Darurat Sumber Daya Air

- Editor

Jumat, 28 Agustus 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kualitas dan Kuantitas Sungai Terus Terancam
Darurat sumber daya air mengancam daerah-daerah aliran sungai di Indonesia. Saat ini, setidaknya 52 sungai strategis di Indonesia dalam kondisi tercemar dan mayoritas rusak. Perubahan iklim, ulah manusia, dan manajemen pengelolaan sungai yang buruk turut menyebabkan ekologi sungai berubah.

Demikian hasil diskusi panel dan sidang komisi dalam Kongres Sungai Indonesia (KSI) di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (27/8). Sekitar 600 peserta KSI merupakan perwakilan berbagai elemen masyarakat dan pemangku kepentingan pengelolaan sumber daya air di seluruh Indonesia. Kongres digelar hingga Minggu (30/8).

Direktur Bina Pengelolaan Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Agus Suprapto Kusmulyono mengatakan, kondisi pengelolaan sumber daya air di Indonesia memang cukup mengkhawatirkan. Volume air yang dapat dikelola melalui tampungan baru 63,5 meter kubik per kapita atau 15 miliar meter kubik dari 3,9 triliun meter kubik air di Indonesia. Adapun luas lahan sawah irigasi yang didukung reservoir baru sekitar 11 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, luas lahan kritis meluas dari 13,1 juta hektar pada 1992 menjadi lebih dari 18,5 juta ha. Adapun sebaran daerah aliran sungai (DAS) kritis juga bertambah dari 22 DAS tahun 1984 menjadi 68 DAS tahun 2012.

“Mulai Citarum, Ciliwung, hingga Serayu, kondisinya memprihatinkan. Untuk menjamin tata pengaturan air nasional yang baik, penyelenggaraannya harus terpadu,” kata Agus.

Praktik pengelolaan sumber daya air harus selaras dengan penataan ruang di tingkat kawasan, kabupaten/ kota, provinsi, dan nasional.

Revitalisasi sungai
Saat membuka KSI, Rabu (26/8), Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan, revitalisasi sungai-sungai di Indonesia mendesak.

Kualitas sungai umumnya menurun akibat pencemaran lingkungan dan kerusakan alam karena manusia. “Salah satunya ditandai pencemaran limbah rumah tangga yang dibuang tiap hari ke sungai. Pabrik-pabrik juga dibuat dekat sungai sejak awal dengan niatan agar mudah membuang limbah,” katanya.

Pakar lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang, Sudharto Hadi, mengatakan, Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia dengan 70 persen wilayahnya perairan. Namun, kondisi sungai dan perairan kian buruk. Jika berlangsung terus, Indonesia terancam darurat sumber daya air.

Di Jawa Tengah, 199.427 ha wilayah di 25 kabupaten dalam kondisi rawan banjir. Tidak kurang dari 136 sungai tercemar dan 35 DAS di daerah itu kritis.

Menurut Ketua Panitia Pelaksana KSI Myra Diarsi, penurunan kuantitas sungai akibat peningkatan laju erosi dan sedimentasi waduk. Adapun kualitas sungai memburuk akibat pembuangan limbah cair industri, domestik, sampah, dan sedimen.

“Kongres untuk menegaskan eksistensi Indonesia sebagai negara laut dan bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim. Sungai harus jadi pusat peradaban bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan,” katanya.

KSI diarahkan menjadi ruang temu para pihak membahas realitas, mengonsolidasikan pikiran, dan menyusun rencana strategis kerja bersama untuk mewujudkan restorasi sungai.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, salah satu kendala pengelolaan sungai adalah besarnya ego daerah yang dilintasi sungai. (GRE)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “Darurat Sumber Daya Air”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB