Ancaman Kepunahan Badak Sumatera Dimulai 1 Juta Tahun Lalu

- Editor

Jumat, 15 Desember 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) adalah salah satu mamalia terancam di bumi. Sebuah studi terbaru yang dilaporkan dalam jurnal Current Biology edisi 14 Desember 17 menunjukkan bahwa masalah populasi badak sumatera dimulai sudah sejak lama, sekitar pertengahan Pleistosen, atau satu juta tahun yang lalu. Badak sumatera terancam oleh habitat yang semakin terfragmentasi dan perburuan.

Sekarang, tim peneliti internasional telah melakukan pengurutan dan analisis genom badak sumatera pertama dari sampel yang berasal dari badak sumatera di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat. ”Data urutan genom kami mengungkapkan bahwa Pleistosen adalah perjalanan roller coaster untuk populasi badak sumatera,” kata Herman Mays, Jr, peneliti dari Universitas Marshall, Virginia Barat, AS, seperti dikutip Sciencedaily.com edisi 15 Desember 2017.

”Spesies ini sudah dalam perjalanan menuju kepunahan untuk waktu yang sangat lama,” kata Terri Roth di Pusat Konservasi dan Penelitian Satwa Liar yang Terancam Punah di Kebun Binatang dan Kebun Raya Cincinnati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Bayi badak betina, Delilah, menyantap buah-buahan bersama induknya, Ratu, di Sumatera Rhino Sanctuary, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur Lampung, Kamis (27/7). Kelahiran Delilah mengulang sukses konservasi badak sumatera. Sebelumnya Sumatera Rhino Sanctuary, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Lampung, berhasil melakukan konservasi dengan lahirnya badak Andatu pada tahun 2012.

Menurut studi tersebut, populasi badak sumatera memuncak pada saat bukti fosil menunjukkan invasi mamalia kontinental ke Tanah Sunda (Sundaland)—wilayah biogeografis Asia Tenggara—sekitar 900.000 tahun yang lalu. Para periset memperkirakan sekitar 950.000 tahun lalu, populasi badak sumatera mencapai puncaknya yaitu sekitar 57.800 ekor.

Sekitar 12.000 tahun yang lalu—akhir Pleistosen—banyak mamalia besar telah menderita, dan badak sumatera tidak terkecuali mengalami penderitaan menuju kepunahan. Pada 9.000 tahun yang lalu, bukti genom menunjukkan, populasi badak sumatera berkurang menjadi sekitar 700 ekor.

Naiknya permukaan air laut menenggelamkan koridor Tanah Sunda. Jembatan darat, yang menghubungkan pulau-pulau di Kalimantan, Jawa, dan Sumatera ke Semenanjung Melayu dan daratan Asia, lenyap tenggelam ke laut. Kemungkinan besar akibatnya, kata para peneliti, populasi badak yang menyusut sebagai habitat yang cocok menjadi semakin terfragmentasi. Sejak saat itu, populasi badak sumatera hanya menyusut lebih lanjut karena meningkatnya tekanan terkait hilangnya habitat dan perburuan.

Harian Kompas edisi 23 September 2017 melaporkan, populasi badak sumatera yang ada di Indonesia tinggal sekitar 100 ekor. Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan sejumlah pihak swasta dan organisasi pemerhati badak sumatera membentuk Suaka Rhino Sumatra (SRS). Kepala Subdirektorat Jenderal Pemanfaatan Jenis Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Nunu Anugrah pada acara bincang-bincang dalam rangka memperingati Hari Badak Sedunia, Jumat (22/9), di Jakarta, menjelaskan, SRS merupakan tempat pengembangbiakan badak sumatra secara semialami di Taman Nasional Way Kambas, Lampung.

Ni Made Ferawati, dokter hewan di SRS, mengatakan, ada tujuh badak sumatera yang dikembangbiakkan di SRS yang luasnya 100 hektar ini. Sejak 2011, tim dokter hewan di SRS meneliti inseminasi buatan pada badak sumatera. Terakhir, tim mencobanya pada Mei 2017 lalu, tetapi gagal. Pengembangbiakan badak sumatera tidak mudah, selain tidak mudah mengawinkan badak jantan dan betina, satu ekor badak sumatera juga dilahirkan dalam siklus 3-5 tahun. Karena itu, badak sumatera menjadi prioritas dalam pengembangbiakan hewan ikonik Indonesia, dengan target pertumbuhan 10 persen.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 15 Desember 2017

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB