McKinsey: 2030, 23 Juta Pekerjaan Hilang, tetapi Akan Muncul 46 Juta Pekerjaan Baru

- Editor

Kamis, 16 Januari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekitar 23 juta pekerjaan diperkirakan akan diambil alih oleh robot pada 2030. Meski begitu, masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir. Ketersediaan pekerjaan justru akan bertambah hingga 46 juta. Pekerjaan itu membutuhkan kemampuan yang lebih lengkap.

KOMPAS/KELVIN HIANUSA–Perusahaan konsultan manajemen multinasional McKinsey melaporkan, 23 juta pekerjaan di Indonesia akan diambil alih robot dalam 11 tahun ke depan.

Perusahaan konsultan manajemen multinasional McKinsey melaporkan, 23 juta pekerjaan di Indonesia akan diambil alih robot dalam 11 tahun ke depan. Pekerjaan itu yang bersifat pengulangan, seperti pengumpul data, pekerja produksi, atau operator mesin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Yang bisa digantikan oleh robot sifatnya seperti tugas, bukan pekerjaan. Biasanya tugas itu hanya pengulangan dan bisa diotomasi, tidak membutuhkan keahlian khusus,” kata Presiden Direktur PT McKinsey Indonesia Phillia Wibowo, Rabu (25/9/2019), di Jakarta.

Meski begitu, masyarakat Indonesia memiliki peluang besar karena tidak semua pekerjaan bisa diotomasi. Akan ada tambahan pekerjaan hingga 46 juta pada 2030.

Sekitar 21,8 juta pekerjaan baru dikontribusikan oleh meningkatnya kelas menengah di masyarakat. Meningkatnya kelas menengah akan menumbuhkan daya beli. Hal itu berujung pada pertumbuhan bisnis yang akan membuat perusahaan menambah pekerja.

Peningkatan daya beli juga akan membuka sekitar 2,6 juta pekerjaan di bidang layanan kesehatan. Sementara itu, akan ada 10 juta pekerjaan baru yang muncul karena perkembangan teknologi. Sekitar 9,4 juta pekerjaan bisa muncul jika investasi pada infrastruktur terus digencarkan.

”Kita akan mendapatkan pekerjaan lebih banyak dibandingkan yang hilang. Kita cukup beruntung karena tidak semua negara mengalaminya. Salah satu faktornya adalah peningkatan ekonomi karena pendapatan masyarakat bertambah akibat lebih banyak masyarakat di usia produktif,” ujar Phillia.

Associate Partner McKisney & Company Vivek Lath menjelaskan, perubahan lanskap pekerjaan itu harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Ke depan, dibutuhkan pengembangan meta skill, soft skill, dan hard skill.

”Meta skill itu seperti mindset, misal orangnya mau terus belajar. Lalu, soft skill lebih ke analisis dan bagaimana penyelesaian masalah yang tidak hanya mengikuti prosedur. Dan terakhir, hard skill, seperti kemampuan data scientist atau data engineer,” kata Patek.

Menurut dia, pengembangan kemampuan itu harus diadaptasi segera, baik oleh pemerintah maupun perusahaan. Beberapa perusahaan teknologi di Indonesia, lanjutnya, sudah mulai beradaptasi dalam pengembangan sumber daya manusia.

”Perubahan itu begitu cepat. Dulu tidak ada yang namanya data scientist, tetapi sekarang begitu banyak yang mencari pekerjaan itu. Kemungkinan-kemungkinan ini yang akan terjadi di masa depan,” ujarnya.

Dalam hal pengembangan sumber daya manusia, pemerintah bisa mencontoh Singapura. Singapura memberikan insentif atau subsidi khusus untuk belajar kemampuan tertentu.

Laporan McKinsey terbaru ini merupakan penelitian yang didasarkan pada analisis 2.000 kegiatan kerja terhadap 800 pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan tersebut sudah disesuaikan dengan perkembangan tren global.

Oleh KELVIN HIANUSA

Editor: M FAJAR MARTA

Sumber: Kompas, 25 September 2019

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 151 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB