Home / Berita / Bahasa / Cegah Kepunahan, Habitat Badak Sumatera Akan Diproteksi Penuh

Cegah Kepunahan, Habitat Badak Sumatera Akan Diproteksi Penuh

Habitat badak sumatera terus tertekan akibat perambahan hutan dan pembangunan. Habitat fauna ini agar dilindungi total dari gangguan.

—Bayi Badak Sumatera Delilah bersama induk Badak Sumatera Ratu menyantap buah-buahan di Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Rabu (27/6/2016). ASEAN Center for Biodiversity resmi menetapkan Taman Nasional Way Kambas sebagai salah satu taman warisan ASEAN (Asean Heritage Park/AHP) karena kekayaan keanekaragaman hayati di dalamnya.

Badak sumatera diambang kepunahan karena memiliki populasi kecil, laju perkembangbiakan yang rendah, tingginya ancaman perburuan, serta kehilangan dan fragmentasi habitat. Selain menjelankan rencana aksi darurat, habitat badak sumatera juga akan diproteksi penuh guna melindungi dan mencegah satwa ikonik ini dari kepunahan.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno menyampaikan, badak sebagai satwa ikonik memiliki karakteristik yang khas dan khusus sehingga penanganan pelestariannya menjadi sangat rumit. Salah satu kerumitan dalam proses pelestarian badak sumatera adalah sulitnya memasang video jebakan untuk memantau pergerakan satwa berkulit keras ini.

Sejak dua tahun lalu, Ditjen KSDAE telah menyusun rencana aksi darurat (RAD) penyelamatan populasi badak sumatera 2018-2021 di Pulau Sumatera dan Kalimantan. RAD ini, kata dia, merupakan langkah strategis, mendesak, revolusioner, dan memiliki prioritas tinggi untuk menyelamatkan badak sumatera dari kepunahan.

Wiratno menegaskan, ke depan, pihaknya akan menerapkan proteksi penuh terhadap kawasan prioritas habitat badak sumatera yang telah diidentifikasi. Selain itu, ia juga akan memudahkan atau memangkas birokrasi dari tingkat tapak ke pusat sehingga pengambilan keputusan dapat segera ditetapkan dalam proses penyelamatan badak.

“Kemitraan konservasi yang mengorganisir masyarakat harus dipastikan mereka bisa membantu konservasi badak dengan membersihkan jerat dan melaporkannya. Mereka juga harus memastikan tidak ada perambahan baru atau orang yang masuk ke dalam kawasan karena daerah itu full protected,” ujarnya dalam webinar peringatan Hari Badak Sedunia, Selasa (22/9/2020).

Berdasarkan data KSDAE, jumlah badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) saat ini hanya sekitar 80 individu. Badak tersebut tersebar di wilayah utara Sumatera (Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh), wilayah selatan Sumatera (TN Way Kambas dan TN Bukit Barisan Selatan, Lampung), serta Kalimantan Timur (wilayah Hutan Lindung Kelian Lestari).

Ketua Dewan Pembina Forum Konservasi Leuser Rudi Putra mengatakan, TN Gunung Leuser memiliki empat spesies ikonik yakni harimau sumatera, orang utan sumatera, gajah sumatera, dan badak sumatera. Dari empat spesies tersebut, badak sumatera tercatat sebagai satwa dengan populasi paling sedikit dan terancam punah.

“Habitat badak sumatera terdapat di empat lanskap tetapi mereka tersebar di tujuh kantong-kantong. Setiap kantong rata-rata hanya memiliki sekitar 10 hingga 15 individu. Tetapi realitanya, hanya ada satu kantong yang populasinya masih berkembang di alam yaitu di Kawasan Ekosistem Leuser,” katanya.

Badak sumatera menghadapi sejumlah ancaman seperti perburuan liar dengan menggunakan jerat, perambahan hutan, hingga pembangunan infrastruktur yang menyebabkan rusaknya habitat. Dalam mengatasi ancaman tersebut, Forum Konservasi Leuser melakukan upaya perlindungan dengan operasi pengamanan jerat dan perangkap serta mencegah perambahan.

—-Badak Sumatera di Kalimantan–Kompas/Ichwan Susanto (ICH)–02-04-2016

Hasil patroli gabungan yang dilakukan selama empat tahun (2016-2019) menunjukkan penurunan jumlah jerat atau perangkap yang dipasang pemburu. Pada 2016, tim menemukan 1.069 perangkap dan pada 2019 hanya 241 perangkap. Rudi berharap, ke depan tidak ada lagi perangkap yang dipasang di wilayah yang telah diproteksi.

Topografi untuk badak
Direktur Yayasan Badak Indonesia Widodo Ramono menyatakan, dari hasil kajian dan survei lapangan, topografi 0-254 meter di atas permukaan laut menjadi daerah yang sesuai bagi badak sumatera khususnya di kawasan TN Bukit Barisan Selatan. Kawasan tersebut juga harus memenuhi kebutuhan akan sumber daya pakan, air, dan tempat berlindung.

“Dari hasil Model Maxent secara spasial, bagian tengah kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan merupakan daerah yang sesuai bagi kehidupan badak sumatera. Badak-badak kita membutuhkan hutan primer, namun ada patch (bagian kecil) hutan primer yang dipilih sebagai tempat mencari makan,” ujarnya.

Komitmen dan upaya perlindungan badak juga ditegaskan pemerintah daerah, salah satunya Kabupaten Aceh Timur. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur saat ini tengah dalam proses persiapan pembangunan Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) atau Suaka Badak Sumatera dengan luas sekitar 7.302 hektar.

“Kami sudah menetapkan papan di lokasi. Jadi masyarakat mengerti dan tidak akan menggangu lagi lokasi suaka badak ini, apalagi di dalamnya ada APL (area penggunaan lain) dan hutan lindung. Diharapkan tidak ada konflik dengan masyarakat,” kata Bupati Aceh Timur Hasballah Thaib.

Badak jawa
Selain badak sumatera, rimba Indonesia juga menjadi rumah bagi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang berhabitat di Semenanjung Ujung Kulon, Banten. Di kawasan hutan yang dikelola Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) itu, populasi badak jawa diperkirakan 74 ekor.

Kabar baiknya, pada kamera pengintai bulan Mei dan Juni 2020, terekam video dua anak badak jantan dan betina berusia sekitar 1 – 2 bulan berjalan bersama sang induk. Untuk semakin meningkatkan populasinya, Balai TNUK sedang berupaya menyiapkan habitat kedua di dalam kawasan TNUK.

Habitat kedua ini diperlukan agar badak tak hanya terkonsentrasi di Semenanjung Ujung Kulon.

Kepala Balai TNUK, Anggodo, Selasa, mengatakan habitat kedua tersebut dipersiapkan di Kalejitan. Penyiapannya dengan cara pembersihan tanaman invasif langkap dan penanaman pakan badak. Pihaknya juga menyiapkan lokasi sumber air dan tempat berkubang bagi badak.

Wilayah Kalejitan ini masuk dalam zona rimba, belum zona inti seperti Semenanjung Ujung Kulon. Di tempat itu juga akan dibangun pusat penelitian badak jawa. (ICH)

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 23 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: