakiraan berubah. Disebutkan kondisi El Nino giat, namun tidak ada tingkat kegiatannya (lemah, sedang, dan kuat).

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan, gejala El Nino 2015 akan memberikan konsekuensi dampak yang parah ke semua kawasan Bumi. Dampak itu antara lain kurangnya curah hujan akibat kondisi suhu muka laut dingin di wilayah Indonesia sementara di kawasan ekuator Samudra Pasifik hangat.

Belum pasti
Hal ini sama dengan kondisi 2014 saat beredar informasi gejala alam El Nino 2014 akan giat. Kenyataannya, gejala hangat tidak lebih dari  1-2 bulan dan selebihnya normal.

Tahun 2014, musim hujan berlangsung hingga Juni-Juli, dan mulai lagi akhir November 2014. Berarti informasi tentang akan giatnya gejala alam El Nino perlu pengembangan dan pemahaman lebih saksama.

Pengalaman akan dampak gejala El Nino sebelumnya, seperti 1982-1983, 1987-1988, 1991-1994, 1997-1998, dan 2002-2003, menunjukkan bahwa naiknya suhu muka laut dipicu giatnya bintik Matahari. Periode bintik Matahari giat terjadi pada siklus 19 (1955-1965), siklus 21 (1976-1986), siklus 22 (1987- 1998), dan siklus 23 (1999-2010) dengan kegiatan gejala alam El Nino 2-4 kali per siklus,

Dari pengalaman saat gejala El Nino giat 1982-2002, umumnya diawali dengan meningkatnya curah hujan di musim hujan di wilayah Indonesia dan melemahnya angin pasat di kawasan ekuator Samudra Pasifik.

Kondisi gejala El Nino 2015 yang diinformasikan berbagai pusat informasi iklim negara maju, seperti AS, Inggris, dan Australia, bila disesuaikan dengan lemahnya kegiatan bintik Matahari siklus 24 (periode 2011-2021) perlu menjadi pertimbangan pertama.

Kedua kita cermati kondisi musim hujan 2015 dari akhir November 2014 hingga awal Mei 2015. Apakah curah hujan terukur cukup hebat (misalnya 2 kali jumlah normal musim hujan)? Sepertinya kondisi curah hujan masih dalam kisaran normal atau sedikit di atas normal.

Dari pemantauan angin pasat, tampak bahwa kawasan Samudra Pasifik tengah menunjukkan kondisi angin pasat atau angin timuran dominan bertiup di kawasan Samudra Pasifik barat, sedang di sekitar Papua dominan tiupan angin barat.

Beberapa kegiatan gejala alam El Nino  berdampak pada musim kemarau kering di wilayah Indonesia mulai 1982-1983 hingga 2002-2003. Dampak kondisi kering umumnya diawali dengan giatnya curah hujan di awal tahun. Artinya bila pada 2015 ini akan giat gejala alam El Nino, maka pada periode 2014/2015 curah hujan umumnya melebihi rerata.

Unsur kedua sebagai tolok ukur giatnya gejala alam El Nino adalah melemahnya angin pasat yang bertiup di atas ekuator Samudra Pasifik. Saat giat musim hujan umumnya angin barat mulai dominan bertiup di atas wilayah, khususnya di atas kawasan Papua Barat hingga Papua Niugini. Namun, kenyataannya kondisi angin pasat yang cukup kencang masih bertiup di atas kawasan tropis Samudra Pasifik.

Hanya sesekali, mulai akhir April hingga pertengahan Mei 2015 terpantau angin barat cukup kencang bertiup di atas Papua atau kawasan Samudra Pasifik barat. Dengan naiknya suhu muka laut kawasan ekuator Samudra Pasifik pada akhir April 2015 yang mendekati 1 derajat, secara definitif memang telah berlangsung gejala alam El Nino. Giatnya gejala alam El Nino ini telah digembar-gemborkan pada 2014 oleh media massa internasional. Kenyataannya pada 2014 memang telah berlangsung gejala alam El Nino, namun periodenya cukup singkat.

Apakah pada 2015 gejala alam El Nino yang secara resmi telah diinformasikan oleh pusat informasi iklim negara maju akan berkembang seperti gejala alam El Nino terkuat pada abad ke-21, yaitu pada 1997-1998?

Suatu hal yang jelas dan pasti bahwa gejala alam El Nino yang giat pada periode mulai 1982-1983 hingga periode 2002-2003 umumnya diaktivasi naiknya kegiatan Matahari  yang dapat dicermati dengan jumlah bintik-bintik di permukaan Matahari.

Periode kegiatan gejala alam El Nino 1982-2003 didukung giatnya jumlah bintik Matahari yang pada puncaknya dalam sebulan lebih dari 100-200 bintik, namun dalam periode sejak 2010-2021 yang mencapai puncak pada 2014-2015 menunjukkan kuantitas bintik Matahari kurang dari 100 bintik.

Siklus bintik
Dengan demikian, siklus bintik Matahari periode saat ini 2010-2021 (masuk siklus nomor 24) merupakan periode siklus Matahari terendah bila dibandingkan dengan siklus sebelumnya, yaitu siklus nomor 21 periode 1977-1988, siklus 22 periode 1988-1999, dan siklus 23 periode 1999-2010.

Kondisi siklus Matahari 24 yang kini berlangsung hampir sama kondisinya dengan periode siklus Matahari 20 periode 1966 -1977, di mana saat periode berlangsung tiga kali kegiatan gejala alam El Nino, namun kurang berdampak kondisi kemarau kering, seperti kejadian gejala alam El Nino yang terjadi 1982-2002.

Dari semua penelusuran dengan mencermati pengalaman berlangsungnya peristiwa alam yang tercatat, kesimpulannya adalah gejala alam El Nino memang sedang dan akan berlangsung. Namun, menilik pengalaman kegiatan gejala alam  El Nino 2014, naiknya suhu hanya berjangka tidak lebih dari dua bulan, namun akan berdampak pada kondisi kurang hujan pada periode Agustus-pertengahan November 2014.

Kondisi 2014 mungkin dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk meninjau lebih jauh prakiraan kondisi suhu muka laut. Kawasan perairan Indonesia bagian tengah sebelah timur dan perairan Indonesia bagian timur akan mengalami kondisi suhu rendah atau di bawah normal yang mengisyaratkan peluang kurang hujan ada di sebagian wilayah bagian tengah dan sebagian wilayah timur hingga akhir tahun. Sedangkan wilayah bagian barat dan sebagian bagian tengah sebelah barat sedikit hangat dan peluang hujan cukup banyak hingga normal.

Paulus Agus Winarso, Pengajar Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Mei 2015, di halaman 7 dengan judul “Prospek Gejala Alam El Nino 2015”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Ekstrem di Musim Pancaroba

Hujan ekstrem di sebagian Jawa bagian barat sehingga memicu banjir dipengaruhi kondisi atmosfer yang labil ...

%d blogger menyukai ini: