Home / Berita / Budaya Sains Masih Minim

Budaya Sains Masih Minim

Di tengah perubahan teknologi dan ilmu pengetahuan yang begitu cepat, budaya sains masih lemah di Indonesia. Padahal, sains bisa menjadi modal utama untuk menyelesaikan masalah bangsa, terutama terkait ketahanan pangan, perubahan iklim, dan perekonomian yang berkelanjutan.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA-;Seorang siswa mengamati hewan anggang-anggang yang telah diawetkan sebagai bahan untuk menentukan ekosistem Sungai Tungtung Gunung, Purbalingga, Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan Elisabeth Rukmini, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Riset, dan Perencanaan Strategis Unika Atma Jaya di Jakarta, Jumat (8/3/2019). “Prof (Paul) Nurse menyebutkan, sains itu jadi pendorong untuk menciptakan iklim ekonomi yang sehat. Sains bisa jadi kata kunci dan solusi bagi masalah dunia. Tanpa sains, masalah bangsa sulit diselesaikan,” ujar seraya mengutip konsep Paul Nurse, penerima Hadiah Nobel di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada 2001 atas penemuannya tentang regulasi siklus sel.

Melihat pemahaman Paul Nurse yang sesuai dengan masalah bangsa Indonesia, Unika Atma Jaya pun berencana mengundang penerima Hadiah Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran tersebut untuk memberikan kuliah umum pada Selasa, 12 Maret 2019 mendatang. Diharapkan, kedatangan Paul bisa membuka pandangan masyarakat akan pentingnya sains dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat.

Elisabeth menambahkan, ada empat hal yang perlu diperhatikan agar budaya sains bisa menjadi kebiasaan di masyarakat. Pertama, kembangkan budaya terbuka serta kebebasan berpikir dan berpendapat. Kedua, kolaborasi lintas sektor, terutama antarlembaga riset dan sektor publik lainnya. Ketiga, melandaskan pemikiran, pendapat, dan perilaku pada bukti empiris, data, observasi, dan eksperimen. Kemudian keempat, pendidikan sains yang mumpuni perlu dibiasakan sejak pendidikan dasar.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM)–Penelitian di laboratorium riset Dexa Laboratories of Biomolecular Science milik PT Dexa Medica di kawasan industri Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

“Semua ini masih jadi tantangan di Indonesia, bahkan jadi tantangan yang berat. Soal pendidikan sains misalnya, untuk membudayakan berpikir kritis itu bukan tanggung jawab pendidikan formal saja tetapi juga dari keluarga. Keluarga perlu membiasakan untuk mengedepankan asumsi ketika melihat suatu hal,” katanya.

Memetik pernyataan Paul Nurse, Elisabeth menyatakan, pada dasarnya setiap orang telah dan terbiasa melakukan sains. Seseorang pasti punya sikap keingintahuan, punya keinginan untuk mengamati dan melakukan percobaan, mau memikirkan solusi akan suatu masalah, serta mau memahami dan membuktikan pernyataannya.

DOKUMENTASI PRIBADI–Yuda Turana

Dekan Fakultas Kedokteran dan Farmasi Unika Atma Jaya Yuda Turana mengatakan, hal lain yang juga perlu ditekankan dalam budaya sains adalah kolaborasi dan integrasi. Menurutnya, tren ke depan tidak ada lagi batasan ilmu untuk dipelajari. Semua saling berhubungan satu sama lain.

Selain itu, sains juga perlu menjadi basis dalam pembuatan kebijakan di pemerintahan. “Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang punya basis ilmiah atau basis sains yang kuat. Sementara, kebijakan di Indonesia masih belum banyak yang berbasis sains. Untuk itu, salah satu tugas perguruan tinggi adalah menyajikan data dan riset yang bisa dipakai untuk pertimbangan kebijakan, ” ucapnya.–DEONISIA ARLINTA

Sumber: Kompas, 8 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: