Home / Artikel / Misteri “Java Man”

Misteri “Java Man”

SEJARAH perkembangan manusia purba di Pulau Jawa yang dimulai sekitar 1,5 juta tahun lalu telah dibuktikan oleh para ilmuwan. Dalam evolusi manusia, “java man” adalah kerabat dekat manusia modern. “Java man” ditemukan pertama kali oleh Eugene Dubois tahun 1891.

Sebelum menemukan fosil tempurung kepala (cranium) dan tulang paha tengah (femur), Dubois memulai pencariannya dengan konsep. Ada 3 dasar teori yang digunakan sebagai acuan sekaligus untuk meyakinkan pemerintah kolonial Belanda, bahwa pencarian missing link dalam mempelajari evolusi manusia penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Pertama, seperti halnya dengan Darwin, Dubois percaya bahwa evolusi manusia berasal dari daerah tropika. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya rambut pada tubuh manusia purba yang hanya dapat ditoleransi di daerah tropika yang hangat.

Kedua, Dubois mencatat bahwa dalam dunia binatang, pada umumnya mereka tinggal di daerah geografi yang sama dengan asal nenek moyangnya. Dari segi biologi, binatang yang paling mirip dengan manusia ialah kera besar. Maka nenek moyang kera besar diduga mempunyai hubungan kekerabatan (kinship) yang dekat dengan manusia.

Charles Darwin dalam bukunya The Descent of Man (1871) mengatakan, manusia lebih dekat dengan kera besar di Afrika seperti gorila dan simpanse. Dalam hal ini Dubois berbeda dengan Darwin, ia percaya bahwa Asia Tenggara merupakan asal usul manusia karena di sana ada orangutan dan siamang. Menurut dia, juga didukung oleh beberapa ahli seperti Wallace dan Lyell, orangutan dan siamang lebih dekat hubungannya dengan manusia dibanding gorila dan simpanse.

Alasan ketiga, Dubois mengikuti perkembangan penemuan fosil rahang atas dari sejenis kera seperti manusia yang ditemukan di Bukit Siwalik, India pada tahun 1878. Kalau di India ditemukan fosil semacam itu, maka terbuka kemungkinan penemuan fosil selanjutnya di Jawa.

Berlandaskan ketiga dasar teori tersebut, Dubois berhasil dalam dua hal. Pertama, meyakinkan pemerintah untuk mendukung proyeknya.

Keberhasilan kedua adalah ditemukannya fosil “java man” atau Pithecanthropus erectus, sekarang lebih dikenal dengan nama Homo erectus di Trinil (Jawa Timur). Saat ini Homo erectus dipercaya merupakan salah satu kerabat dekat manusia modern (homo sapiens).

Berdasarkan analisis para ahli dari Berkeley dengan menggunakan metode mutakhir argon-40/argon-39 (laser-incremental heating analyses), diduga umur fosil tersebut sekitar 1 juta tahun. Hasil pengukuran yang melibatkan tim peneliti dari Indonesia itu, pernah dipublikasi dalam majalah ilmiah bergengsi Science vol 263 (1994).

Walau begitu, ada juga kegagalan Dubois yang dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi bermakna. Dalam bukunya yang berjudul Java Man (2000), Carl C Swisher et al menganalisis kegagalan Dubois. Salah satu kelemahan Dubois adalah di missing link, yang menyebutkan mata rantai kera-manusia telah terjawab dengan ditemukannya “java man”. Pendapat itu keliru karena penemuan-penemuan selanjutnya fosil manusia purba di Sangiran (Jawa Tengah), Mojokerto (Jawa Timur), juga di Cina dan Tanzania ternyata jauh lebih tua sekitar 500.000 sampai 750.000 tahun dibanding temuannya.

Selain itu ada kesalahan teori Dubois mengenai volume otak yang meningkat 2 kali lipat sebanding dengan peningkatan ukuran tubuh.

Menurut Dubois volume otak fosil “java man” sekitar 700 cm3, kurang lebih setengah dari volume otak manusia modern yang sekitar 1.350 cm3. Teori tersebut runtuh karena volume otak “java man” berdasarkan penghitungan yang lebih akurat adalah sekitar 900 cm3. Sebagai pembanding pada kera besar yang ada sekarang, simpanse misalnya, volume otaknya sekitar 400 cm3. “Java man” terlalu pandai untuk mengisi missing link kera-manusia, ia lebih tepat disebut manusia purba.

Perkembangan manusia
Ada dua teori yang berhubungan dengan perkembangan manusia modern (Homo sapiens). Teori pertama dikenal dengan nama “out of Africa”.

Teori tersebut berdasarkan hipotesis bahwa manusia modern berasal dari Afrika. Teori kedua bertentangan dengan yang pertama, dikenal dengan nama “multiregional”. Prinsipnya manusia modern berasal dari kerabatnya, “java man” (Homo erectus), yang menyebar secara bersamaan ke seluruh dunia.

Bukti-bukti penelitian genetika mengenai variasi DNA dalam inti sel dan mitokondria manusia modern, ternyata lebih mendukung teori “out of Africa”. Bukti baru mengenai manusia modern yang berevolusi dari Afrika pernah dimuat Kompas dalam Laporan Iptek 12 Mei 2001. Itu artinya fosil “java man” yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak mempunyai hubungan langsung dengan manusia modern.

Namun Homo erectus yang pernah tinggal di Pulau Jawa mempunyai sejarah menarik karena dapat bertahan sekitar 250.000 tahun lebih lama dari jenis yang sama yang tinggal di tempat lain di Asia, bahkan mungkin bertahan sekitar 1 juta tahun lebih lama dari yang tinggal di Afrika. Umur fosil Homo erectus terakhir yang ditemukan di Ngandong dan Sambungmacan (Jawa Tengah) sekitar 30.000 sampai 50.000 tahun. (Swisher et al, 1966 dalam Science vol. 274). Homo erectus (“java man”) di Pulau Jawa diduga pernah hidup dalam waktu yang bersamaan dengan Homo sapiens (manusia modern).

Sampai saat ini penyebab kepunahan “java man” masih misteri. Diduga salah satu penyebabnya ialah karena keterbatasan strategi hidup mereka. Tidak ditemukannya peralatan dari batu (misalnya untuk membelah daging atau untuk berburu) di sekitar fosil mereka menunjukkan bahwa kehidupannya masih sangat primitif. Diduga mereka memakan daging dari binatang yang telah mati (scavenger). Kolonisasi Homo sapiens yang berasal dari Afrika berhasil, karena mereka punya strategi hidup yang lebih baik dibanding penduduk asli Homo erectus.

Dalam buku Tony Whitten, Roehayat Soeriatmadja dan Suraya Afiff, The Ecology of Java and Bali (1996), dikatakan bahwa penduduk “asli” pertama Pulau Jawa (Homo sapiens) mungkin mirip dengan suku Aborigin di Australia yang berasal dari Indonesia sekitar 40.000 tahun lalu.

Mereka disebut Australoid dan kemudian tersingkir oleh pendatang dari Asia Tenggara yang mempunyai kebudayaan dan adaptasi yang lebih baik sebagai pemburu. Keturunannya tidak ada yang dapat hidup di Jawa tetapi mereka saat ini dapat ditemukan sebagai suku Anak Dalam atau Kubu di Sumatera Tengah dan Indonesia bagian timur.

Kemudian sekitar 3.000 – 5.000 tahun lalu, arus pendatang selanjutnya yang disebut proto-Malays datang ke Pulau Jawa. Keturunan mereka saat ini dapat dijumpai di Kepulauan Mentawai Sumatera Barat, Tengger di Jawa Timur, Dayak di Kalimantan, dan Sasak di Lombok.

Setelah itu, arus pendatang yang disebut Austronesia atau deutero-Malays yang berasal dari Taiwan dan Cina Selatan, datang lewat laut ke Pulau Jawa sekitar 1.000-3.000 tahun lalu. Sekarang keturunannya banyak tinggal di Indonesia sebelah barat dengan keahlian bercocok tanam padi, pengairan, membuat barang tembikar/pecah-belah dan kerajinan dari batu, seperti ditulis oleh Koentjaraningrat dalam bukunya Javanese Culture (1985).

Pulau Jawa yang luasnya sekitar 130.000 km2 dengan kepadatan penduduk sekitar 120 juta orang, ternyata masih lebih rendah dari yang diperkirakan oleh MacLeish dalam artikelnya yang berjudul Java: Eden in Transition (1971).

MacLeish memperkirakan, penduduk Pulau Jawa akan menjadi 160 juta pada tahun 2000. Perkiraan tersebut keliru karena program Keluarga Berencana dan transmigrasi, sehingga daya dukung lingkungan salah satu pulau yang terpadat di dunia ini dapat dipertahankan. Ini patut disyukuri, karena Pulau Jawa mempunyai sejarah peradaban panjang, sayang kalau mengalami kemunduran.

(Bintoro Gunadi, peneliti tamu di College of Biological Sciences, Ohio State University USA)

Sumber: Kompas, Minggu, 23 September 2001

Share
%d blogger menyukai ini: