Home / Berita / Dekatkan Sains pada Realitas

Dekatkan Sains pada Realitas

Guru Ditantang Berkreasi di Tengah Keterbatasan Fasilitas
Pendidikan sains di sekolah diperlukan dalam upaya melatih anak-anak untuk berpikir secara sains sejak dini, yaitu berpikir kritis, mengedepankan nalar, dan menyelesaikan masalah. Saatnya sains dikemas lebih dekat pada kehidupan sehari-hari tanpa terpaku pada buku teks.

Tantangan utama ialah bagaimana guru di sekolah bisa mengajarkan konsep sains secara benar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Keterbatasan sarana dan prasarana untuk belajar sains yang menyenangkan bisa diatasi dengan guru yang kreatif mengajarkan sains,” kata Direktur PT Kuark Internasional Sanny Djohan dalam pembukaan babak penyisihan Olimpiade Sains Kuark (OSK) Ke-11 di SDN Malaka Jaya 08 Jakarta, Sabtu (18/2).

Kali ini, peserta olimpiade mencapai lebih dari 92.000 siswa kelas I-VI SD dari 34 provinsi. Penyelenggaraan OSK yang terbuka untuk semua siswa SD kelas I-VI itu bertujuan mengajak anak-anak cinta sains.

Gerakan cinta sains yang digagas lewat OSK terus berkembang di sejumlah daerah, salah satunya di Pulau Kisar, Maluku. Pelopor Gerakan Kisar Cerdas, Samuel J Hooru, mengatakan, di pulau ini, anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan sejenis olimpiade yang terbuka bagi semua siswa. Sebanyak 610 siswa dari 19 SD di pulau kecil itu ikut serta memetik pengalaman kompetisi.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Siswa mencoba memindahkan bola pingpong dengan cara meniup di area pelaksanaan babak penyisihan Olimpiade Sains Kuark 2017 di SDIT Latansa Cendekia, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (18/2). Olimpiade Sains Kuark 2017 diikuti lebih dari 92.000 siswa SD/MI di seluruh Indonesia. Babak penyisihan olimpiade ini dilaksanakan serentak di 293 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Alat sederhana
Menurut Sanny, peserta OSK tidak diseleksi dari siswa yang pandai saja. Pada tahap awal, semua siswa bisa ikut karena tujuannya untuk memberikan pengalaman berkompetisi yang menyenangkan sehingga timbul rasa percaya diri bagi anak.

Kepala SDN Malaka Jaya 08 Jakarta Sucipto mengatakan, siswa-siswanya antusias mengikuti OSK. Siswa belajar mengenai beragam energi dan konsep perubahan energi, misalnya dengan menyusun enam kaleng bekas menjadi menara, lalu siswa menjatuhkannya dengan memakai katapel gelang karet dan kertas sebagai proyektil. Lewat permainan ini, siswa belajar konsep perubahan energi, yaitu energi potensial pegas (karet) menjadi energi gerak (mekanik).

Pendidikan sains di Indonesia masih menjadi tantangan. Dari hasil Programme for International Students Assessment 2015 oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), kompetensi sains dan matematika siswa SMP Indonesia masih di tahap menghafal dan minim di tahap menalar, apalagi mengaplikasikan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, Indonesia didorong meningkatkan daya saing lewat inovasi yang didapat dari riset. Selain itu, hanya 35 persen mahasiswa di perguruan tinggi yang memilih bidang sains, technology, engineering, dan mathematics (STEM). Akibatnya, Indonesia kekurangan ahli di bidang ini.

Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria mengatakan, ranah sains bukan hanya milik ilmuwan. Dalam konteks informasi massal yang mengalir cepat dan berubah, setiap orang perlu berpikir logis dengan mempertimbangkan fakta dan menyimpulkannya. (ELN)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Februari 2017, di halaman 11 dengan judul “Dekatkan Sains pada Realitas”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: