Home / Berita / Biokultural Perlindungan Hewan Penyerbuk

Biokultural Perlindungan Hewan Penyerbuk

Sebuah studi global menyimpulkan, peran manusia sangat penting untuk melestarikan penyerbuk guna menjaga dan melindungi keanekaragaman hayati, pertanian, dan ekosistem. Kepercayaan tradisional dan pengelolaannya mampu merawat keberadaan lebah-lebah tersebut.

“Ada peningkatan kesadaran akan pentingnya penyerbuk bagi kualitas hidup kita,” kata ketua peneliti Rosemary Hill, dalam Sciencedaily, 11 Maret 2019. Namun isu pembicaraannya berkutat pada perlindungan “lebah” dan perluasan area konservasi.

Ia menemukan cara terbaik untuk melindungi hewan penyerbuk adalah dengan mendukung orang-orang yang kehidupan budaya, spiritual, dan ekonomi terkait dengan keberadaan serangga tersebut. Penyerbuk ini bukan hanya serangga lebah, tetapi juga udang kecil, burung, dan kelelawar.

Pekerja menunjukkan salah satu lebah ratu jenis Apis melifera di kawasan hutan Desa Gunungsari, Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019). Meski selama musim hujan produksi madu dari lebah tersebut turun drastis namun perawatan terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan hidup binatang tersebut.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
11-02-2019

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Pekerja menunjukkan salah satu lebah ratu jenis Apis melifera di kawasan hutan Desa Gunungsari, Wonosegoro, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (11/2/2019). Meski selama musim hujan produksi madu dari lebah tersebut turun drastis namun perawatan terus dilakukan untuk menjaga keberlangsungan hidup binatang tersebut.

Hill, associate professor serta ahli geografi manusia di CSIRO dan Universitas James Cook di Cairns, Australia, bersama peneliti dari 15 negara meneliti konservasi pollinator di 60 negara pada setiap benua kecuali Antartika. Ia meneliti sisi antropologi/kultur masyarakat terhadap hewan penyerbuk tersebut. Hasil risetnya tersebut ada dalam jurnal Nature Sustainability berjudul Biocultural approaches to pollinator conservation pada 11 Maret 2019.

“Ketika orang menganut kepercayaan, budaya, dan agama tentang penyerbuk dan mungkin mengidentifikasinya mereka sebagai totem serta memiliki tabu dan praktik lain yang melindungi penyerbuk itu, maka mereka akan melindungi dan menjaga tidak hanya penyerbuk tetapi habitat mereka,” kata Hill.

Ia kemudian mencontohkan bahwa ketika komunitas masyarakat mengandalkan lebah sebagai sumber madu dan lilin, mereka tak hanya akan melindungi lebah. Perlindungan itu diperluas pada habitat dan sumber nektar lebah tersebut.

Hal ini membuat masyarakat mendapatkan ilmu pengetahuan tentang sisi biologi dan ekologi hewan penyerbuk itu. Pengetahuan ini berkontribusi pada jangka panjang pengelolaan berkelanjutan sumber daya setempat.

Melindungi habitat
Hill menyebutkan di beberapa bagian dunia terjadi konflik yang melibatkan pemerintah, konservasi, dan masyarakat adat/tradisional mengenai cara terbaik untuk melindungi habitat. Ia mencontohkan perselisihan di Myanmar dan Thailand bagian Utara. Di situ, para konservasionis kritis terhadap penggunaan lahan tradisional dan masyarakat adat takut kehilangan tanah tradisional mereka ke taman nasional.

Para peneliti telah merumuskan kebijakan yang akan mendukung apa yang mereka sebut konservasi biokultural. Mereka merekomendasikan sejumlah langkah bagi lembaga pemerintah dan pengelola sumber daya alam.

Rekomendasi tersebut diantaranya konservasi dan pembangunan membutuhkan persetujuan atas dasar informasi tanpa paksaan dari pemilik tradisional. Kedua, pengamanan tenurial adat. Ketiga, memperkuat wilayah adat dan kawasan yang dilestarikan masyarakat dan pemerintahan tradisional lainnya yang mendukung keberadaan penyerbuk. Keempat, menumbuhkan mata pencaharian berdasarkan peternakan lebah.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 13 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: