Home / Berita / Berpikir Telaten di Belantara Digital

Berpikir Telaten di Belantara Digital

Generasi milenial tak hanya keranjingan swafoto dan ngrumpi di kafe. Sebagian di antara mereka juga tertarik pada dunia riset yang butuh ketelatenan. Karya inovatif anak remaja itu dibuktikan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia 2017 di Malang, Jawa Timur, pekan lalu.

Beberapa bulan terakhir, Muhammad Luthfi (16) giat berselancar di dunia maya. Ujung jarinya piawai mengutak-atik Android dan laptop guna mempelajari bahasa pemrograman. Siswa kelas XII Jurusan IPA SMAN 1 Lamongan, Jawa Timur, itu tengah meneliti bagaimana membuat kandang yang bisa meningkatkan produktivitas ayam petelur sekaligus ”aman” buat peternak.

Bersama teman satu sekolah, Hariza Rahmah (17), Luthfi akhirnya berhasil merampungkan penelitian tersebut. Karya tulis ilmiah bertajuk ”Implementasi Internet of Things dalam Rancang Bangun Sistem Kandang Ayam Petelur Pintar dengan Aplikasi Android” tersebut mereka ajukan dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2017 yang dipusatkan di Malang.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Mengenakan pakaian tradisional, finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia asal SMAS Raudhatul Fuqara Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, tengah berkoordinasi di dekat booth mereka, di Dome Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, Rabu (11/10). Sebanyak 90 naskah dari tiga kategori, yakni sains dan teknologi, matematika dan rekayasa, serta sosial dan humaniora menjadi finalis OPSI kali ini.

Hasil penelitian remaja asal Desa Sumberjo, Kecamatan Sarirejo, Lamongan, tersebut tembus babak final OPSI yang dipresentasikan pada 9-14 Oktober lalu. Mereka lolos bersama 89 finalis lain dari sejumlah daerah di Tanah Air. Luthfi dan Hariza menjadi salah satu peraih medali emas.

Bukan kali ini saja Luthfi menjajal dunia riset. Sebelumnya, dia juga pernah meneliti yang hasilnya diajukan pada ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO). ”Alhamdulillah saat itu saya juga dapat emas di bidang komputer,” katanya.

Pada ISPO beberapa bulan lalu, Luthfi bersama rekannya, Shylvia C Sholihah, juga meneliti tempat sampah yang terhubung ke aplikasi Android. Mereka kemudian mewakili Indonesia dalam ajang internasional di Romania.

Meskipun beberapa kali menyabet medali emas, Luthfi tidaklah memiliki cara belajar yang khusus. Ia belajar setiap hari seperti siswa pada umumnya.

Luthfi juga mengaku tidak ada keluarga ataupun tetangga yang menginspirasinya untuk meneliti selain guru di sekolah. Ayahnya ”hanya” pedagang air mineral. Ide meneliti kandang ayam—dengan aplikasi eChick yang ia buat—justru terinspirasi oleh kandungan bibinya yang pernah mengalami keguguran lantaran (diduga) terlalu sering masuk kandang ayam.

Selain itu, harga telur yang tidak pasti dan produktivitas telur ayam yang ternyata sangat dipengaruhi gangguan aktivitas manusia di dalam kandang juga memancing hasratnya untuk meneliti topik itu.

Kesulitan menulis
Hariza yang hidup dalam lingkungan kerabat peternak ayam petelur tak menampik kesulitan dalam proses penulisan karya ilmiah. Di situlah, bantuan guru pembimbing Retno Suprihjatiningsih berperan. ”Penelitian dari awal berdua. Saya bagian yang bikin makalah, sedangkan Luthfi bagian program buat aplikasi,” kata Hariza.

Remaja lain yang menyisihkan waktunya untuk meneliti adalah I Dewa Gede Wicaksana P (17) dan Yuan Dwi Kurniawan (16) dari SMAN Bali Mandara, Bali. Keduanya membuat alat pendeteksi sapi birahi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi. Dewa dan Yuan menyabet medali emas untuk bidang sains dan teknologi di OPSI kali ini.

Bersama guru pembimbing Kadek Yuli Artama, Dewa dan Yuan harus kerja keras. Mereka tidak saja harus mencari sensor dan peralatan yang dibutuhkan, tetapi juga mencari data di lapangan, termasuk kepada para peternak sapi.

Alat deteksi tersebut dibuat Dewa dan Yuan untuk memprediksi masa birahi sapi betina berdasarkan empat indikator: suhu tubuh, frekuensi napas, detak jantung, dan pergerakan sapi. Selama ini peternak di Bali hanya melakukan pengamatan secara fisik jika ingin mengetahui sapinya birahi atau tidak.

Pengamatan seperti itu kerap meleset. Tidak jarang peternak rugi. Harap maklum, untuk mendatangkan sapi jantan (buat mengawini sapi betina), petani harus membayar Rp 100.000-Rp 150.000 sekali kawin.

Masih ada puluhan karya lainnya yang patut diacungi jempol. Ignatius Vito WPH dan Attar Husna F dari SMAN 8 Yogyakarta, misalnya, membuat penelitian ”Aplikasi Laser Distance Meter pada Rem Otomatis Sepeda Motor untuk Mengatasi Kecelakaan Lalu Lintas”.

Adapun Haidar Azzamuddin dan Riska Fajriana PR dari MAN 3 Malang meneliti ”Efikasi Jamu Pepaya Jantan dalam Pengobatan Penyakit Malaria Stadium Akhir”. Kedua penelitian terakhir ini pun meraih medali emas.

Begitulah, penelitian oleh remaja di Tanah Air tetap bergeliat di era digital. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, setiap tahun jumlah peserta OPSI terus meningkat. Penelitian bukan lagi didominasi pelajar dari kota-kota besar. OPSI tahun ini, misalnya, menjaring 2.092 pendaftar, termasuk dari Papua dan Nusa Tenggara Timur.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Purwadi Sutanto mengemukakan, pemerintah berusaha menyediakan banyak wahana yang bisa menampung prestasi siswa, baik yang berwujud olahpikir, olahrasa, maupun olahraga.–DEFRI WERDIONO

Sumber: Kompas, 19 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: