Home / Berita / Berisiko Penularan, Jaga Jarak Pengunjung dengan Satwa

Berisiko Penularan, Jaga Jarak Pengunjung dengan Satwa

Operasional pariwisata alam secara bertahap akan dibuka. Agar mengurangi risiko penularan, protokol kesehatan dan jaga jarak tidak hanya perlu diterapkan antarpengunjung, tetapi juga dengan satwa.

Wisatawan menikmati matahari terbit dari atas bukit cinta Bromo di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (16/6/2018). Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terletak di tiga kabupaten di Jawa Timur tersebut menjadi primadona warga mengisi liburan Lebaran.

Pemerintah memutuskan membuka kembali lokasi pariwisata alam pada daerah dengan zona hijau dan kuning secara bertahap selama masa pandemi Covid-19. Agar mengurangi risiko penularan, protokol kesehatan dan jaga jarak tidak hanya perlu diterapkan antarpengunjung, tetapi juga dengan satwa.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi mengatakan, pariwisata alam terutama wisata luar ruang memang memiliki risiko kecil terhadap penularan Covid-19. Namun, dalam perjalanan menuju daerah wisata tersebut rentan terjadi penularan seperti di transportasi publik.

”Perjalanan menuju daerah wisata ini diluar kendali pengelola sehingga perlu diterapkan protokol kesehatan di daerah wisata yang dituju,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (23/6/2020).

Protokol kesehatan dan jaga jarak tidak hanya perlu diterapkan antarpengunjung, tetapi juga dengan satwa. Sebab, dibukanya kembali wisata alam memungkinkan interaksi antara manusia dengan satwa liar. Potensi penularan juga dapat terjadi dari manusia ke satwa liar melalui interaksi, seperti foto bersama, memegang, bahkan memberi makan.

”Semua aktivitas seperti itu benar-benar harus dilarang. Hal tersebut semata-mata untuk mengedepankan keselamatan manusia dan juga satwa liar yang ada di kawasan wisata agar tidak menimbulkan permasalahan baru di masa mendatang,” katanya.

Cahyo juga memandang pariwisata alam yang masih perlu dipertimbangkan untuk dibuka adalah wisata goa, baik wisata umum maupun yang petualangan. Hal ini karena karakteristik gua sebagai tempat yang tertutup, minim sirkulasi, dan kelembaban tinggi sehingga menjadi habitat berbagai jenis biota, salah satunya kelelawar.

”Kelembaban tinggi dan sirkulasi udara yang minim juga meningkatkan risiko untuk penularan antar pengunjung. Dalam konteks potensi penularan ke satwa di goa seperti kelelawar menjadi sangat besar dan ini menjadi suatu hal yang perlu perhatian,” katanya.

Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Hadi S Alikodra menilai pariwisata alam yang berbasis konservasi memang dimungkinkan untuk dibuka kembali di masa pandemi. Sebab, pada masa normal pariwisata tersebut juga sudah didesain untuk kepentingan pegunjung yang terbatas. Berbeda dengan wisata umum yang sepenuhnya mengedepankan rekreasi.

Meski demikian, Hadi menekankan agar protokol kesehatan tetap diterapkan secara ketat. Pengunjung juga dilarang melakukan kontak dengan spesies flora dan fauna yang ada di area wisata untuk mengurangi kemungkinan penyebaran Covid-19.

”Saya lebih khawatir pembukaan tempat wisata umum seperti kebun binatang. Latar belakang pengunjung kebun binatang itu berbeda dengan pengunjung tempat konservasi. Biasanya mereka abai protokol karena tujuannya rekreasi dan mengesampingkan edukasi,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Vita Cecilia menyambut baik kebijakan pemerintah tentang pembukaan wisata alam. Sebab, pandemi Covid-19 dan kebijakan bekerja dari rumah yang diberlakukan sejak Maret lalu sangat berpengaruh bagi para pelaku wisata alam.

”Tantangan terbesar saat pembukaan daerah wisata adalah penerapan protokol kesehatan. Kesiapan pihak pengelola kawasan harus disiplin dalam penerapannya,” katanya.

APGI juga sudah memiliki 10 poin protokol pendakian di masa normal baru yang saat ini masih dalam pembahasan dan finalisasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun, protokol yang sudah dibuat ini bisa jadi tidak dapat dilaksanakan, apabila pengelola tidak tegas dalam pelaksanaannya.

Protokol dan panduan operasional wisata pendakian gunung pada masa pandemi tersebut disusun dari sejumlah referensi, antara lain Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dewan Perjalanan dan Pariwisata Dunia (WTTO), Asosiasi Federasi Pemandu Gunung Internasional (IFMGA), dan Federasi Pendaki Gunung Internasional.

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro di Jakarta, Selasa (23/6/2020) mengatakan, pembukaan pariwisata alam agar diikuti pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa yang diingatkannya adalah pembatasan jumlah pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas, pembersihan tempat wisata secara berkala termasuk disinfeksi di area yang digunakan bersama, penyediaan fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun yang mudah diakses, serta pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk tempat wisata.

Protokol lain adalah mewajibkan penggunaan masker, memastikan seluruh pekerja mengetahui cara melindungi diri dari penularan Covid-19, membatasi jumlah pengunjung dengan penerapan pendaftaran daring, serta melakukan pengawasan ekstra di titik favorit pengunjung dan lokasi foto. Seluruh protokol tersebut sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 382 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum.

”Hindari pula mengajak orang-orang yang rentan terhadap penularan Covid-19, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta ataupun anak-anak yang masih sulit menggunakan masker dengan baik. Usahakan untuk saling mengingatkan jika ada orang lain yang tidak melakukan protokol kesehatan dengan baik,” ujar Reisa.

Dibuka kembali
Dalam konferensi pers secara virtual, Senin (22/6/2020), Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan syarat kawasan pariwisata alam yang diizinkan untuk dibuka adalah berada di kabupaten/kota dalam zona hijau dan/atau zona kuning. Untuk zona lain akan diatur sesuai dengan kesiapan daerah dan pengelola kawasan.

Adapun beberapa kawasan pariwisata alam tersebut terdiri dari kawasan wisata bahari, kawasan konservasi perairan, kawasan wisata petualangan, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan suaka margasatwa. Kemudian taman bumi (geopark) dan pariwisata alam non-kawasan konservasi antara lain kebun raya, kebun binatang, taman safari, desa wisata, dan kawasan wisata alam yang dikelola oleh masyarakat.

”Dengan persiapan-persiapan secara terukur dan terus-menerus oleh pemerintah bersama-sama pemerintah daerah, hari ini saya akan mengumumkan kawasan-kawasan pariwisata alam yang direncanakan akan dibuka secara bertahap,” kata Doni.

Doni Monardo, yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan, pengambilan keputusan pembukaan kawasan pariwisata alam yang berada di 270 kabupaten/kota pada zona hijau dan zona kuning agar melalui proses musyawarah dengan forum komunikasi pimpinan daerah. Ia pun mengingatkan agar forum tersebut juga mengikutsertakan pengelola kawasan pariwisata alam, Ikatan Dokter Indonesia di daerah, pakar epidemiologi, pakar kesehatan masyarakat, pakar ekonomi kerakyatan, tokoh agama, tokoh budaya, tokoh masyarakat, tokoh pers, penggiat konservasi, dan dunia usaha khususnya pelaku industri pariwisata.

”Saya juga mengingatkan agar para bupati/walikota selalu melakukan konsultasi dengan gubernur dan mengacu kepada regulasi yang sudah dibuat oleh pemerintah pusat terkait kebijakan menuju masyarakat produktif dan aman Covid-19,” kata Doni.

Apabila dalam perkembangan ditemukan kasus Covid-19 atau pelanggaran terhadap ketentuan di kawasan pariwisata alam, tim gugus tugas kabupaten/kota akan melakukan pengetatan atau penutupan kembali setelah berkonsultasi dengan gugus tugas provinsi dan gugus tugas pusat.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyatakan akan membuka kembali wisata alam yang berisiko rendah terhadap penularan Covid-19. Pembukaan diharapkan dapat menggerakkan kembali perekonomian masyarakat, khususnya di sektor pariwisata

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyampaikan, pihaknya mencatat terdapat 29 taman nasional dan taman wisata alam yang secara bertahap sudah dapat dibuka. Proyeksi waktu pembukaan taman dilakukan sejak 22 Juni hingga pertengahan Juli 2020.

Adapun taman nasional dan taman wisata alam yang dapat dibuka berada di wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Bali.

Kawasan konservasi seperti taman nasional mulai ditutup dari aktivitas pariwisata oleh KLHK sejak Covid-19 mulai menyebar di Indonesia pada awal Maret lalu. Penutupan ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran zoonosis atau penyakit dari satwa ke manusia.

”Beberapa taman nasional yang akan dibuka, seperti Gunung Gede Pangrango, Bromo Tengger Semeru, dan Rinjani, memang memiliki langkah reguler untuk diistirahatkan dari aktivitas wisata. Namun, selama penutupan kami tetap mengikuti aktivitasnya,” ujarnya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 24 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: