Home / Berita / Restorasi Gambut, Mappi Mengandalkan Sagu

Restorasi Gambut, Mappi Mengandalkan Sagu

Program restorasi gambut di Kabupaten Mappi, Papua mengandalkan penanaman sagu untuk memperbaiki area gambut yang terbuka maupun terbakar. Pemilihan sagu ini untuk menjaga kemandirian pangan masyarakat setempat serta membuka peluang perekonomian komoditas tepung nabati ini di masa mendatang.

Di Mappi, kabupaten sebelah timur Merauke ini, terdapat 25.536 hektar target restorasi Badan Restorasi Gambut (BRG). Di Provinsi Papua, restorasi dijalankan di Asmat, Boven Digoel, Mappi, dan Merauke dengan luas lahan 39.239 hektar. Angka ini kecil dibandingkan target restorasi 2,6 juta hektar di tujuh provinsi.

KOMPAS Untuk Jelajah Kuliner Nusantara–Sambil menggendong Lobeca, anaknya, Agustina mengumpulkan sagu yang telah dipangkurnya di hutan di pinggir Sungai Welderman, Distrik Kaibar, Kabupaten Mappi, Papua, Sabtu (24/8/2013).

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead, Rabu (8/5/2019), di Jakarta, mengatakan, restorasi gambut di Papua dilakukan dengan revegetasi dan revitalisasi. Berbeda dengan di Sumatera dan Kalimantan, restorasi dilakukan dengan program lengkap 3R, yaitu rewetting, revegetasi, dan revitalisasi. Rewetting atau pembasahan kembali dilakukan dengan membangun sekat pada kanal-kanal yang telanjur dibuka.

Di Mappi, revegetasi dengan melakukan penanaman tanaman sagu yang menjadi sumber karbohidrat masyarakat setempat. Sejak tahun lalu, BRG bersama Pemkab Mappi mendampingi tujuh kampung dalam kegiatan penanaman sagu dengan luas 34,5 hektar. Pada 2019 ini, penanaman diperluas pada 15 kampung lain seluas 75 hektar.

Nazir mengatakan, revitalisasi disiapkan dengan membangun kilang-kilang sagu agar dapat meningkatkan produk sagu seperti tepung sagu. Nazir mengatakan sagu memiliki produktivitas menghasilkan karbohidrat sebanyak 80 ton per hektar per tahun. Produktivitas ini jauh lebih tinggi dibandingkan singkong maupun padi yang sekitar 15 ton per ha per tahun.

“Sagu ini juga tanaman di gambut. Jadi pas sekali usulan Pak Bupati ini. Kami harap gambut di Papua bisa dijaga dengan baik dan taraf hidup masyarakat bisa terbangun dengan lebih baik lagi seperti yang selama ini dipesankan Bapak Presiden,” kata dia.

Dikembangkan
Rudy Priyanto, Kepala Kelompok Kerja Wilayah Kalimantan dan Papua BRG, mengatakan, penanaman sagu pada demplot-demplot di kampung tersebut diharapkan bisa diperluas oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Kegiatan awal berupa pemulihan area gambut ini diikuti pemanfaatannya lebih lanjut.

Upaya meningkatkan produk dan olahan sagu, kata dia, telah dilakukan dengan membawa beberapa orang masyarakat melihat pengelolaan sagu di Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti, Riau. Bahkan petani sagu di Tebing Tinggi juga dikirimkan ke Mappi untuk mengajari masyarakat setempat mengelola kebun sagu.

“Kami selalu komunikasi dengan bupati untuk pengembangannya. Tahun depan akan kami kembangkan sampai pengolahannya. Mendatangkan mesin-mesin pengolahan sehingga bisa mengubah sagu menjadi bahan jadi,” kata dia.

Bupati Mappi Kristosimus Yohanes Agawemu mengatakan, restorasi gambut yang dikerjakan BRG ini seiring dengan rencana pembangunan jangka menengah daerahnya. “Kami konsentrasi ke sagu karena masyarakat Mappi seperti Papua pada umumnya familiar dengan sagu,” kata dia.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Badan Restorasi Gambut sejak tahun lalu bekerja di Kabupaten Mappi, Papua untuk merestorasi gambut setempat yang rusak. Restorasi dilakukan dengan revitalisasi atau pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penanaman sagu serta pengolahannya. Tampak berfoto dari kiri Rudy Priyanto (Kepala Kelompok Kerja Wilayah Kalimantan dan Papua BRG), Nazir Foead (Kepala BRG), Kristosimus Yohanes Agawemu (Bupati Mappi), Myrna A Safitri (Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG), Rabu (8/5/2019), di Jakarta.

Kristosimus menyebutkan, masyarakat menyambut baik program BRG dan pemda untuk penanaman sagu. Apalagi, penanaman dilakukan di lahan-lahan masyarakat sehingga bisa dipanen dalam 8-9 tahun mendatang.

Terkait area demplot restorasi yang masih sangat kecil sekitar 110 hektar dalam dua tahun terakhir, Kristosimus mengatakan hal itu akan diperluas di masa mendatang. Ia mengatakan wilayah Mappi (dan Kabupaten Jayapura) telah ditunjuk Gubernur Papua sebagai daerah prioritas pengembangan potensi, budidaya, dan pengelolaan sagu.

“Dari eksisting 3.000 hektar kebun sagu saat ini, kami harap di masa depan bisa mencapai 5.000 hektar di 15 distrik (kecamatan) di Mappi,” kata dia.

Sebagian lokasi lain yang menjadi target restorasi di Mappi (seluas 25.536 hektar) masih akan dibahas lebih lanjut teknis restorasinya. Ia pun mendorong masyarakat tidak hanya mengandalkan BRG dan pemda dalam restorasi gambut namun bisa menyisihkan dana desa untuk pengembangan ekonomi yang seiring dengan revitalisasi gambut.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 9 Mei 2019

Share
x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: