Home / Berita / Hilangnya Hewan Penyerbuk Berdampak pada Kehidupan Manusia

Hilangnya Hewan Penyerbuk Berdampak pada Kehidupan Manusia

Fungsi para penyerbuk sangat dibutuhkan bagi produktivitas pertanian dan ekosistem hutan. Ketiadaan mereka akan membawa permasalahan bagi umat manusia.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN—-Lebah di atas bunga lotus.

Kehilangan habitat dan penggunaan pestisida menjadi penyebab utama hilangnya spesies penyerbuk di seluruh dunia. Ini berdampak pula pada hilangnya ”jasa ekosistem mereka” yang secara langsung menyediakan makanan dan kesejahteraan bagi jutaan orang.

Ini menurut panel ahli internasional yang dipimpin University of Cambridge di Inggris. Para peneliti menggunakan bukti-bukti untuk membuat indeks risiko pertama dari penyebab dan efek penurunan penyerbuk yang dramatis di enam wilayah global.

Serangga berupa lebah, kupu-kupu, tawon, lalat, dan kumbang serta mamalia kelelawar dan burung kolibri yang menyebarkan serbuk sari penting untuk reproduksi lebih dari 75 persen tanaman pangan dan tanaman berbunga. Jumlah pasukan penyerbuk ini semakin berkurang di seluruh dunia tetapi sedikit yang diketahui tentang konsekuensi hal tersebut bagi populasi manusia.

”Apa yang terjadi pada penyerbuk bisa berdampak besar bagi kehidupan manusia,” kata Lynn Dicks dari Departemen Zoologi Cambridge.

Makhluk-makhluk tersebut meski berukuran kecil memainkan peran sentral dalam ekosistem dunia, termasuk banyak yang diandalkan manusia dan hewan lain untuk nutrisi. Jika hewan-hewan penyerbuk ini hilang atau pergi, manusia bisa berada dalam masalah serius.

Dicks membentuk tim beranggotakan 20 ilmuwan dan perwakilan penduduk asli untuk mencoba melakukan evaluasi awal penyebab dan risiko penurunan penyerbuk di seluruh dunia. Penelitian ini diterbitkan, 16 Agustus 2021, di jurnal Nature Ecology & Evolution berjudul ”Penilaian Ahli dalam Skala Global tentang Pendorong dan Risiko Terkait Penurunan Jumlah Penyerbuk”.

Menurut riset tersebut, terdapat tiga penyebab global utama hilangnya penyerbuk, yaitu kerusakan habitat, diikuti oleh pengelolaan lahan-terutama penggembalaan, pupuk, dan pertanian monokultur tanaman-dan meluasnya penggunaan pestisida. Pengaruh perubahan iklim menempati urutan keempat meskipun datanya terbatas.

Mungkin risiko langsung terbesar bagi manusia di semua wilayah, yaitu ”defisit penyerbukan tanaman”. Ini berdampak pada penurunan kuantitas dan kualitas tanaman pangan dan bahan bakar nabati.

Para ahli memberi peringkat risiko ”ketidakstabilan” hasil panen sebagai serius atau tinggi di dua pertiga planet ini. Daerah tersebut dari Afrika hingga Amerika Latin yang banyak bergantung langsung pada tanaman yang diserbuki melalui pertanian skala kecil.

”Fenomena iklim yang semakin tidak biasa, seperti curah hujan dan suhu ekstrem, sudah memengaruhi tanaman. Hilangnya penyerbuk menambah ketidakstabilan lebih lanjut,” kata Dicks.

Sebuah laporan besar tahun 2016 yang disumbangkan oleh Lynn Dicks menunjukkan terjadi peningkatan hingga 300 persen produksi makanan yang bergantung pada penyerbuk selama setengah abad terakhir dengan nilai pasar tahunan yang mungkin mencapai 577 miliar dollar AS.

Hilang budaya
Berkurangnya keanekaragaman spesies dipandang sebagai risiko global tingkat tinggi bagi manusia, yang tidak hanya membahayakan ketahanan pangan tetapi juga hilangnya ”nilai estetika dan budaya”. Spesies ini telah menjadi lambang alam selama ribuan tahun terlalu sedikit pertimbangan yang diberikan tentang bagaimana penurunan mereka memengaruhi kesejahteraan manusia.

”Polinator telah menjadi sumber inspirasi seni, musik, sastra, dan teknologi sejak awal sejarah manusia. Semua agama besar dunia memiliki bagian suci tentang lebah. Ketika tragedi melanda Manchester pada tahun 2017, orang-orang menggapai lebah sebagai simbol kekuatan komunitas,” ujarnya.

”Kita berada di tengah-tengah krisis kepunahan spesies, tetapi bagi banyak orang itu tidak berwujud. Mungkin penyerbuk adalah penentu kepunahan massal,” kata Dicks.

Hilangnya akses ke ”penyerbuk yang dikelola”, seperti sarang lebah industri, digolongkan sebagai risiko tinggi bagi masyarakat Amerika Utara. Keberadaannya meningkatkan hasil panen, termasuk buah apel dan kacang almond, dan telah mengalami penurunan serius akibat penyakit dan ”gangguan kehancuran koloni”.

Dampak penurunan penyerbuk pada tanaman dan buah-buahan liar dipandang sebagai risiko serius di Afrika, Asia Pasifik, dan Amerika Latin. Wilayah tersebut terdapat banyak negara berpenghasilan rendah di mana penduduk perdesaan bergantung pada makanan yang tumbuh di alam liar.

—–Meminum madu langsung di sarangnya memiliki sensasi tersendiri. Hal itu bisa dilakukan pada sarang lebah trigona yang dikembangkan Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli di Simalungun, Sumatera Utara.

Bahkan, Amerika Latin dipandang sebagai wilayah yang paling banyak mengalami kerugian. Tanaman yang diserbuki serangga, seperti jambu mete, kedelai, kopi, dan kakao, sangat penting untuk pasokan makanan regional dan perdagangan internasional tepat di seluruh benua. Ini juga merupakan rumah bagi populasi asli yang besar yang bergantung pada tanaman yang diserbuki, dengan spesies penyerbuk seperti burung kolibri yang tertanam dalam budaya dan sejarah lisan.

Asia Pasifik merupakan wilayah global lain di mana penurunan penyerbuk dianggap menimbulkan risiko serius bagi kesejahteraan manusia. China dan India semakin bergantung pada tanaman buah dan sayuran yang membutuhkan penyerbuk, beberapa di antaranya sekarang mengharuskan orang untuk menyerbuki dengan tangan.

Para peneliti mengingatkan bahwa tidak cukup diketahui tentang keadaan populasi penyerbuk di Global South karena bukti penurunan masih terutama dari daerah kaya, seperti Eropa (di mana setidaknya 37 persen lebah dan 31 persen spesies kupu-kupu mengalami penurunan). Defisit penyerbukan dan hilangnya keanekaragaman hayati dipandang sebagai risiko terbesar bagi orang Eropa, dengan potensi mempengaruhi tanaman mulai dari stroberi hingga lobak biji minyak.

Tom Breeze, rekan penulis dan peneliti ekonomi ekologi di University of Reading, mengatakan, studi ini menyoroti bahwa manusia masih belum tahu tentang penurunan jumlah penyerbuk dan dampaknya terhadap masyarakat manusia, terutama di bagian dunia berkembang. ”Meskipun kami memiliki data tentang bagaimana penyerbuk dilakukan di kawasan seperti Eropa, ada kesenjangan pengetahuan yang signifikan di banyak tempat lain. Lebih banyak penelitian diperlukan di tingkat global sehingga kami dapat benar-benar memahami masalah yang kami hadapi, dan bagaimana kami dapat mengatasinya,” katanya.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 17 Agustus 2021

Share
%d blogger menyukai ini: