Home / Artikel / Kaleidoskop Gejala Alam

Kaleidoskop Gejala Alam

Keragaman dalam kurun yang tidak terlalu lama merupakan situasi dan kondisi cuaca dan iklim 2017. Hal ini akibat perkembangan kondisi gejala alam global yang memengaruhi kawasan tropis.

Keragaman cuaca dan iklim antarmusim dalam dunia cuaca dan iklim kini dikenal dengan Osilasi Madden Julian (MJO). Kegiatan MJO merupakan ekskresi dari berbagai gelombang di troposfer yang membentuk situasi dan kondisi cuaca dan iklim kawasan tropis.

MJO merupakan gambaran golakan atau dinamika udara kawasan tropis yang bergelombang dan juga bagian interaksi laut– udara yang umumnya membentuk kawasan awan dan hujan yang giat. Umumnya dalam tipe dan jenis awan konvektif yang menjulang tinggi, baik awan kumulus maupun kumulonimbus.

Jenis awan kumulonimbus (Cb) menghasilkan tiga kondisi badai berupa hujan lebat dengan intensitas curah hujan minimal 1 milimeter per detik atau setara 1 liter volume air hujan untuk kawasan datar seluar 1 meter persegi; angin kencang atau badai dengan kecepatan terendah 34 knot atau sekitar 70 kilometer per jam, dan badai petir atau petir yang bersahut-sahutan.

Keberadaan awan konveksi yang berkembang menjadi awan badai telah hadir pada lingkungan wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) yang secara lanskap juga berubah banyak dengan pembangunan hunian dan prasarana lain.

Kota pusat panas
Naiknya jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan membuat lahan terbuka hijau dengan pohon-pohon besar semakin berkurang. Konsekuensi perubahan tata guna lahan dengan kian meluasnya hutan beton berdampak pada isu kota sebagai pusat panas (urban heat island).

Penulis pernah mengkaji data di kawasan ibu kota Jakarta antara 1971 dan 1980. Ternyata kondisi heat island sudah terjadi. Di pusat kota terdapat isoterm (garis yang menghubungkan suhu yang sama) tertinggi yang dengan kawasan pinggiran beda 1–2 derajat. Hadirnya pengaruh urban heat island (UHI) sepertinya telah merebak dan meluas di kawasan BMI. Hal ini terkait dengan situasi dan perkembangan kondisi dinamika udara global yang terjadi selama 2017.

Perkembangan kondisi global masuk kriteria pasca-gejala alam La Nina hingga normal yang berlangsung mulai awal hingga kuartal ke-2 tahun 2017. Memasuki kuartal ke-2 hingga awal kuartal ke-3, yaitu bulan Juli 2017, giat mirip gejala El Nino yang sempat menghambat kondisi awan di kawasan selatan ekuator mulai dari Lampung hingga Nusa Tenggara Timur; memasuki kuartal ke-3 hingga periode akhirnya kondisi dinamika udara global kembali normal. Memasuki kuartal ke-4 kembali menguat gejala alam La Nina yang berkembang hingga akhir tahun 2017.

Demikianlah kaleidoskop kondisi dinamika udara global dengan rincian setelah kegiatan La Nina hingga normal, lalu sekitar pertengahan tahun dengan dinamika udara mirip gejala alam El Nino yang dampaknya hanya di kawasan selatan ekuator, dan masuk kuartal ke-3 dengan kondisi dinamika udara yang kembali normal. Akhir tahun atau kuartal ke-4 tahun 2017, gejala alam La Nina kembali giat.

Dipicu MJO
Kaleidoskop dinamika udara global ini melahirkan keragaman cuaca dan iklim, dengan kehadiran berbagai gelombang atmosfer kawasan tropis pembentuk dinamika udara yang dipicu MJO.

MJO telah dikembangkan oleh negara adidaya, seperti Amerika Serikat dengan Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA) dan negara tetangga terdekat Australia. Kajian para peneliti kedua negara menunjukkan, MJO umumnya giat saat dinamika udara global terjadi gejala alam La Nina dan normal. Sedangkan pada saat kegiatan gejala alam El Nino, kegiatan MJO akan kurang giat seiring kondisi suhu muka laut kawasan BMI umumnya lebih rendah dari normalnya (dingin).

Kondisi MJO giat umumnya saat La Nina giat dan berkurang kegiatannya saat normal dan lemah saat giat gejala alam global El Nino. Lebih lanjut lagi MJO merupakan osilasi antarmusim (intraseasonal) yang merupakan pemicu terjadi keragaman cuaca dan iklim kawasan tropis, khususnya kawasan BMI dalam kurun mingguan hingga bulanan. MJO dapat diindikasi sebagai keragaman antara kehadiran liputan awan konvektif dan hujan lebat/badai serta kondisi cerah-berawan di sekitar kawasan tropis yang berulang 30-60 hari.

Dari rincian kaleidoskop dinamika udara global itu, memicu kehadiran MJO yang cukup nyata selama 7-10 hari di kawasan BMI awal Januari, akhir Februari, dan pertengahan Maret 2017.

Bulan April awal kuartal ke-2, MJO giat di kawasan ekuator Samudra Pasifik Timur dan kawasan Amerika Tengah (tempat mulai giatnya gejala alam El Nino). Bulan Mei sebagai bulan kedua kuartal ke-2 giat pada akhir bulan dan disusul giat pada akhir Juni 2017.

Memasuki kuartal ke-3, MJO giat pada akhir Juli dan September 2017 dan di sepanjang kuartal ke-4. Sepertinya dominasi kegiatan MJO cukup dominan seiring perkembangan dinamika udara gejala alam La Nina, normal, dan El Nino.

Giatnya awan konveksi penghasil badai, khususnya hujan lebat, telah memberi konsekuensi marak dan merebaknya bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Spesial untuk kejadian badai tropis Cempaka yang giat mulai 27 November 2017 dan badai tropis Dahlia giat 29 November 2017 di selatan dan barat daya Pulau Jawa juga kontribusi dari MJO. Ini karena selama November hingga awal Desember, MJO giat di kawasan BMI.

Bagaimana dengan perkembangan angin muson atau angin musim yang dulu cukup dikenal oleh kalangan masyarakat, khususnya umum, petani, dan nelayan? Sepertinya angin musim yang terjadi dan berkembang kian tidak beraturan akibat perkembangan peredaran udara yang berubah seiring tiupan angin dalam arah tetap lebih dari sebulan langka terjadi. Hal ini disebabkan oleh kontras atau perbedaan tekanan belahan bumi utara (BBU) dan belahan bumi selatan (BBS) kawasan BMI yang hampir homogen atau sama yang terjadi dalam kurun waktu lebih dari 7 tahun (catatan pribadi sejak 2010).

Saat itu ditandai dengan kawasan daerah konvergensi antar-tropis (DKAT) yang tak bergeser ke arah BBU, berlanjut dengan pertumbuhan badai tropis, baik di kawasan BBU maupun BBS yang tidak beraturan, seperti badai tropis Kai Tak yang giat pada medio Desember 2017 di kawasan Filipina. Sebelumnya hadir badai tropis Cempaka dan Dahlia.

Prospek 2018
Prospek kondisi untuk tahun 2018 disusun berdasarkan perkembangan kegiatan pancaran radiasi matahari yang diwakili dengan prakiraan bintik-bintik matahari (sunspot). Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memprakirakan sunspot sedang menuju kondisi minimum.

Giatnya sunspot akan memicu giatnya dinamika udara global El Nino. Sunspot yang menuju kondisi minimum berkaitan dengan giatnya La Nina selama periode 2017 terdapat jumlah bintik matahari kurang dari 25 dan selama 2018 diprakirakan kurang dari 20-15 sunspot.

Dengan demikian, situasi dan perkembangan dinamika udara global La Nina hingga normal sepertinya akan berlanjut dan memicu keragaman cuaca dalam skala mingguan hingga bulanan.

Sepertinya MJO akan sangat giat pada awal hingga pertengahan 2018 dan mulai pertengahan tahun 2018 berkurang. Akhir tahun 2018, MJO diprakirakan akan sedikit giat meski kegiatan akan sama dengan awal 2018.

Perhitungan akan prakiraan ini bersifat pribadi dan mungkin untuk menjadi bahan pertimbangan dalam menyikapi situasi dan perkembangan kondisi keragaman cuaca dan iklim yang kini berlangsung dan berkembang untuk masa mendatang.

Dalam menyusun informasi ini, berbagai pusat informasi iklim dunia dilibatkan, termasuk BMKG, NASA, serta Australia dengan BoM dan Amerika Serikat dengan CPC-NOAA-nya.

Semoga kaleidoskop singkat tentang kondisi cuaca dan iklim 2017 yang ditandai dengan giatnya pemicu cuaca dan iklim beragam MJO menjadi pertimbangan dalam menyikapi kondisi alam, khususnya cuaca.

PAULUS AGUS WINARSO, Praktisi Cuaca dan Iklim; Dosen STMKG

Sumber: Kompas, 20 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: