Home / Artikel / Apikultura Komoditas Miliaran Dolar

Apikultura Komoditas Miliaran Dolar

PARA peternak lebah madu di negara-negara yang telah maju dapat meraih jutaan dollar tiap tahun dari hasil lebah yang berupa: madu, royal jelly, lilin lebah dan lain-lain. Menurut data statistik FAO, produksi madu dunia tahun 1992 adalah 1 juta metrik ton dengan nilai 1 milyar US dollar.

Meksiko Argentina dan Cina adalah negara-negara “berkembang” yang merupakan penghasil dan pengekspor madu utama di dunia. Tiap tahun, ketiga negara tersebut mengekspor sekitar 15.000 metrik ton madu, atau hampir separoh dari ekspor dunia Peternakan lebah madu di negara-negara tersebut dilakukan dalam skala besar dan merupakan penghasil komoditi ekspor yang penting. Seperti di negara-negara berkembang lainnya, apiculture atau beternak lebah madu di Indonesia mulai diakui sebagai penghasil makanan yang bergizi, juga sebagai sumber pendapatan yang berarti.

Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk mengembangkan industri peternakan lebah. Karena beriklim tropis dengan kondisi agro-ekologi yang bervariasi, akan menjamin tersedianya bunga-bunga dari berjenis-jenis tanaman yang mekar silih berganti sepanjang tahun. Tanaman tersebut juga menghasilkan nektar dan pollen (tepungsari bunga) yang tumbuh melimpah hampir di seluruh negeri dan banyak di antaranya memang ditanam di perkebunan-perkebunan (misalnya di Jawa, Sumatera dan Sulawesi).

Ada dua kelompok tanaman penghasil madu di Indonesia, yaitu: 1.) Tanaman pertanian (agriculture) dan perkebunan (horticulture). 2.) Tanaman hutan dan liar.

Lebah mencari makanan dari tanaman. Dari makanan tersebut terkandung bahan baku produk-produk yang diminati manusia, seperti: madu, royal jelly, lilin lebah dan lain-lain. Lebah mengubah nektar menjadi madu dan mengumpulkan tepungsari serta propolis. Lebah juga mengeluarkan lilin yang dibuat di dalam tubuhnya, yaitu metabolisme dari karbohidrat yang diperoleh dari madu. Selain itu, lebah mengeluarkan royal jelly, yang dibuat terutama dari metabolisme protein tepungsari, demikian juga dengan bisa sengat lebah.

Produksi madu di Indonesia berkisar antara 40-60 kg per koloni per tahun. Hasil ini cukup baik, yang berarti melampaui produksi dunia rata-rata per koloni; ini membuktikan bahwa Indonesia sangat potensial untuk beternak lebah, yang bila diusahakan secara maksimal, Indonesia sebenarnya mampu untuk menghasilkan madu lebih kurang 80.000 ton per tahun.

Madu yang dihasilkan di Indonesia dapat digolongkan berkualitas pertama, yang dihasilkan dari tanaman, seperti: jeruk, lengkeng, durian, kapuk, karet, kaliandra dan lain-lain. Warnanya mulai dari kuning muda sampai coklat muda.

Pada umumnya orang menyenangi lebah hanya karena dapat menghasilkan madu, royal jelly dan lain-lain.Padahal sebagai penyerbuk sari bunga tanaman, nilainya jauh lebih besar (lebih kurang 30 kali) dibanding kan dengan madu dan lilin yang dihasilkannya. Di beberapa negara, misalnya Amerika Serikat, lebih dari satu juta koloni lebah disewa untuk “membantu” menyerbukkan tepungsari (mengawinkan) tanaman pertanian atau perkebunan dengan ongkos sewa sebesar 15- 50 US dollar. Di Jepang kurang lebih 100.000 koloni lebah disewa tiap tahun.

Seperti telah tersebut di atas, sekitar separoh dari hasil madu di dunia ini dihasilkan negara-negara berkembang yang produksinya masih dapat ditingkatkan berlipat kali. Terlebih lagi, situasi pasar hasil lebah dunia saat ini sangat cerah, selain madu, permintaan akan hasil lebah yang lain, seperti: lilin, royal jelly dan tepungsari, makin meningkat. Jadi peluang Indonesia untuk mengekspor komoditi ini masih sangat besar.

Pada tanggal 26 sampai 29 Juli 1994 di UGM Yogyakarta diselenggarakan The Second Asian Apicultural Association Conference (Konferensi Asosiasi Perlebahan Asia ke-II). Konferensi ini terbuka bagi para peternak dan peminat perlebahan yang juga akan dihadiri para pakar perlebahan dari seluruh penjuru dunia. Selama konferensi akan digelar pula Pameran Perlebahan.

Mudah-mudahan konferensi ini dapat meningkatkan minat perlebahan dan menjadi titik awal “era tinggal landas” bagi perlebahan/Apikultura di Indonesia.

Lebah Madu dari Genus Apis
Lebah adalah serangga dari Ordo Hymenoptera yang makanannya tepungsari bunga (pollen) dan nektar. Diseluruh dunia ada kurang lebih 20.000 jenis lebah. Lebah madu termasuk dalam genus Apis dari keluarga Apidae dan sedikitnya ada empat jenis yang sudah dikenal, yaitu: lebah mini atau Apis florea, lebah raksasa atau lebah karang Apis dorsata, lebah Asia (India, Indonesia, Cina, Jepang, dll). Apis cerana, dan lebah madu Eropah atau lebah madu unggul Apis mellifera. Benua Amerika, kepulauan Karibia dan Pasifik (termasuk Australia), tidak mempunyai lebah madu asli. Apis mellifera dari Eropah dibawa ke banyak daerah-daerah lain di dunia ini selama abad yang lalu.

Semua jenis lebah madu adalah serangga yang hidup “bermasyarakat”. Satu koloni lebah madu terdiri dari seekor lebah ratu, beberapa ribu lebah pekerja dan pada musim-musim tertentu sepanjang tahun –beberapa ratus lebah jantan. Di kalangan anggota suatu koloni ada pembagian tugas pekerjaan dan spesialisasi dalam melaksanakan fungsi biologis mereka.

Rancang-bangun sarang semua jenis lebah madu bentuknya sama: terdiri dari rangkaian sel-sel segi enam, terbuat dari lilin yang keluar dari kelenjar lilin lebah pekerja. Lebah mempergunakan sarang-sarang ini untuk membesarkan anak-anak (“brood”)-nya dan untuk menyimpan makanan mereka. Sedangkan pembagian tempat pada sarang untuk semua jenis lebah madu juga sama: madu disimpan dalam sarang bagian paling atas, dibawahnya adalah sederetan sel-sel tempat menyimpan tepungsari bunga, kemudian dibawahnya lagi, sel-sel tempat membesarkan anak-anaknya. Sedangkan sel-sel lebah ratu yang berbentuk kacang-tanah biasanya dibuat pada tepi sarang bagian bawah.

Ekspor madu dari sembilan negara “penghasil madu utama di dunia” pada tahun 1992 sebanyak 194.115 metrik ton, 5% lebih rendah dari pada tahun 1991. Cina adalah negara pengekspor madu terbesar, lebih dari sepertiga jumlah tersebut diatas berasal dari Cina. Ekspor madu Cina mencapai rekor pada tahun 1990 yaitu 88.000 ton. Setelah itu ekspornya menurun, karena penjualan ke Jepang menurun. Meksiko dan Argentina, masing-masing merupakan negara-negara pengekspor madu terbesar kedua dan ketiga.

Ir. Didi Hedianto, adalah alumnus ITB, Bandung, kini tinggal di bangil Jawa Timur

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 23 Juli 1994

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: