Home / Berita / Masyarakat Surabaya dan Jakarta Mengabaikan Risiko Covid-19

Masyarakat Surabaya dan Jakarta Mengabaikan Risiko Covid-19

Masyarakat di DKI Jakarta dan Kota Surabaya dinilai masih cenderung mengabaikan protokol kesehatan. Hal itu disebabkan mereka belum sepenuhnya memahami risiko penularan Covid-19.

Masyarakat Jakarta dan Surabaya masih belum memahami risiko penularan Covid-19 dengan baik, bahkan cenderung meremehkannya. Kondisi itu dinilai berpengaruh pada perilaku abai terhadap protokol kesehatan sehingga menyebabkan penularan Covid-19 menjadi sulit dihentikan.

“Indeks persepsi risiko masyarakat Surabaya sebesar 3,42 sedikit lebih tinggi dibandingkan Jakarta sebesar 3,3,” kata Sulfikar Amir, sosiolog bencana dari Nanyang Technological University (NTU) memaparkan hasil survei yang dilakukan bersama Laporcovid19.org, di Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Indeks risiko ini untuk mengetahui tingkat pemahaman, pengetahuan, serta perilaku masyarakat terkait risiko Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona tipe baru. Sekalipun sedikit lebih tinggi dari Jakarta, namun tingkat persepsi masyarakat di Surabaya juga belum memenuhi ambang minimal 4.

“Jika diterjemahkan ke dalam bahasa kebijakan, pelonggaran pembatasan sosial belum bisa diterapkan di Surabaya karena masih rendahnya persepsi risiko warga,” kata Sulfikar.

Studi di Surabaya dilakukan dari tanggal 19 Juni hingga 10 Juli 2020 dan berhasil mendapatkan 5.904 responden yang tersebar di seluruh wilayah kota Surabaya. Sedangkan, survei di Jakarta dilakukan dari tanggal 29 Mei hingga 20 Juni 2020 dan berhasil mendapatkan lebih dari 200.000 responden.

Dari dua survei ini diperoleh data bahwa masyarakat di dua kota yang saat ini memiliki jumlah kasus dan korban jiwa akibat Covid-19 paling tinggi di Indonesia belum sepenuhnya memahami risiko penyakit menular ini.

Sebagai contoh, 59 persen responden di Surabaya juga mengatakan, kemungkinan mereka terpapar Covid-19 sangat kecil dan kecil. Sulfikar menyebut, temuan itu lebih baik jika dibandingkan dengan DKI Jakarta yang 77 persen responden menjawab risiko terjangkit Covid-19 sangat kecil dan kecil.

Selain itu, 59 persen responden di Surabaya cenderung menganggap enteng kemungkinan mereka terkena Covid-19. Sebagian besar responden juga tak percaya keluarga atau orang terdekat mereka terpapar Covid-19.

Survei ini juga menemukan, mayoritas warga di Surabaya mengaku menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker saat keluar, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Namun demikian, jawaban ini tidak konsisten dengan variabel lain tentang pengetahuan dan persepsi risiko, sehingga disimpulkan, perilaku sehat ini belum terinternalisasi dalam keseharian masyarakat.

Risiko penularan
Epidemiolog Laporcovid19.org, Iqbal Elyazar mengatakan, dari aspek epidemiologi risiko penularan di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Surabaya, masih sangat tinggi. Itu ditandai dengan terus terjadinya penambahan kasus harian dan tingginya positivity rate atau jumlah kasus yang ditemukan dari tiap pemeriksaan. “Angka positivity rate yang tetap tinggi sekalipun jumlah tes meningkat menunjukkan penularan di masyarakat terus tinggi,” katanya.

Bahkan, menurut Iqbal, hingga saat ini Indonesia belum memasuki puncak pandemi. “Untuk Jawa, hanya soal waktu daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah, akan separah Jawa Timur kasusnya karena tidak ada pembatasan antara wilayah dan perilaku masyarakatnya juga relatif sama, yang membedakan mungkin jumlah tes,” kata dia.

Daerah-daerah lain di luar Pulau Jawa, juga berpeluang mengalami situasi yang sama dengan Jawa, namun lebih lambat penularannya karena lebih rendah mobilitas dan kepadatan penduduknya. “Sebaiknya, daerah-daerah itu juga bersiap, jangan merasa aman,” ujarnya.

Agar warga menyadari risiko sesungguhnya Covid-19, pemerintah perlu lebih transparan mengenai kondisi dan dampak yang sekarang terjadi. Sebagai contoh, jumlah korban yang meninggal harus dibuka, bukan hanya yang terkonfirmasi positif, namun juga yang meninggal sebelum dites namun dengan gejala klinis Covid-19.

Data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada Kamis menunjukkan, jumlah korban jiwa di Indonesia sebanyak 3.873 orang dari 81.668 orang yang terinfeksi. Padahal, data Rumah Sakit Online, yang menghitung total orang yang meninggal terkait Covd-19, jumlah korban jiwa hingga Rabu malam telah mencapai 15.497 orang.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 17 Juli 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: