Peneliti Telusuri Usia “Pithecanthropus erectus”

- Editor

Senin, 15 Agustus 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fokus ke Lingkungan Tempat Tinggal Manusia Purba Trinil
Tim peneliti gabungan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Universitas Leiden, Badan Geologi Bandung, serta Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mencoba menelusuri misteri usia dan ekologi Pithecanthropus erectus di Trinil, Ngawi, Jawa Timur.

Hasil penanggalan sedimen dalam salah satu kerang yang ditemukan Eugene Dubois pada 1908 di Trinil menunjukkan perkiraan usia 430.000-540.000 tahun. Namun, belum jelas berapa, usia dan bagaimana kondisi lingkungan Pithecanthropus erectus yang fosilnya ditemukan Dubois pada lapisan tanah yang sama dengan kerang tersebut.

”Bagaimana figur manusia purba Pithecanthropus erectus bisa diketahui dari morfologi tengkorak, gigi, serta tulang pahanya. N amun, hingga sekarang berapa umur pasti dari manusia purba tersebut belum
Diketahui, apalagi saat Dubois datangke Trinil belum ada teknologi untuk mengetahui umur fosil,” kata arkeolog Puslit Arnas Shinatria Adhityatama, Minggu (14/8) saat dihubungi dari Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada 1891 silam, di Trinil, di tepian Bengawan Solo, Dubois memukan atap tengkorak dan gigi geraham manusia bercorak primitif. Disebut primitif karena tengkorak itu hanya memiliki volume 950 cc, atau berada di antara kapasitas otak kera dan manusia.

Setahun kemudian, ia juga. menemukan tulang paha yang menicirikan pemiliknya telah berjalan tegak sehingga kemudian dinamai Pithecanthropus erectus (manusia kera berjalan tegak).

Temuan inilah yang kemudian, menggemparkan dunia pada 1932 saat para ilmuwan meyakini bahwa temuan Dubois menerangkan proses evolusi manusia sebelum mencapai bentuk sebagai manusia modern atau Homo sapiens.

Pengungkapan fosil manusia kera berjalan tegak ini menjawab misteri mata rantai yang hilang (missing link) yang dulu memperkirakan asal-usul manusia dari kera, tetapi tidak pernah ditemukan bagaimana bentuk perubahan evolusinya. Meski fosil tengkorak, gigi, dan tulang paha Pithecanthropus erectus telah ditemukan, hingga sekarang usia pasti manusia purba tersebut belum pernah diteliti.

Lokasi yang sama
Tahun lalu, peneliti dari Universitas Leiden, Belanda, Josephine CA Joordens, dan peneliti Australian National University, Stephen Munro, berhasil mendeteksi usia sedimen salah satu kerang dari 166 kerang yang ditemukan Dubois pada 1908 silam di Trinil, yaitu sekitar 430.000-540.000 tahun Ialu. Yang paling menarik adalah ditemukan semacam ukiran bermotif geometris zig-zag pada kerang tersebut.

”Setelah memotret detail semua koleksi Dubois di Naturalis Museum, Leiden, Munro berhasil menemukan satu kerang khusus dengan guratan-guratan simbolis di permukaannya dan kerang berukir tersebut berada pada satu lapisan, tempat Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil,” kata Jose.

Menurut Jose, goresan di permukaan kerang itu terlihat teratur. Peneliti memperkirakan, selain memakan isi kerang, manusia purba di Trinil juga memanfaatkan kerang itu untuk beraktivitas.

Fokus
Kali ini, tim gabungan akan meneliti secara lebih detail seputar lingkungan tempat tinggal manusia purba trinil, mulai dari sisi biogeografi (penyebaran tumbuhan dari binatang secara geografis), taphonomy (proses pembentukan fosil), ekologi, kebiasaan hidup, hingga gugus kromosomnya.

Penelitian ini sudah direncanakan jose sejak tahun lalu sembari menunggu musim kemarau datang karena situs tempat penemuan fosil berada di area Bengawan Solo yang sering terendam.

Menurut Jose, penggalian direncanakan mencapai kedalaman 10-12 meter tepat di tempat Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus pada 1891. Namun, ekskavasi terkendala karena kawasan Trinil berulang kali diguyur hujan deras meski bulan ini masih tergolong musim kemarau.

”Yang kami lakukan akhirnya melakukan pendataan sebisanya di sekitar kawasari tersebut karena Situs Dubois di pinggir Bengawan Solo masih terendam air dengan kedalaman 3-4 meter. Kami bahkan kemarin sampai membawa alat selam segala,” ujar Shinatria. (ABK)

Sumber: KOMPAS, 15 Agustus 2016

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 68 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB