Home / Artikel / El Nino “Layu Sebelum Berkembang”

El Nino “Layu Sebelum Berkembang”

Memasuki kuartal II tahun 2017, saya menulis ihwal munculnya gejala alam global El Nino yang akan giat pada 2017. Ternyata, dalam perjalanannya, El Nino yang masih prematur itu “layu sebelum berkembang”.

Informasi akan munculnya gejala alam global El Nino ini diperkuat oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO) serta beberapa badan meteorologi di Amerika Serikat, Australia, Inggris dan juga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG) Indonesia.

Informasi tersebut untuk ke depan masih berpeluang terjadi, mengingat gejala alam global El Nino, yang merupakan naiknya suhu muka laut kawasan tropis Samudra Pasifik, dalam perkembangannya terbagi dalam dua kondisi.

Definisi pertama berdasarkan perkembangan kondisi suhu muka laut yang naik hanya di kawasan barat pantai barat Amerika Selatan, sebelum kegiatan meluas hingga kawasan tropis Samudra Pasifik tahun 1982/1983. Artinya gejala alam global El Nino yang terjadi sebelum 1982 hanya disimpulkan dari hangatnya kawasan tropis Samudra Pasifik timur barat di pantai barat Amerika Selatan.

Definisi kedua berdasarkan perkembangan naiknya suhu laut kawasan tropis Samudra Pasifik yang meluas dari timur memanjang ke arah barat hingga kawasan tropis Samudra Pasifik bagian barat sebelah timur.

Perjalanan El Nino
Kondisi gejala alam global yang meluas ini berlangsung mulai 1982 hingga 2007/2008 lalu. Sepertinya kegiatan gejala alam global terakhir yang terjadi tahun 2015 hingga awal 2016 dengan periode pendek merupakan batas kejadian akhir dengan naiknya suhu muka laut yang cenderung menciut kawasan hangatnya dan periode kegiatan gejala alam El Nino yang kian pendek kurang dari 1 tahun (12 bulan).

Periode kegiatan gejala alam global yang terjadi sebelum tahun 1990 cukup mendukung kegiatan pertanian sehingga menghantar negara kita sukses berswasembada beras. Namun, kondisi gejala alam El Nino yang tiba-tiba giat mulai tahun 1990 hingga 1994 (periode kegiatan terpanjang hingga kini) telah memorakporandakan swasembada pangan dalam bentuk iklim kering berkepanjangan.

Setelah itu, gejala alam El Nino yang super giat 1997/1998 melahirkan bencana nasional kebakaran lahan dan hutan. Hal ini kian memperpuruk upaya pemulihan kondisi kemandirian pangan. Situasi ini terus berlanjut hingga gejala alam global El Nino yang terjadi tahun 2007/2008.

Kejadian terakhir kegiatan El Nino adalah Agustus 2015 hingga April 2016, yang periodenya cenderung lebih pendek dari beberapa kegiatan sebelumnya.

Dari penelusuran diketahui kegiatan sebelum era 1980 cenderung dengan kondisi kawasan suhu muka laut hangat hanya di bagian timur kawasan tropis Samudra Pasifik.

Mulai tahun 1980 hingga 2010, kegiatan El Nino cenderung kembali pendek dengan kawasan yang hangat di Samudra Pasifik. Hal serupa terjadi pada periode jelang akhir 2015 hingga awal 2016. Hal ini mengisyaratkan bahwa kondisi gejala alam global El Nino cenderung berubah kembali ke kondisi lama.

Kondisi ini tak lepas dari aktivitas sang sumber panas, yaitu Matahari. Dalam menentukan periode iklim, para ahli menganjurkan hitungan periode terpanjang 30 tahun.

Dalam berbagai osilasi yang dipantau seperti kawasan Samudra Pasifik Utara dengan Osilasi Pasifik Dekade (Pacific Decadal Oscillation) dan kawasan Samudra Atlantik dengan Atlantik Utara Osilasi (North Atlantic Oscillation), nilai fluktuasi suhu dan tekanan udara terjadi di Samudra Pasifik dan Atlantik Utara menunjukkan adanya periode 30 tahunan dengan periode hangat dengan kondisi tekanan rendah dan periode dingin pada kondisi tekanan tinggi.

Kondisi osilasi dengan periode 30 tahunan juga mendukung dan memperkuat dalam menentukan perkembangan kegiatan gejala alam El Nino. Dengan menggunakan pandangan dan wacana periode iklim 30 tahunan, kita akan diantar pada penilaian dari berbagai kegiatan gejala alam El Nino dari 1950 hingga kini.

Dari periode 1950 hingga 1980 kemungkinan kegiatan gejala alam El Nino dengan konsekuensi dampak kurang karena kawasan hangat di Samudra Pasifik kurang giat dan meluas.

Periode 1981-2010 adalah kondisi gejala alam El Nino dengan kawasan hangat di Samudra Pasifik, meluas hingga kawasan tengah dan barat dan dengan kenaikan suhu 1-4 derajat dari rerata/normal suhu muka laut bulanan tiap kawasan. Penyusunan dan perhitungan sederhana ini dapat digunakan untuk menentukan kehadiran El Nino atau tidak.

Kondisi basah
Seiring perkembangan yang terjadi tahun 2010 hingga mungkin 2040, kondisi basah akibat sering terjadinya hujan yang turun sepanjang tahun seyogianya menjadi pertimbangan. Menjelang Idul Fitri dan saat perayaan Idul Fitri, hadir hujan ringan hingga lebat diikuti petir. Ini merupakan kondisi langka.

Namun, pada periode 2011 hingga 2050, tampaknya kondisi ini akan semakin sering terjadi pada musim kemarau. Menarik untuk dikaji, kondisi cuaca dan iklim di Tanah Air ke depan mungkin berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya cuaca dan iklim.

Yang jelas, belajar dari kejadian tahun 2016 saat memasuki musim kemarau dengan maraknya bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, kita perlu mengantisipasi kejadian serupa pada tahun-tahun mendatang. Semua ini merupakan lanjutan periode kondisi iklim yang basah, lawan dari kondisi periode 1980-2010 yang kering.

Latar belakang dari kejadian El Nino 2017 yang batal atau prematur atau periode kegiatan kegiatan El Nino yang pendek kurang dari satu tahun, tidak lepas dari kegiatan bintik matahari. Kehidupan di Bumi sangat bergantung pada pancaran radiasi energi gelombang elektromagnet dari proses fisi dan fusi di permukaan Matahari.

Giat dan lemahnya proses fusi dan fisi ini dapat diukur dari jumlah bintik dan ledakan di permukaan Matahari. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah mengukur dan menyusun ledakan ataupun jumlah bintik matahari (sunspots). Hasil analisis menunjukkan, kegiatan El Nino cenderung berkorelasi dengan aktivitas bintik matahari.

Korelasi El Nino
Apabila dalam suatu siklus sang Surya dengan rerata 11 tahun, saat puncaknya ada lebih dari 100 sunspots/bulan, umumnya gejala El Nino akan giat. Namun, apabila kegiatan jumlah sunspots berkurang atau kurang dari 50 sunspots/bulan, gejala alam El Nino akan lemah.

Pada periode 1980-2010, ada tiga siklus sunspots dengan puncak kegiatan di atas 100 sunspots/bulan. Bahkan pada periode 1991-2000, dua siklus sang Surya di atas 100-200 sunspots/bulan. Kini siklus sang Surya menuju kondisi minimum, kurang dari 30 sunspots/bulan.

Tahun 2015/2016, aktivitas tidak mencapai 100 sunspots/bulan, dan kini memasuki 2017 cenderung turun seiring dengan meluruhnya kegiatan gejala alam global El Nino.

Dari informasi yang tersedia di situs Biro Meteorologi Australia dengan jarum penunjukan kondisi El Nino, normal, dan La Nina, diketahui akhir Juni 2017 jarum kembali ke kondisi normal. Kondisi ini berbeda pada April-awal Juni 2017 dengan jarum antara Normal-El Nino dengan kecenderungan El Nino atau El Nino Watch. Hal ini sesuai dengan informasi prakiraan dari sejumlah pusat prakiraan iklim, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Korea, Jepang, dan Australia.

Dari kecenderungan ini dan menilik periode kondisi iklim 30 tahunan, wilayah yang sepertinya telah memasuki musim kemarau akan diselingi penyimpangan berupa turunnya hujan di beberapa kawasan. Komunikasi dengan BMKG akan membantu mengantisipasi situasi ini.

PAULUS AGUS WINARSO, Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Juli 2017, di halaman 7 dengan judul “El Nino “Layu Sebelum Berkembang””.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Tinggi Indonesia dalam Masa Pancaroba

Dalam keadaan kini, saat kita semua merasa tertekan oleh pembatasan yang dikenakan karena Covid-19, dunia ...

%d blogger menyukai ini: