Home / Berita / Gejala Kurang Hujan Mulai Tampak

Gejala Kurang Hujan Mulai Tampak

Informasi Iklim Terus Diperbarui untuk Akurasi
Sejak awal Mei, beberapa wilayah telah mengalami curah hujan di bawah normal. Kondisi kurang hujan kemarau tahun ini diperkirakan mencapai puncaknya bulan Agustus. Kurang hujan saat ini menonjol di Sumatera.

“Kurang hujan, terutama dialami wilayah yang berada di selatan khatulistiwa,” kata Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Widada Sulistya, di Jakarta, Jumat (15/5).

Bulan Juni, sebagian besar zona musim di Indonesia diperkirakan sudah memasuki kemarau. Zona musim untuk menyebut daerah-daerah dengan batas musim yang jelas.

BMKG memprakirakan, pada bulan Juni, sebagian besar Sumatera, seluruh Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara masih akan mengalami sedikit curah hujan. Hujan berkategori rendah, yaitu dalam waktu sebulan curah hujan berkisar 0 milimeter hingga 100 milimeter.

Meski diprakirakan masih mengalami hujan, saat ini Bali dan Nusa Tenggara dilaporkan sudah tidak hujan dalam 20 hari terakhir. Adapun di beberapa bagian di pantai utara Jawa, antara lain Indramayu, sudah tidak hujan 5-10 hari terakhir.

Kondisi kurang hujan juga akan dialami Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian selatan terutama Merauke. Adapun daerah yang akan mengalami sifat hujan di bawah normal pada Juni adalah Papua bagian selatan dan tengah serta Kalimantan bagian barat dan tengah. “Kondisi cuaca ini berlanjut hingga Juli,” ujar Widada.

Gejala El Nino
Prediksi BMKG dan sejumlah lembaga meteorologi dunia menunjukkan, dengan melihat kondisi laut dan atmosfer, peluang terjadi El Nino di Samudra Pasifik mencapai 90 persen. Jika benar terjadi, fenomena itu bisa memberi dampak curah hujan berkurang bagi sebagian wilayah Indonesia, khususnya di selatan khatulistiwa. Namun, BMKG memantau 15-30 hari ke depan.

El Nino adalah fenomena peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik sekitar khatulistiwa bagian timur dan tengah akibat sistem interaksi laut dan atmosfer. “Karena peluangnya sudah 90 persen, terjadinya El Nino bisa dikatakan tinggal menunggu waktu,” kata Kepala Subbidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG Ardhasena Sopaheluwakan.

Saat ini, baru Australia-melalui badan meteorologinya, Bureau of Meteorology-yang menyatakan sudah memasuki fase El Nino. Instansi meteorologi dunia lain, termasuk BMKG, masih menunggu kepastian yang lebih kuat dari indikator, baik anomali suhu muka laut maupun pola angin pasat di ekuator pasifik.

acdbed7d6f3b4f77abd4bbefef0aa1cbJika kondisi angin, laut, dan atmosfer terus bertahan seperti saat ini, El Nino diperkirakan mulai muncul dan berpeluang bertahan hingga kuartal keempat (Oktober-Desember) tahun ini. Ardhasena menyatakan, BMKG dan sejumlah instansi meteorologi dunia masih harus memastikan bahwa respons atmosfer itu tidak hanya bersifat sesaat, yakni setidaknya berlangsung selama beberapa bulan.

“Kita tunggu setengah bulan hingga satu bulan lagi untuk memastikan El Nino,” ujarnya.

Tak parah
Meskipun El Nino masih dalam pemantauan, menurut Widada, dampaknya tak akan separah tahun 1997. Saat itu, kekeringan panjang memicu kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan, yang menempatkan Indonesia sebagai emitor karbon dioksida besar.

Terkait potensi El Nino dan dampaknya, Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG Evi Lutfiati mengatakan, pihaknya rutin memperbarui data bagi pengguna informasi, termasuk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. “Kami mengirim informasi ke Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi sehingga jika El Nino terjadi, Balitbangtan bisa menyesuaikan kalender tanam serta menentukan komoditas tanaman yang sesuai,” tuturnya. (YUN/JOG)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Mei 2015, di halaman 14 dengan judul “Gejala Kurang Hujan Mulai Tampak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: