Home / Berita / Teori Baru Homo Sapien

Teori Baru Homo Sapien

Status homo erectus soloensis, atau Manusia Jawa sebagai manusia tertua di Asia, ternyata tidak bertahan lama. Tepat di penghujung 1995 lalu, setelah menyelesaikan penggalian di Gua Longgupo, provinsi Sichuan, Cina, sejumlah pakar sampai pada kesimpulan bahwa fosil yang mereka temukan adalah homo habilis yang berusia dua juta tahun. Atau dua kali lipat usia fosil Manusia Jawa. Bersama temuan ini teori lama tentanga migrasi manusia pertama dan evolusi selama perjalanannya pun gugur.

Ketika ditemukan tahun 1891 oleh Eugene Dubois, fosil manusia Jawa memang menjadi pembuka jalan munculnya teori evolusi manusia. Fosil temuan pakar antropologi purbakala Perancis itu menunjukkan manusia bajalan tegak lebih dulu, sebelum kepalanya dan otaknya berkembang dan kompleks. Menggunakan nama homo erectus. Dubois –didukung sejumlah pakar lainnya– sampai pada kesimpulan Manusia Jawa sebagai direct ancestor manusia modern.

Sejumlah temuan lain di Cina antara tahun 1920 sampai 1930 memperkuat teori ini. Bahkan muncul anggapan, homo erectus menyebar ke seluruh Asia dari satu juta tahun sampai 250 juta tahun. Namun, sejumlah pakar lain juga mempertanyakan dari mana mereka berasal? Apakah homo erectus berasal dari Afrika?

Temuan-temuan lain setelah masa itu juga belum bisa menjawab pertanyaan ini. Tetapi, melihat periode panjang perjalanan manusia purba untuk sampai ke Asia, muncul anggapan lain bahwa evolusi manusia purba berlangsung dalam perjalanannya. Ini diperkuat dengan konsensus tahun 1970 yang mengatakan, betapa homo erectus mengalami periode panjang evolusi dari spesies awal di Afrika, sebelum bermigrasi ke Asia kira-kira satu juta tahun lalu.

Konsensus ini pun tidak berlangsung lama. Tahun 1994, muncul sejumlah hipotesis yang menyebutkan awal keberadaan manusia di Asia jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Jelasnya, bukan satu juta tahun, dan berevolusi tidak dalam waktu 750 ribu tahun. Karena usia dua fosil homo erectus saja 1,6 dan 1,8 juta tahun.

Puncak perdebatan terhadap teori ini terjadi awal tahun 1995. Ketika itu situs baru berisi fosil manusia purba ditemukan diperbatasan barat benua Asia-Eropa, atau di Republik Georgia. Hasil penelitian pakar purbakala menunjukkan usia situs isinya 1,8 juta tahun.

Temuan lebih spektakuler lagi muncul beberapa bulan kemudian. Yaitu di Gua Longgupo, di Provinsi Sinchuan Cina.Di dalam gua yang oleh penduduk setempat disebut Gua Tulang Naga ini ditemukan fosil pra-homo erectus yang lebih primitif, Iengkap dengan peralatan batunya. Upaya mengungkap misteri evolusi manusia purba pun dimulai.

Sejenak melihat ke belakang, Gua Langgupo sebetulnya telah lama menyita perhatian pakar purbakala. Pertama kali disurvei tahun 1984 ketika sebuah tim dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoantropology (IVPP) dan Chonqing Museum of Natural History melakukan penggalian besar-besaran. Tim dipimpin Huang.

Saat itu dikumpulkan 10 ribu spesimen fosil mamalia, serta 750 fosil tulang yang panjang-panjang. Fosil lain yang menrarik perhatian Huang adalah milik binatang mamalia besar-besar yang menyebabkan ia mempertanyakan bagaimana fosil ini bisa berakumuIasi.

Keterbatasan peralatan di laboratorium, dan fasilitas lainnya menyebabkan Huang gagal sampai pada kesimpulan berapa usia fosil temuannya.

Huang Wanpao-Gu Yimin tidak kehabisan akal. Keduanya menemui Russel Chiochon di sebuah hotel di Beijing. Ia membawa serta sejumlah temuannya, dan meminta pakar paleoantropologi itu untuk meneliti temuannya. Ketiganyajuga terlibat dalam diskusi panjang.

Dalam tulisannya di Asiaweek pekan lalu, Ciochon mengatakan Huang dan Gu Yimin telah yakin temuannya bakal menggegerkan dan menjadi pembicaraan mkan seprofesinya di seluruh dunia. Setidaknya, akan muncul kemungkinan lain perjalanan evolusi manusia purba. Selain itu, Huang dan Gu Yimin juga meminta rekannya untuk mempublikasikan kesimpulan analisisnya, meski tidak berdampak apa-apa bagi gugumya teori lama.

Namun, Ciochon tidak segera melakukan tugasnya. la bahkan meminta Huang dan Gu Yimin mengunjungi lagi gua itu. Hanya saja kali ini mereka tidak berdua, tetapi ditemani Ciochon, pakar geologi Roy Larick, dan mahasiswa kedua pasangan itu, Liu Jinyi.

Setelah sekian hari meneliti seluruh gua, mereka menemukan jalan masuk dan jalan keluar yang lebarnya 25 dan 45 meter. Keduanya sudah tertutup lapisan pasir, dan lumpur yang membatu. Di kedua pintu itu mereka menemukan sejumlah besar fosil. Diperkirakan, kedua pintu runtuh ribuan tahun lalu.

Setelah itu, Ciochon dan Huang meneliti setiap fosil. Dengan menggunaknn magnetisme residual pada setiap ekskavasi, tingkat usia setiap fosil bisa diketahui. Mereka juga mengoleksi tulang dan contoh sedimen untuk diteliti dengan menggunakan electron spin resonance (ESR). Alat ini memungkinkan dilakukannya analisis geokimia dan memungkinkan asal belulang diketahui.

Yang menarik perhatian adalah gigi bocah hominid. Selama ribuan tahun terkubur di dalam gua, geligi itu tidak hancur karena dilindungi elektron yang dipancarkan oleh pacuan elemen radioaktif di dalam sedimen. Elektron ini terperangkap di dalam fosil gigi. Untuk memastikan teori ini Ciochon mengirim gigi dan rahang itu ke McMaster University di Kanada untuk diteliti pakar geokimia Henry Schwartz. Lewat penelitian jumlah elektron yang ditemukan memastikan berapa usia Langgupo. Data yang diperoleh ESR menyebutkm lokasi, fosil, dan artefak, berusia 1,9 juta tahun. Begitu pula rahang bawah dan gigi hominid. Usianya sama dengan hominid Afrika Timur, atau homo habilis Olduvai George Tanzania; jadi lebih tua ketimbang homo errctus Jawa atau Cina.

Temuan homo habilis ini membuktikan betapa evolusi spesies awal sampai menjadi homo crectus tidak berIangsung di Afrika.Tetapi berlangsung di luar Afrika. Atau topatnya ketika bermigrasi dari tempat asalnya. Migrasi dilakukan dua juta tahun lalu, atau dua kali lebih lama dari yang diperkirakan semula. Orang pun makin sangsi hommo errctus adalah spesies keseluruhan manusia dan menjadi dasar manusia modern Asia pada saat ini.

Kesimpulaaan Ciochon, Huang dan Gu Yimin tampaknya mulai diterima banyak pakar paleoantropologi lainnya. Salah satunya Profesor Teuku Jacob, guru besar antropologi ragawi dari Universitas Gadjah Mada. “Selama ini memang beIum diketahui apakah evolusi ini terjadi di Afrika atau selama masa perjalanannya keluar dari benua itu,” katanya kepada Republika mengomentari temuan Langgupo itu.

Temuan ini memperjelas keyakinan lama bahwa evolusi secara keseluruhan tidak berlangsung di Afrika. Kalaupun mungkin evolusi terjadi di Afrika, maka evolusi itu adalah dari spesies awak ke homo habilis. Kemudian ke luar dan melakukan evolusinya menjadi homo sapiens dan homo erectus di sepanjang perjalanannya ke Asia.

Menurut T Jacob, selama ini para ahli meyakini perpindahan manusia dari Afrika dilakukan melewati Arab, Kaukasus Afghanistan, Cina, dan ke Indonesia. Di sejumlah tempat, dan dari generasi ke generasi, evolusi terjadi. “Homo habilis memang lebih tua, sekitar 2 juta tahun. Jadi temuan ini membuktikan evolusi juga berlangsung di Asia,” ujar T Jacob.

Persoalannya adalah, jika evolusi menjadi homo habilis terjadi di Afrika, atau setelah menjadi homo habilis keluar dari Afrika, lalu dimana evolusi homo sapiens?

Menurut T Jacob inilah misteri yang belum banyak diketahui. Sementara pakar menyebutkan manusia berevolusi menjadi homo sapiens di Afrika, lalu menyebar ke luar. Sedangkan yang lain menyebutkan evolusi spesies awal menjadi homo sapiens terjadi di banyak tempat, bukan hanya di Afrika.

Spesies awal itu sendiri, menurut T Jacob, diyakini telah ada di Afrika sejak 3 sampai 4 juta tahun lalu. Selama itu pula mereka mangalami evolusi, sebelum akhirnya menyebar ke tempat-tempat lain. Temuan ini setidaknya memperlihatkan evolusi di Afrika hanya terjadi sampai menjadi homo habilis. Selanjutnya, berlangsung di luar daerah asalnya. Teguh Setiawan
——————————
Evolusi Hominid Beberapa Fakta Arkeologis

Menurut hasil-hasil kajian palaoantropologis, cikal bakal manusia modern baru muncul kira-kira 100.000 tahun yang lalu. Mahluk ini disebut homo naenderthal, termasuk dalam jenis homo sapiens, dan luas dianggap sebagai manusia tulen karena sudah membuat alat-alat dari batu dan tulang serta memasak dengan api. Homo naenderthal dikategorikan sebagai manusia modern karena volume otaknya sudah sebesar volume otak manusia modern, yaitu kira-kira 1.400 mililiter.

Dibandingkan dengan jenis homo sapiens paling muda yang baru ditemukan sekitar 40.000 hingga 50.000 tahun yang lain, baik homo naenderthal, apalagi homo erectus, tergolong sangat primitif. Tengkorak dan tulang rahang homo sapiens baru ini sudah jauh lebih halus. Alat-alat berburu yang dibuatnya dari batu pun lebih canggih, bahkan mereka sudah mampu membuat jarum, dan patung-patung kecil dari tulang untuk semacam “upacara keagamaan”. Mereka inilah yang mempelopori evolusi sosial kehidupan jenis hominid, yakni dari berbum kc bertani.

Spesies-spesies homo sebelumnya, termasuk homo habilis dan homo erectus, jauh lebih primitif. Berbagai jenis hominid awal yang tergolog ke dalam keluarga homo erectus belum berjalan dengan cukup tegak, karena masih menggunakan tungkai belakang dan lengan depan seperti kera besar.

Jenis hominid seperti itu ditemukan di berbagai belahan bumi. Salah satu temuan di Kenya berumur kira-kira 1 juta tahun. Tulang-tulang lengan jenis hominid ini juga ditemukan di Ethiopia, dan berumur kira-kira 3,5 juta tahun. Yang paling tua adalah temuan di Pakistan, berupa sisa rahang dan gigi Romopithecus yang berumur 10 juta tahun.

Apa yang membedakan homo sapiens dengan berbagai jenis hominid sebelumnya adalah ukuran volume otaknya. Rata-rata volume otak keluarga homo erectus mempunyai ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan yang dimiliki homo sapiens. Salah satu jenis keluarga homo erectus yang disebut Australopithecus misalnya hanya mempunyai isi otak 450 mililiter. Mahluk ini ditemukan 4.000.000 tahun yang lalu di Afrika. Genus lain dan keluarga homo erectus yang ditemukan 1.500.000 tahun lalu, Pithecantropus erectus, mempunyai isi otak lebih besar, yakni 750 mililiter. Tetapi ukuran ini tetap lebih kecil dibandingkan ukuran volume otak rata-rata keluarga homo sapiens.

Tampak dari fakta-fakta ini bahwa evolusi manusia pada dasarnya adalah evolusi volume otaknya. Dan ini membutuhkan waktu berjuta-juta tahun, sampai suatu saat ketika terjadi “revolusi spiritual” akibat wahyu yang diturunkan kepada Adam, sang “manusia pertama” itu. (AE Priyono, dari berbagai sumber)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: