Home / Berita / Derita Sungai Cisadane, Tercemar Limbah dan Menjadi Tempat Sampah

Derita Sungai Cisadane, Tercemar Limbah dan Menjadi Tempat Sampah

Setiap musim kemarau, aliran Sungai Cisadane di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, berubah menjadi kehitaman dan berbau busuk. Perilaku yang tidak ramah lingkungan membuat Sungai Cisadane tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun. Memasuki dekade 1990-an, warga tidak bisa lagi mengandalkan Sungai Cisadane sebagai sumber kehidupan.

Senin (28/10/2019) menjadi hari yang panjang bagi Nasir Ning (66) dan sejumlah petani di Desa Tanjung Burung. Mereka baru saja membuka saluran air dari bantaran Sungai Cisadane ke lahan pertanian yang berjarak sekitar 150 meter.

KOMPAS/AGUIDO ADRI–Tumpukan sampah di sekitar bantaran Sungai Cisadane, Kabupaten Tangerang, Banten, dari aktivitas pelapak menyebabkan air tercemar, Senin (28/10/2019).

”Semalam hujan cukup deras, jadi kami berinisiatif membuka kembali saluran air. Setelah hujan, air sungai lumayan tidak terlalu kotor sehingga bisa digunakan untuk pengairan di kebun. Namun, kami pakai air sungai ini hanya saat ada hujan. Kalau musim kemarau tidak mungkin karena air tercemar dan berwarna hitam. Tanaman bisa mati,” ujar Nasir sembari beristirahat di salah satu pos dekat kebunnya.

INSAN ALFAJRI UNTUK KOMPAS–Warga Kampung Tanjung Burung Beting, Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, mencuci baju di pinggir Sungai Cisadane yang melintasi kampung mereka, Jumat (1/3/2019). Pada musim kemarau, aliran Sungai Cisadane menghitam karena tercemar pencemaran limbah dan sampah.

Nasir menuturkan, jika musim kemarau panjang, warga tidak berani menggunakan air Sungai Cisadane untuk mengairi lahan pertanian, apalagi untuk kebutuhan mandi dan minum. Saat musim hujan, air sungai hanya digunakan untuk mandi. Sementara untuk kebutuhan air bersih, warga mengandalkan air bersih yang disuplai Pemerintah Kabupaten Tangerang.

”Itu pun atas inisiatif warga, kalau enggak diminta, enggak ada ada pasokan air bersih yang datang,” lanjut sesepuh Desa Tanjung Burung sekaligus Ketua Kelompok Tani Tan Wan Tjok.

Jika air sungai digunakan untuk pertanian, kata Nasir, lebih dari 40 hektar tanaman padi terkena penyakit, seperti wereng serta tanaman padi menghitam dan mati. Demikian pula jika air dialirkan ke tambak, ikan juga akan mati. Sedikitnya 12.250 keluarga warga Tanjung Burung terdampak pencemaran berat Sungai Cisadane.

Ingatan kakek 11 cucu ini kembali pada 1955. Saat ia remaja, Sungai Cisadane jadi kebanggaan masyarakat. Airnya sangat jernih, bening, dan segar. Ikan banyak dan kelihatan. Sungai Cisadane punya peran dan fungsi vital bagi penduduk Teluk Burung dan sekitarnya. Sampai tahun 1990-an, air Sungai Cisadane masih bersih.

KOMPAS/AGUIDO ADRI–Nasir Ning (66), warga Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, saat beristirahat di pos, tidak jauh dari lahan pertaniannya, Senin, (28/10/2019). Nasir merupakan sesepuh di Desa Tanjung Burung sekaligus Ketua Kelompok Tani Tan Wan Tjok.

Hal serupa juga disampaikan Ubay Dilah (29). Ia masih ingat, tahun 1990-an, ia bersama teman-teman sering bersampan mencari ikan di Sungai Cisadane menggunakan jaring dan tombak.

”Dulu sering dapat ikan gabus. Pokoknya banyak ikan dulu. Senang banget, tetapi sekarang boro-boro ikan gabus, ikan sapu-sapu aja mati,” kata Ubay.

Pencemaran
Dalam perjalanan waktu, air Sungai Cisadane berubah drastis tahun 2000 karena perkembangan industri yang semakin pesat dan ulah warga yang seenaknya membuang sampah ke sungai.

Jika menelusuri Kali Cisadane, terdapat sejumlah pabrik dan tempat pengelolaan sampah. Ubay menuturkan, dampak pencemaran semakin parah karena bendungan Pintu Air 10, Kota Tangerang, membuat sampah menumpuk.

KOMPAS/INSAN ALFAJRI–Anak-anak bermain di pinggir Sungai Cisadane, Kampung Tanjung Burung Beting, Desa Tanjung Burung, Kabupaten Tangerang, Jumat (1/3/2019).

Berbagai upaya ditempuh Nasir, Ubay, dan sejumlah warga. Beberapa kali mereka berunjuk rasa ke pabrik yang diduga membuang limbah ke sungai. Sampai kini, masih ada saja pabrik yang membuang limbah ke Sungai Cisadane.

Ketua Koalisi Persampahan Nasional, yang juga anggota Dewan Pembina Koalisi KAWALI Indonesia Lestari, Bagong Suyoto, menuturkan, Sungai Cisadane memiliki mata air di Gunung Kendeng. Hulu Sungai Cisadane berada di lereng Gunung Pangrango dengan beberapa anak sungai dari Gunung Salak melintasi sisi barat Kabupaten Bogor mengalir ke Kabupaten Tangerang dan bermuara di sekitar Tanjung Burung.

Berdasarkan Kajian Kualitas Air Sungai Cisadane sebagai Dasar Perencanaan Lanskap Kota Tangerang Layak Huni (Arwindrasti, 2018), kata Bagong, kualitas air menurun karena kawasan industri dan permukiman kumuh. Hal ini membuat pemerintah perlu menyusun perencanaan lanskap ramah lingkungan untuk membangun Kota Tangerang sebagai kota layak huni.

”Air sungai ini dimanfaatkan sebagai sumber baku air PDAM, pertanian, perikanan, serta perindustrian dalam skala kecil dan besar. Yang menjadi persoalan pada air sungai ini adalah tingkat pencemaran yang masih tinggi, terutama limbah industri meskipun banyak instansi yang telah berperan dalam pengelolaan kualitas air Sungai Cisadane baik di tingkat pusat, Provinsi Banten, maupun Kota Tangerang,” kata Bagong.

KOMPAS/AGUIDO ADRI–Kondisi air Sungai Cisadane, Kabupaten Tangerang, menghitam dan berbau. Kondisi di sungai sangat memprihatinkan karena tumpukan sampah dan buangan limbah pabrik, Senin (28/10/2019).

DAS Cisadane dalam wilayah Kota Tangerang memang sudah ditata dengan baik. Airnya tampak jernih dan tidak ada sampah di sungai. Namun, pemandangan kontras ketika memasuki wilayah Kabupaten Tangerang, kondisi Sungai Cisadane jauh berbeda.

Menunggu pemerintah
Berdasarkan penyusuran, sekitar 12 kilometer di sepanjang DAS Cisadane dipenuhi aktivitas perlapakan sampah. Mereka terang-terangan membuang sisa sampah ke Sungai Cisadane.

DINAS PUPR KOTA TANGERANG–Sampah dari hulu Sungai Cisadane menumpuk di kolong jembatan di Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Senin (2/9/2019).

Menurut Bagong, kondisi air Sungai Cisadane sudah sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, perlu langkah strategis untuk pemulihan Sungai Cisadane yang dimulai dari membersihkan sampah.

”Secara kasatmata sangat jelas terjadi pelanggaran secara besar-besaran, seperti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jika pemerintah daerah dan pusat tidak merespons cepat dan mengambil tindakan tegas, malapetaka Sungai Cisadane akan meluas,” ucap Bagong.

Nasir dan warga pun berharap pemerintah daerah dan pusat bisa membersihkan sampah dan limbah dari Cisadane seperti yang dilakukan di Sungai Citarum, Jawa Barat. Pembersihan besar-besaran diiringi penegakan hukum terhadap industri pembuang limbah akan membuat Sungai Cisadane kembali lestari.

”Kami pun bisa bertani lagi dengan air Sungai Cisadane,” ujar Nasir.

AGUIDO ADRI

Editor HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 28 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: