Home / Artikel / Musim Hujan 2019/2020 yang Kontroversial

Musim Hujan 2019/2020 yang Kontroversial

Saat ini pola angin muson atau musim yang bertiup menunjukkan indikasi angin barat yang mantap dan meluas di kawasan musim di Indonesia, yang bertentangan dengan pola normal. Akhir musim hujan 2019/2020 masih cukup lama.

Musim hujan 2019/2020 bisa kita sebut kontroversial karena tidak sesuai dengan perkembangan dan kejadian pada musim-musim hujan sebelumnya.

Musim hujan pada umumnya berlangsung pada akhir September hingga Oktober, berdasarkan perhitungan dan kajian awal penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau.

Namun, sebenarnya dari pengolahan data curah hujan di seluruh Indonesia diketahui bahwa wilayah Indonesia terbagi atas tiga pola curah hujan.

Pertama, pola ekuatorial yang tidak mempunyai musim alias setiap bulan hujan. Tidak ada perbedaan jelas antara musim hujan dan kemarau.
Kawasan dengan pola hujan ekuatorial tidak memiliki pola musim di sekitar garis ekuator, seperti Sumatera bagian barat, Kalimantan (kecuali Kalimantan Tengah) Selatan dan Timur bagian selatan, sebagian besar Sulawesi Tengah, Tenggara dan Utara, dan sebagian besar Papua kecuali daerah kepala burung.

Kedua, pola hujan monsunal atau mempunyai pola musim hujan dan musim kemarau, terbentang di sebagian besar Sumatera bagian timur, Kalimantan bagian selatan (Kalteng, Kalsel, dan Kaltim bagian selatan), Sulawesi Selatan dan sebagian kecil Sulawesi Utara dan Tenggara, serta Jawa hingga Maluku Selatan. Pola hujan ketiga adalah pola lokal yang berlawanan dengan pola hujan monsunal.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Ambulance yang membawa pasien mencoba menerobos banjir di terowongan Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (25/2/20202).

Namun, pola hujan yang disusun pada 1980-an ini perlu diperbaiki mengingat iklim Bumi berubah pola dengan berbagai penyimpangan iklimnya.
Perubahan ini cukup mengejutkan dengan hadirnya periode kekeringan yang panjang dan sering, mulai 1981 hingga 2008 dan kemudian periode musim hujan yang panjang, 2009-2018.

Dari dua kondisi di atas, tampak musim kering berkepanjangan diimbangi musim hujan yang lebih pendek. Ketidakteraturan panjang-pendek tiap musim yang berkembang sejak 1981 itu merupakan kondisi yang seyogianya dipahami untuk menyikapi perkembangan musim mendatang.

Awal keragaman musim
Sepanjang 1981-2008, pada tahun 1082, 1987, 1991, 1994, 1997, 2002, dan 2007, periode musim kemarau keringnya berkepanjangan. Awal musim kemarau maju dan akhir musim kemarau mundur dengan kondisi musim kemarau kering atau jarang terjadi hujan.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Perahu nelayan berlabuh di kawasan kampung nelayan di Pantai Nambangan, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/1/2020). Cuaca buruk yang akhir-akhir ini terjadi membuat banyak nelayan di kawasan tersebut libur melaut.

Apabila musim kemarau berlangsung panjang dan kering, musim hujan umumnya ditandai dengan meningkatnya curah hujan. Kondisi satu pasang musim dalam satu periode ini mulai berubah sejak 2009 hingga kini, dengan kecenderungan musim hujan lebih panjang daripada musim kemarau.

Bahkan tercatat pada 2010 di sebagian kawasan Indonesia ada yang mempunyai satu pasang musim, tetapi hanya diisi dengan kondisi musim hujan. Secara kasar dan umum periode 2009 dan mungkin 2020, yang kini sedang berlangsung, juga masuk dalam kriteria musim hujan berkepanjangan. Meskipun demikian, musim kemarau pada 2020 ini juga diperkirakan berkepanjangan (awal musim normal, tetapi akhir musim mundur lebih dari satu hingga empat bulan).

Pada 2020 ini, musim hujan yang baru mulai pada akhir Desember 2019 menunjukkan kondisi awal musim hujan yang sangat mundur apabila kita masih berpatokan bahwa awal musim hujan normal sekitar akhir September. Awal musim hujan yang mundur ini—dengan periode yang mungkin terpanjang—membuat puncak curah hujan 2019/2020 bergeser.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Warga menyeberang terowongan Cawang, Jakarta Timur dengan menumpang perahu karet, Selasa (25/2/2020).

Maka, apabila Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan puncak hujan antara Januari dan Maret, sepertinya masih menggunakan acuan atau referensi kondisi normal periode puncak musim hujan antara Januari dan Februari. Musim hujan yang baru berlangsung pada akhir Desember 2019 ternyata langsung masuk periode puncak hujan untuk setiap musim hujan.

Adanya penyimpangan perlu dikaji hati-hati dan tepat guna. Kontroversi periode puncak musim hujan yang lebih dari tiga bulan perlu dikaji dan diteliti. Kontroversi yang terakhir adalah periode akhir musim hujan 2019/2020. Kalau dalam kondisi normal akhir musim hujan umumnya berkisar antara akhir Maret dan awal Juli, mari kita lihat kondisi setiap musim.

Musim hujan 2018/2019 cenderung berakhir normal, yang berarti awal musim kemarau awalnya juga dalam kategori normal. Saat ini, sepertinya ada kecenderungan akhir musim hujan atau awal musim kemarau akan normal atau mundur 1-2 bulan mengingat hingga akhir Februari 2020 pola angin utara di belahan utara dan angin barat di belahan selatan merupakan pola angin yang bersamaan dengan periode puncak musim hujan.

KOMPAS/STEFANUS ATO–Layar monitor BMKG menampilkan kondisi gelombang perairan Indonesia, Jumat (20/12/2019), di kantor BMKG, Jakarta. Secara umum, kondisi perairan Indonesia laik untuk keberangkatan transportasi laut.

Kalau dari puncak musim hujan menuju akhir musim membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan, periode akhir musim hujan atau awal musim kemarau akan berlangsung lebih awal, sekitar akhir April. Hal ini diprakirakan terjadi di kawasan Nusa Tenggara Timur.

Periode hujan
Oleh karena itu, kemungkinannya adalah peluang kondisi hujan yang berkepanjangan seiring masa peralihan. Namun, di kawasan yang curah hujannya berlangsung ekstrem, periode musim hujan akan cenderung lebih pendek.

Keseringan hujan lebat hingga ekstrem terjadi dan giat di kawasan Jabodetabek. Tercatat ada lebih dari delapan kali hujan lebat hingga ekstrem selama musim hujan hingga medio Maret 2020. Kondisi keseringan hujan lebat hingga ekstrem sepertinya tidak terjadi di luar Jawa bagian barat.

Saat ini pola angin muson atau musim yang bertiup masih menunjukkan indikasi angin barat yang mantap dan meluas di kawasan musim di Indonesia, yang bertentangan dengan pola normal atau reratanya. Dengan demikian, akhir musim hujan 2019/2020 masih cukup lama seiring angin muson barat yang masih marak dan menguat di atas kawasan musim Indonesia.

Kondisi ini belum pernah terjadi dalam periode musim hujan di wilayah Indonesia. Mengapa? Sebab, awal musim mundur cukup lama dengan kisaran dua hingga empat bulan, curah hujan terkonsentrasi di kawasan Jawa bagian barat khususnya Jabodetabek, dan masih menguatnya tiupan angin barat pada Maret 2020.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Genangan air hujan di Jalan MT Haryono, Jakarta Timur, Senin (23/12/2019). Sebaran curah hujan di Jabodetabek masih di kisaran sedang (20-50 milimeter per hari) hingga lebat (50-100 mm per hari). BMKG memprediksi puncak musim hujan untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi terjadi pada Februari-Maret 2020.

Sebaliknya, curah hujan selama musim hujan di kawasan luar Jawa bagian barat cenderung lebih rendah daripada musim hujan pada umumnya. Kondisi yang menyimpang ini akibat hadirnya gejala alam global El Nino atau La Nina saat musim hujan 2019/2020.

Banyaknya penyimpangan selama musim hujan 2019/2020 ini membuatnya layak disebut sebagai musim hujan yang kontroversial.

(Paulus Agus Winarso, Praktisi dan Pemerhati Cuaca dan Iklim Indonesia)

Sumber: Kompas, 12 Maret 2020

Share
x

Check Also

Kunci Atasi Covid-19, Solidaritas Nasional dan Global

Sejarah peradaban hingga masa modern saat ini menunjukkan bahwa umat manusia memenangi perang melawan berbagai ...