Home / Berita / Berkompetisi dengan Mesin di Era 4.0

Berkompetisi dengan Mesin di Era 4.0

Era 4.0 akan mengubah struktur dan lapangan pekerjaan. Sejumlah pekerjaan akan tergantikan mesin. Namun, kemampuan analitik nonrutin dan interaktif nonrutin tidak akan tergantikan mesin.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (dua dari kanan) bersama Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan saat dialog interaktif dalam Munas Asosiasi Pengusaha Indonesia X, di Jakarta, Selasa (24/4/2018). Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha akan mengatasi tantangan industri digital yang mengedepankan otomasi industri.

Konsep otomatisasi dalam Revolusi Industri 4.0 akan mengubah struktur dan lapangan pekerjaan. Kajian McKinsey Global Institute pada 2017 menyebutkan, sekitar 50 persen aktivitas manusia dalam pekerjaan global bisa digantikan mesin.

Pekerjaan yang paling rentan diganti otomasi ialah pekerjaan yang mengandalkan aktivitas fisik berulang dan pengolah data. Sedangkan pekerjaan yang sulit diotomasi di antaranya manajerial yang membutuhkan keahlian spesifik dan interaksi dengan para pihak.

Secara lebih rinci, Klaus Schwab, ekonom dunia asal Jerman, dalam bukunya yang berjudul The Fourth Industrial Revolution mencantumkan 10 jenis pekerjaan yang akan segera punah karena tergantikan oleh mesin, algoritma, komputer, robot, perangkat lunak, dan aplikasi. Jenis-jenis pekerjaan tersebut adalah telemarketer; pegawai persiapan pajak; penilai asuransi; wasit dan petugas official olahraga lainnya; sekretaris hukum; pegawai hotel, restoran, kafe; broker perumahan; buruh tani; sekretaris dan pegawai administrasi; serta kurir dan pesuruh.

Dalam bukunya itu, Schwab juga mencantumkan 10 jenis pekerjaan yang tidak akan tergantikan proses otomasi. Jenis-jenis pekerjaan tersebut meliputi pekerja sosial untuk kesehatan mental dan penyalahgunaan obat-obatan; koreografer; dokter dan ahli bedah; psikolog; manajer SDM; analis sistem komputer; antropolog dan arkeolog; insinyur kelautan dan arsitek angkatan laut; manajer pemasaran; serta pejabat eksekutif tertinggi perusahaan (CEO).

”Pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak hilang karena menggunakan kemampuan berpikir manusia,” kata Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam Diskusi Panel Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (14/1/2020).

Kemampuan berpikir kritis
Berdasarkan kajian Satryo yang dituangkan dalam ACDP-016 Report, MoEC, Indonesia, 2015, ada satu kemampuan yang tidak akan hilang atau tergantikan proses otomasi, yaitu analitik nonrutin dan interaktif nonrutin. Kemampuan berpikir kritis dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks, bukan sekadar menghafal dan melihat/membuka manual.

Banyak jenis pekerjaan ke depan yang tidak ada manual atau pedomannya karena kompleksitas pekerjaan tersebut. ”Perkembangan teknologi komputasi yang sangat cepat ternyata tidak membuat hidup kita lebih mudah, bahkan menjadi lebih kompleks dan membutuhkan kecakapan khusus untuk menanganinya,” kata Satryo.

Namun, jika menilik kondisi di Indonesia, sebagian besar atau sekitar 50,4 persen pekerja berpendidikan sekolah dasar ke bawah (BPS, 2019). Demikian pula jika melihat statistik Pemuda Indonesia 2019, sebanyak 48,04 persen pemuda (usia 16-30 tahun) berpendidikan SMP ke bawah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya saing tenaga kerja Indonesia masih rendah. Mereka yang berpendidikan tinggi pun belum tentu sesuai antara pendidikan dan pekerjaannya.

Padahal, proyeksi pada 2030, Indonesia membutuhkan 113 juta tenaga kerja terampil. Saat ini yang tersedia baru sekitar 57 juta orang. Berbagai pelatihan dibutuhkan agar tenaga kerja Indonesia, terutama yang berpendidikan rendah, memiliki keterampilan yang dibutuhkan pada era 4.0.

Namun, lebih dari itu, pola pendidikan harus diubah dari yang menekankan hafalan menjadi pemelajaran yang mendorong dan menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Bahkan, lebih dari itu, pemelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan sosial peserta didik.

Mengutip majalah The Economist edisi 14 Januari 2017, Satryo mengatakan, kecenderungan pola perekrutan pekerjaan di Amerika Serikat, pasca-1980 yang direkrut adalah mereka yang mempunyai keterampilan sosial yang tinggi, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dan bekerja sama dengan orang lain.

Hal senada dikatakan Kepala Lembaga Demografi Universitas Indonesia Turro S Wongkaren. Dia mengatakan, manusia berkualitas dan berdaya saing tinggi tidak hanya berpendidikan, tetapi juga berkarakter, mampu bekerja sama, dan berkolaborasi.

Kemampuan di luar akademis dan teknis tersebut sangat menentukan untuk berkompetisi dengan mesin di era 4.0 ini. Kemampuan tersebut juga sangat dibutuhkan jika ingin mengoptimalkan 27 juta-46 juta lapangan pekerjaan baru yang bisa diciptakan dalam proses otomasi pada 2030.

Oleh YOVITA ARIKA

Editor YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 26 Januari 2020

Share
x

Check Also

Teleskop Robotik dari Jerman untuk Penelitian di Lampung

Penelitian astronomi di Lampung diharapkan tumbuh seiring adanya kerja sama Institut Teknologi Sumatera dengan produsen ...