Catatan Iptek; Menyelamatkan Lebah

- Editor

Rabu, 7 Januari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Manusia berilusi, abad ke-21 telah memiliki teknologi yang membebaskan dari alam. Namun, kehadiran lebah menunjukkan bahwa manusia justru makin bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhannya.

Achim Steiner
Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP)


Dekade terakhir, dunia diguncang kesadaran baru tentang lebah. Kehadirannya begitu penting karena koloni lebah membantu penyerbukan 70 dari 100 jenis tanaman pangan dunia yang menyediakan 90 persen pangan dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

UNEP pada 2011 menyebutkan, serangga penyerbuk berkontribusi 212 miliar dollar AS dari total produksi pangan dunia, termasuk buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Tanpa bantuan koloni lebah, hasil panen bisa turun 90 persen.

Kenyataannya, populasi koloni lebah terus menurun di berbagai kawasan, terutama di belahan utara. Menurut Peter Neumann, salah seorang penulis laporan UNEP, penurunan di Eropa mencapai 10-30 persen, di Amerika Serikat 30 persen, dan di Timur Tengah 85 persen (Discovery Newsletter, 10/3/2011).

Penyebabnya adalah pestisida, polusi udara, salah kelola kawasan pertanian, hilangnya tanaman berbunga, munculnya parasit lebah yang mematikan, dan berkurangnya ”penggembala” lebah yang populer disebut beekeepers. Perubahan fungsi lahan, penurunan kualitas dan fragmentasi lahan pertanian, serta perubahan iklim turut mengancam kelangsungan hidup lebah.

Jerman termasuk negara yang terdampak penurunan populasi lebah. Menurut Asosiasi Peternak Lebah, populasi lebah di Jerman turun hingga 25 persen (Kompas, 19/12/2012).

lebah7Tidaklah mengherankan jika dalam acara temu media internasional—berlangsung awal Desember lalu di Wuppertal-Aprath dan Leverkusen, Jerman—industri farmasi Bayer Pharma AG sebagai penyelenggara memberikan perhatian khusus kepada lebah. Pada lokakarya paralel antara onkologi, riset obat, dan pertanian, topik lebah dibahas tersendiri.

Mengumpulkan basis data
Menurut Dr Christian Maus, Manajer Global Polinator Safety di Bayer Bee Care Center, pihaknya tengah mengumpulkan data penyerbukan dari berbagai tanaman. Apel, cherry, tomat, lettuce, dan melon takkan berbuah tanpa bantuan lebah. Serangga lain, seperti lalat, berperan pada penyerbukan mangga dan cokelat.

Pemahaman atas proses penyerbukan akan membantu pengembangan insektisida dan teknik aplikasi yang ramah lebah (bee friendly). Pestisida memang disorot sebagai pemicu turunnya populasi lebah—antara lain mengganggu sistem navigasi sehingga lebah tidak bisa pulang—sehingga perlu solusi.

Salah satu temuan yang sedang diuji coba dengan dukungan Kementerian Pangan, Pertanian, dan Perlindungan Konsumen Jerman adalah proyek Dropleg. ”Intinya adalah penyemprotan pestisida di bawah level ketinggian bunga sehingga aman bagi lebah,” kata Dr Klaus Wallner yang mengepalai riset.

Bayer tentu saja sangat berkepentingan dengan riset ini. Pada 1994, salah satu produk pestisidanya dianggap memicu kematian lebah-lebah yang menyerbuki kebun bunga matahari di Perancis (Alison Benjamin dan Brian McCallum dalam A World Without Bees, Guardian Books, 2008).

Di luar kepentingan industri, Dr Vandana Shiva, mantan Direktur Research Foundation for Science, Technology, and Natural Policy, India, mengampanyekan pertanian organik. Petani kembali ke alam, termasuk menggunakan musuh hayati untuk mengendalikan hama. Sistem ini berkembang di seluruh dunia dan menjadi alternatif yang ramah lingkungan. Namun, industri pertanian yang masif akan terus menjadi lawannya.

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas, 7 Januari 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru