Home / Berita / Daerah Pantura Surabaya-Semarang Berisiko Tinggi Covid-19

Daerah Pantura Surabaya-Semarang Berisiko Tinggi Covid-19

Risiko penularan Covid-19 meningkat di daerah sepanjang pantai utara Jawa, dari Surabaya hingga Semarang, akibat padatnya transportasi. Pemerintah daerah setempat harus menerapkan protokol ketat di pintu masuk wilayah.

Daerah-daerah di sepanjang pantai utara Jawa, dari Surabaya hingga Semarang, mengalami peningkatan risiko penularan Covid-19. Tingginya risiko penularan di jalur darat terpadat di Pulau Jawa ini terkait dengan simpul-simpul transportasi.

Data ini dilaporkan tim KawalCOVID19.id berdasarkan pantauan pada 14-28 Juni 2020. ”Daerah yang merah di jalur pantai utara ini mulai dari Surabaya, Gresik, Tuban, Lasem, Rembang, Kudus, Demak dan Semarang. Hanya Pati yang jadi pengecualian,” ujar Koordinator Data KawalCOVID19.id Ronald Bessie, Senin (29/6/2020).

Indeks Kewaspadaan KawalCOVID19.id merupakan sistem yang memberikan gambaran relatif tentang besarnya risiko penyebaran di level kota/kabupaten. Semakin tinggi skornya, semakin tinggi risikonya. Hasil penilaian Indeks Kewaspadaan divisualisasikan dalam peta interaktif yang dimutakhirkan tiap hari. Semakin tinggi risiko penyebaran, warna kabupaten tersebut akan semakin tua.

Berdasarkan data ini, daerah dengan indeks risiko tertinggi berturut-turut ialah Surabaya yang mencapai 15,32 dengan jumlah kasus 118 per 100.000 penduduk. Surabaya hingga saat ini menjadi kota dengan kasus tertinggi dan jumlah kematian terkait Covid-19 terbanyak.

Sementara Gresik memiliki indeks risiko 12 dengan kasus 16,8 per 100.000 penduduk. Jepara memiliki indeks risiko 8,43 dengan kasus 8,25 per 100.000 penduduk, Demak indeks risiko 8,17 dengan kasus 17,27 per 100.000 penduduk, dan Semarang indeks risiko 6,2 dengan kasus 75 per 100.000 pernduduk.

Peta risiko penularan Covid-19 di Indonesia berdasarkan analisis KawalCovid-19.id, semakin merah, semakin tinggi risikonya. Selain itu, menurut Ronald, kabupaten-kabupaten yang bersebelahan dengan jalur pantura, seperti Bojonegoro, Blora, dan Grobogan, memiliki risiko lebih tinggi karena interaksi warga lokal dengan penduduk kabupaten sebelahnya.

Menurut dia, tren penularan via pantura antara Surabaya-Semarang makin terlihat selama dua minggu ini. Namun, jalur pantura dari Semarang-Jakarta tidak menunjukkan kenaikan risiko walaupun merupakan bagian dari rute yang sama.

”Di Indeks Kewaspadaan, hal ini disebabkan kota-kota pantura antara Semarang-Jakarta memiliki rasio lacak dan isolasi serta rasio tes yang lebih baik daripada kota-kota di jalur Surabaya-Semarang,” kata Ronald.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia Harya S Dillon mengatakan, ”Sebaran Indeks Kewaspadaan ini mengindikasikan bahwa risiko infeksi berkorelasi dengan simpul-simpul transportasi.”

Oleh karena itu, menuru Haryam, selain penegakan protokol kesehatan yang sudah diatur, seperti penggunaan masker, menjaga jarak, dan cuci tangan, dibutuhkan juga karantina, tes, dan pelacakan kontak. ”Ingat, virusnya tidak pilih-pilih. Semua bisa tertular dan menulari, tidak hanya penumpang pesawat atau bus, tapi juga pengguna mobil pribadi. Kalau kita tidak disiplin, virusnya akan terus menyebar,” ujarnya.

Terkait dengan tingginya tingkat kewaspadaan Covid-19 di jalur pantura Semarang-Surabaya, epidemiolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Bayu Satria Wiratama, menyampaikan, ”Pemerintah kota/kabupaten perlu menerapkan protokol kesehatan yang ketat pada setiap pintu masuk kota/kabupaten terutama area peristirahatan, pom bensin, rumah makan, terminal bus dan stasiun kereta.”

Protokol kesehatan ini meliputi pemisahan tempat makan atau singgah bagi orang dari luar kota dengan warga setempat. Selain itu, harus pemantauan ketat dengan pendataan identitas bagi orang-orang yang masuk ke daerah, termasuk mereka yang singgah, juga harus dilakukan.

Sementara itu, untuk mencegah meluasnya penularan, jalan tikus antarkota sebaiknya ditutup. Penyuluhan secara berkala di setiap lokasi yang merupakan pintu masuk daerah juga harus dilakukan.

”Pendataan identitas orang yang masuk, termasuk transit, merupakan salah satu komponen terpenting dalam penanganan Covid-19 di daerah yang menjadi destinasi akhir maupun tempat transit pelaku perjalanan,” tuturnya.

Menurut Bayu, keberadaan catatan identitas yang rapi akan memudahkan pemerintah kota/kabupaten untuk melakukan pelacakan kontak apabila ada kasus yang diduga berasal dari pelaku perjalanan.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 29 Juni 2020

Share
x

Check Also

Diduga Kuat Covid-19 Bisa Menular Melalui Udara

WHO sedang mengkaji masukan sejumlah peneliti yang menyebutkan virus SARs-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, bisa menular ...

%d blogger menyukai ini: