BRG Kantongi Daerah Potensial Pengembangan Sagu

- Editor

Jumat, 10 Juli 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanaman sagu yang hidup di berbagai daerah di Indonesia bisa menjadi andalan komoditas tahan genangan bagi restorasi gambut. Selain menjaga gambut tetap basah, sagu pun bermanfaat bagi masyarakat.

Sejak tahun 2017 Badan Restorasi Gambut memetakan lokasi indikatif untuk pengembangan sagu. Lokasinya tersebar di tujuh provinsi prioritas areal kerja badan tersebut.

Lokasinya berada di Riau (300.000 ha), Jambi (57.000 ha), Sumatera Selatan (113.000 ha), Kalimantan Barat (232.000 ha), Kalimantan Tengah (547.000 ha), Kalimantan Selatan (15.000 ha), dan Papua (112.000 ha).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Daerah tersebut cukup signifkan untuk bisa dikembangkan sebagai potensi produksi sagu. Tetapi ini hanya hitungan indikatif di atas peta dan masih butuh penajaman dan pendalaman lebih detail jika ingin menanamkan sagu,” ujar Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG Haris Gunawan dalam diskusi daring bertajuk ”Sagu di Lahan Gambut untuk Ketahanan Pangan”, Kamis (9/7/2020).

Saat ini, BRG melakukan penilaian kelayakan komoditas asli dan ramah gambut untuk pengembangan dan pembuatan skema implementasi. Diharapkan, pada 2021-2025 dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk merestorasi ekosistem gambut secara holistik dan lestari

Haris Gunawan mengemukakan, sagu adalah sumber karbohidrat tinggi yang bebas gluten dan rendah gula. Namun, sagu belum dimanfaatkan secara maksimal.

Kenaikan suhu dua derajat celsius akan menurunkan produktivitas padi antara 6 dan 8 persen. Namun, hal ini tidak terlalu berpengaruh pada produktivitas sagu karena komoditas ini lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Menurut Haris, program restorasi gambut dapat dilakukan dengan mengembangkan sagu yang berbasis sistem manajemen berkelanjutan. Namun, pengembangan harus tetap mengintegrasikan aspek 3R, yakni rewetting, revegatition, dan revitalization.

Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University Mochamad Hasjim Bintoro mengatakan, sagu tumbuh di ketinggian 0-1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Produksi sagu dapat lebih optimal jika ditanam di daerah dengan ketinggian 5-400 meter dpl.

Produksi sagu tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Papua menjadi wilayah dengan produksi sagu terbesar dengan luas lahan produksi mencapai jutaan hektar. Adapun wilayah lainnya yang juga menjadi ladang sagu antara lain Maluku serta beberapa daerah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Olahan sagu
Duta Pangan Bijak Nusantara dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti, Saptarining Wulan, mengatakan, masyarakat belum banyak mengetahui bahwa sagu dapat diolah menjadi beras analog, mi sagu, pati sagu, dan aneka makanan ringan. Masyarakat perlu dikenalkan dengan sagu dan diberi pengetahuan akan aneka olahannya agar komoditas ini semakin diterima masyarakat luas.

”Jadi tidak perlu aturan-aturan dari pemerintah untuk memakan makanan lokal. Jika makanan lokal itu olahannya baik dan rasanya enak juga pasti akan dicari masyarakat,” katanya.

Saat ini, Wulan dan rekan-rekannya tengah gencar menyosialisasikan sagu melalui seminar hingga lomba mengolah sagu bagi pelajar SMK ataupun mahasiswa di bidang tata boga. Sosialisasi ini penting agar pelajar tidak hanya mendapat pengetahuan olahan tepung atau terigu saja.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 9 Juli 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Berita ini 35 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB