Home / Profil Ilmuwan / Dr Asep S Adhikerana, Dengar Suara Burung, Belajar dari Burung

Dr Asep S Adhikerana, Dengar Suara Burung, Belajar dari Burung

Inilah rumah seorang ahli burung. Ketika Kompas bertandang ke rumah Dr Asep S Adhikerana (39) di Kompleks PDK 11 No.80 Kedunghalang, Bogor, sama sekali tak menjumpai tanda-tanda rumah pencinta burung. Tak ada sangkar menggantung di sana-sini, tak terdengar kicau burung. Padahal, yang empunya rumah ini bukan pencinta sekadar pecinta, bahkan barangkali dialah satu-satunya orang yang mendalami suara kicau burung secara akademis.

”Saya kasihan melihat burung dalam sangkar. Meski burung itu berkicau cukup bagus, namun bagi telinga saya yang terdengar adalah rintihan,” kata Asep.

Ucapannya itu bukan main-main. Dari pengetahuannya terhadap cara berkomunikasi burung, barangkali ia memang menangkap, bahwa yang ditangkap orang lain sebagai keindahan itu sebetulnya betul-betul rintihan burung dalam sangkar.

Asep, lulusan Fakultas Pertanian IPB tahun 1979, meraih gelar doktor di University of St Andrews, Inggris, Jurusan Ekologi Perilaku Burung.

Selama hampir empat tahun la mempelajari tingkah laku burung, mempelajari tingkah laku mereka, mempelajari cara mereka berkomunikasi satu sama lain.Itulah yang kemudian dituangkan dalam disertasi.

”Saya tidak bisa berkomunikasi dengan burung, tetapi hanya bisa menafsirkan kicauan/nyanyian burung. Penafsiran terhadap kicauan burung itu juga dengan memperhatikan keadaan sekeliling burung itu tatkala berkicau,” ujar Asep yang kini menjadi peneliti di BaIai Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Zoologi Puslitbang (Pusat Penelitian dan Pengembangan) LIPI Bogor. Belum lama berselang, sebuah televisi swasta menampilkannya dalam sebuah acara, dan sungguh menarik melihat bagaimana Asep bicara mengenai seluk-beluk burung.

RASANYA, tak ada bosan-bosannya berbincang-bincang dengan bapak dua putri ini mengenai burung. Kompetensinya mengenai dunia burung lebih merupakan sesuatu yang ada secara internal dalam dirinya, tidak ditampakkan secara membabibuta, misalnya dengan mengurung burung dan semacamnya. Bahkan di ruang tamunya tak ada hiasan bergambar burung.

Asep, kelahiran Dayeuh Kolot, Bandung, 1957, merinci bagaimana dia memperhatikan burung dan keadaan sekelilingnya ketika mahluk itu mengeluarkan suara. ”Misalnya, bila dia berkicau sendirian atau berkicau karena ada sesama burung lainnya, itu pun bisa lain artinya karena suara yang dilantunkan berbeda-beda,” kata Asep.

Kicauan burung yang terdengar saat matahari terbit di alam bebas seperti di hutan misalnya, itu menunjukkan kepada sesamanya di mana dia berada. Kicauan di pagi hari ini, umumnya maknanya sama. Burung berkicau itu akan menyanyi setiap pagi saat matahari mulai terbit. Bila musim berkembang biak, kicauannya terdengar juga di atas pukul 08.00, hal itu dimaksudkan untuk memikat burung betina atau kontes dengan sesama burung jantan untuk saling memikat burung betina.

Di luar musim berkembang biak, burung akan berhenti berkicau setelah lewat pukul 08.00, lalu pergi mencari makanan. Kicauan pagi juga untuk menunjukkan keberadaannya. ”Saya sudah sudah ada di sini, begitulah kira-kira,” katanya.

20160930_064151wPADA musim berkembang biak menurut Asep, burung akan mencoba mencari tempat untuk dijadikan wilayahnya. Burung yang menyatakan atau menguasai wilayah itu akan bernyanyi pendek. ”Cit cuit cit cuit, ” suara Asep menirukan suara burung yang menguasai wilayah tertentu.

Burung lain yang mengetahui isyarat itu tak akan masuk atau menyerobot wilayah yang telah dikuasai atau dimiliki sesamanya ”Burung tak ada niat untuk merebut atau menggusur ’kapling’ rekannya,” kata Asap mencontohkan.

Luas ”kapling” burung biasanya ditentukan besar-kecil burung bersangkutan. Seperti burung prenjak sekitar 200 meter persegi. Semakin besar burung itu semakin besar ”kaplingnya”.

Pohon tempat sarangnya untuk bertelur burung betina, akan dijaga dengan ketat sekali oIeh burung jantan. Burung betina akan memilih burung jantan yang bagus berkicaunya dan telah memiliki wilayah atau “kapling” sendiri , untuk membangun ”keluarga”.”Yah tidak berbeda dengan manusialah yang mempertimbangkan keturunan yang baik terhadap calon suaminya itu,apakah sudah punya pekerjaan ataukan sudah punya rumah begitulah, ” kata Asep. Burung yang tak punya ”kapling” tak akan dilirik oleh burung betina.

Burung sejenis dari luar yang akan masuk untuk bergabung, akan disam but oleh burung pemilik ”kapling” dengan aksinya melalui suara disusul kontes berkicau. Pendatang dan pemilik wilayah itupun saling menunjukkan kemampuannya. Kalau tuan rumah kalah, akan mundur dan kabur. Pengdatang yang menang masuk menggantikannya. Pendatang yang kalah akan pergi, dan bila bandel tak mau pergi akan dihalau. Aktivitas ini tanpa diwarnai dengan konflik fisik . Dalam beberapa segi, kadang memang terasa ironis, justru dari mahluk bernama burung yang jelas tidak ”berbudaya” ada sifat-sifat yang tidak memangsa sesamanya. Itu yang membedakan dengan manusia. Asep mengakui, dia juga merasa banyak belajar dari dunia burung.

Burung terbang berkelompok, berkelana mencari makanan di luar musim berkembang biak. Seekor burung sesekali akan keluar meninggalkan kelompok bila melihat sumber makanan. Makanan itu akan ditaksir dulu apakah itu cukup untuk sekelompok atau tidak. Bila hanya cukup untuk diri sendiri akan dimakan sendirian, namun bila cukup untuk satu kelompok, maka temuan itu akan diinformasikan untuk dimakan ramai-ramai.

”Di sinilah burung itu menunjukkan sikap yang tidak rakus. Bila mendapat makanan yang cukup untuk satu kelompok, tidak dimiliki sendiri atau disembunyikan agar bisa dinikmati sendirian,” kata Asep yang menikah dengan Nonon Yustinah, seorang guru di SDN Jalan Pengadilan Bogor dan kini dikaruniai dua putri, Yussi duduk di kelas 3 SMP dan Yunda kelas 4 SD.

BURUNG di mana pun, alat komunikasinya meliputi kicauan (song) berirama –untuk kontes, menunjukkan keberadaannya; suara (cal) tanpa irama – yang diperdengarkan bukan untuk kontes; dan alarm call – suara yang hanya diperdengarkan sebagai tanda waspada yang acap kali disertai display. Burung yang berkicau itu umumnya adalah burung-burung kecil paling besar seperti burung terkukur dan perkutut.

Menurut Asep, keuntungan sampingan yang dinikmati terhadap pengetahuannya terhadap studi tingkah laku burung termasuk kicuannnya adalah semakin menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.

”Begitu saya menikmati suara burung bernyanyi di hutan, kecintaan saya terhadap negeri ini semakin tinggi,” kata Asep seraya menambahkan, perasaan tersebut menimbulkan sikap sentimental karena tak berdaya akibat kemampuan terbatas. ”Melihat pohan di hutan ditebangi dan burung ditembaki jadi sakit hati. Seharusnya cari jalan keluar, supaya hutan dan burung itu tetap lestari, dan masyarakat tetap sejahtera.

Ia akui sikapnya memang sentimentil. Dia sangat tidak bisa menikmati burung yang bernyanyi/berkicau di dalam sangkar. ”Karena itulah saya tidak melihara burung dalam kandang atau sangkar,” kata Asap. Ia sangat terenyuh dan jatuh iba kalau melihat burung terkurung dalam sangkar.

Dengan jujur diakuinya, ia barangkali tidak bisa langsung mengaplikasikan ilmunya ini di tanah air ini. ”Ilmu saya mengungkapkan sifatnya teori-teori. Mungkin menunjang kegiatan tertentu,misalnya kegiatan penangkaran burung,” ujarnya. (pun)

Sumber: Kompas,Jum’at, 1 Maret 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: