Deteksi Berjenjang Pencarian KRI Nanggala-402

- Editor

Rabu, 13 November 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah teknologi pencarian obyek di dasar laut siap dikerahkan untuk mencari KRI Nanggala-402. Bekejaran dengan waktu dan kondisi perairan menjadi tantangan dalam pencarian.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA—–Kapal Selam KRI Nanggala-402 merapat di Dermaga Madura Komando Armada RI Kawasan Timur di Surabaya, Senin (6/2/2012). Kedatangan KRI Nanggala setelah menjalani perbaikan di Korea Selatan.

Sejumlah teknologi pencarian obyek di dasar laut siap dikerahkan untuk mencari KRI Nanggala-402. Selain berkejaran dengan waktu, kondisi dasar laut perairan utara Bali cukup menantang hingga penyelamatan dipastikan tidak akan mudah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pencarian Kapal Republik Indonesia (KRI) Nanggala-402 langsung dilakukan sejak kapal selam itu dinyatakan hilang kontak di perairan utara Bali, Rabu (21/4/2021). Sejumlah kapal perang berteknologi canggih dikerahkan, termasuk kapal penyelamat kapal selam dari Singapura dan Australia. Berbagai sumber daya, baik keahlian maupun peralatan, yang dimiliki lembaga lain juga diberdayakan.

KRI Nanggala-402 hilang kontak pada Rabu sekitar pukul 03.00, sesaat setelah mendapat izin penyelaman. Posisi terakhir kapal ada di 95 kilometer utara Pulau Bali atau 12-13 kilometer selatan Pulau Sepanjang di Kepulauan Kangean, Jawa Timur. Data itu menunjukkan posisi terakhir kapal selam sebelum hilang ada di Cekungan Bali.

Meski demikian, tidak ada informasi yang bisa memastikan apakah kapal selama itu masih melayang di dalam air atau sudah tenggelam. Namun, ada dugaan kapal selam itu telah jatuh di dasar laut di kedalaman 600-700 meter dari permukaan.

Peneliti geologi kelautan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Balitbang ESDM) Riza Rahardiawan dihubungi dari Jakarta, Jumat (23/4/2021), mengatakan, kondisi utara cekungan Bali di sisi selatan Pulau Sepanjang berupa lereng dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Dari tepi pantai hingga kedalaman 1.000 meter terentang sejauh 14 kilometer.

Sementara sisi selatan cekungan atau di utara Pulau Bali, kemiringan lerengnya mencapai lebih dari 60 derajat. Jarak dari tepi pantai hingga kedalaman 1.000 meter hanya terbentang sejauh 4 kilometer.

”Jika kapal selam itu jatuh di lereng cekungan, dia bisa jatuh merayap ke dasar Cekungan Bali yang memiliki kedalaman sekitar 1.300 meter,” katanya.

Tantangan lain yang harus diwaspadai adalah sedimentasi di selatan Pulau Sepanjang yang berupa tanah lempung nan lembut hingga membuat obyek yang jatuh di atasnya lebih mudah tertutup lumpur. Jika itu terjadi, penyelamatan kapal selam pun akan lebih menantang. Adapun sedimentasi di utara Pulau Bali berupa pasir hasil letusan gunung api di Bali.

Kemagnetan
Meski demikian, tim penyelamat dari sipil dan militer yang tergabung dalam misi ini berharap kapal selam itu masih melayang, tidak sampai karam di dasar laut. Terlebih, ada laporan ditemukannya kemagnetan tinggi dari sebuah obyek yang melayang di kedalaman 50-100 meter pada Kamis (22/4/2021) pagi.

Namun, sumber anomali kemagnetan itu belum bisa dipastikan dan masih diteliti lebih lanjut oleh KRI Rigel dan KRI Pulau Rimau yang dilengkapi peralatan pencarian bawah laut lebih baik.

Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Djoko Nugroho mengatakan, pendeteksian anomali kemagnetan itu dilakukan dengan menggunakan magnetometer. Alat ini dirancang untuk mendeteksi anomali kemagnetan dari benda logam di bawah laut, baik yang melayang maupun karam di dasar laut.

”Informasi dari magnetometer ini hanya berupa identifikasi awal karena bisa jadi sumber anomali itu berasal dari kapal karam atau benda logam lain di bawah laut,” katanya.

Idealnya, setelah ada informasi dari magnetometer, maka proses deteksi dilakukan secara berjenjang dengan menggunakan multibeam echosounder dan side scan sonar. Multibeam echosounder akan memetakan topografi dasar laut secara akurat. Alat ini bisa mendeteksi adanya perubahan ketinggian di dasar laut secara tiba-tiba yang disebabkan oleh benda yang karam, bukan gundukan alami.

Sementara side scan sonar diperlukan untuk memotret obyek yang dicurigai tersebut. Namun, pemotretan dilakukan dari jarak jauh sehingga tingkat akurasinya terkadang belum baik. Keterbatasan panjang kabel yang digunakan untuk mengoperasikan side scan sonar membuat peranti ini hanya bisa memotret dari kedalaman 100-200 meter. Jika obyek ada di kedalaman 700 meter, tentu citra yang dihasilkan tidak akan optimal.

Selain KRI Rigel, peralatan multibeam echosounder dan side scan sonar itu juga dimiliki Kapal Riset Baruna Jaya (KR BJ) I, III, dan IV. Namun, KR BJ I dan KR BJ IV saat ini sedang dalam perbaikan mesin dan KR BJ III sedang dalam perjalanan ke Papua untuk Survei Sistem Komunikasi Kabel Laut. Meski demikian, jika dibutuhkan, KR BJ III siap dialihkan untuk membantu pencarian.

Untuk memastikan citra yang diperoleh dari side scan sonar tersebut benar-benar obyek yang dicari, lanjut Djoko, tim pencarian akan menurunkan remotely operated vehicle (ROV), yaitu robot yang dilengkapi kamera dan sonar untuk mengambil citra dan video obyek di dasar laut. Peralatan ini dikendalikan secara jarak jauh dari kapal di atas permukaan laut.

ROV yang dimiliki sejumlah instansi di Indonesia itu umumnya termasuk kelas menengah yang memiliki kecepatan 3-4 knot. Dengan kondisi itu, gerak ROV akan lebih mudah terpengaruh oleh kecepatan arus laut. Belum ada ROV world class (kelas dunia) di Indonesia yang memiliki kecepatan 5-6 knot.

Karena itu, arus akan menjadi tantangan tersendiri dalam pencarian dan penyelamatan KRI Nanggala-402. Riza menambahkan, belum ada penelitian khusus tentang kondisi arus di Cekungan Bali. Namun yang pasti, arus di Cekungan Bali lebih kuat daripada arus di Laut Jawa, tetapi lebih kecil dibandingkan kecepatan arus di Selat Lombok yang mencapai 4,7 knot atau 2,44 meter per detik atau arus di Nusa Lembongan, Bali, sebesar 5,83 knot atau 3 meter per detik.

”Kuatnya arus di Cekungan Bali terjadi karena perairan itu berada di dekat Arus Laut Indonesia (Arlindo),” katanya. Arus ini berasal dari Lautan Pasifik yang masuk ke Selat Makassar, menuju Selat Lombok dan akhirnya menuju Samudra Hindia.

Di luar tantangan di bawah laut, gelombang tinggi lebih dari 2 meter, arus pasang surut air laut yang saat ini menjelang bulan purnama, hingga kondisi cuaca di musim pancaroba ini akan membuat pencarian dan penyelamatan menjadi tidak mudah. Meski demikian, semua pihak berharap 53 awak KRI Nanggala-402 segera ditemukan selamat.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 24 April 2021

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB