Home / Berita / PSBB Jakarta Perlu Dukungan Daerah Sekitar

PSBB Jakarta Perlu Dukungan Daerah Sekitar

Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang akan diterapkan di Jakarta akan efektif menekan penularan penyakit Covid-19 apabila didukung daerah sekitarnya.

Pembatasan sosial berskala besar atau PSBB yang menurut rencana akan diberlakukan kembali di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta bakal kurang efektif menurunkan laju penularan Covid-19 jika tidak didukung daerah sekitarnya. Jika diberlakukan secara ketat dan serentak, pembatasan tidak perlu berlarut-larut sehingga warga bisa lebih cepat melakukan aktivitas.

”Kalau pembatasan sosial di Jakarta tidak didukung oleh Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, dan Depok, itu akan jadi kurang efektif karena penularan bisa terjadi bolak-balik anarwilayah. Mobilitas penduduk di Jakarta juga sangat dipengaruhi wilayah penyangga sekitarnya,” kata epidemiolog Indonesia di Griffith University, Dicky Budiman, Jumat (11/9/2020).

Menurut Dicky, pembatasan sosial yang berlarut-larut juga tidak akan efektif karena akan membuat masyarakat bosan dan semakin lama ekonomi akan semakin terdampak. Namun, agar pembatasan menjadi efektif, harus dilakukan dengan tegas dan kompak. Hal ini tidak bisa hanya diserahkan kepada daerah, tetapi perlu kepemimpinan secara nasional.

Mengacu pada negara-negara lain yang berhasil mengendalikan wabah, seperti Selandia Baru dan China, pembatasan sosial harus diikuti dengan menutup mobilitas antarwilayah. ”Pembatasan baru bisa dilonggarkan rasio positif kurang dari 5 persen, dengan catatan jumlah tes sudah memenuhi standar dan tanpa kasus kematian,” ujarnya.

Sementera hasil studi yang dilakukan Nanyang Technological University (NTU) Singapura besama Laporcovid19.org yang dirilis pada hari yang sama menemukan, indeks persepsi risiko masyarakat Kota Bogor terhadap Covid-19 sangat rendah, yaitu hanya 3,21 dari skala 5. Angka ini lebih rendah dari persepsi risiko warga DKI Jakarta seesar 3,46 yang disurvei pada awal Juli lalu.

Survei yang didukung oleh Pemerintah Kota Bogor ini dilakukan sejak 15 Agustus sampai 1 September dan diisi oleh 21.544 responden. ”Jika diterjemahkan ke dalam bahasa kebijakan, skor ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Bogor harus melakukan pembatasan skala besar bersamaan dengan usaha edukasi, penguatan protokol kesehatan, dan insentif ekonomi,” kata Sulfikar Amir, pengajar di NTU.

Rendahnya tingkat persepsi masyarakat ini karena sebagian besar masyarakat belum memahami tingginya risiko penularan saat ini. Sebagian besar responden beranggapan kemungkinan terkena Covid-19 sangat kecil, sebanyak 41,97 persen, dan kecil 23,29 persen.

Survei juga menemukan, mayoritas warga atau 80,31 persen beranggapan ekonomi sama pentingnya dengan kesehatan. Bahkan, sebanyak 27,85 persen mengatakan mungkin dan 9,9 persen sangat rela tertular Covid-19 agar penghasilan tidak terganggu. Ini menunjukkan, tekanan ekonomi saat ini sangat kuat sehingga warga rela bekerja dengan risiko terpapar Covid-19.

Risiko pekerja
Sementara itu, berdasarkan pelaporan warga yang masuk melalui Laporcovid19.org, ditemukan banyak keluhan para pekerja di sejumlah daerah, termasuk Jakarta, mengenai tidak transparannya penanganan yang dilakukan perusahaan atau perkantoran mereka, selain juga berbagai keluhan mengenai layanan kesehatan.

”Mayoritas laporan warga didominasi adanya pelanggaran terhadap protokol kesehatan di wilayahnya, mulai dari keramaian hingga tidak pakai masker. Namun, belakangan kami menerima banyak laporan karyawan yang mengeluhkan kantor-kantor mereka yang menutupi jika ada kasus, bahkan setelah ada yang meninggal juga ditutupi dan tidak dilakukan pelacakan kontak. Ini terjadi baik di perkantoran swasta maupun pemerintah,” tutur Yosep Budianto, relawan Laporcovid19.org.

Selain itu, tambah Yosep, banyak laporan dari sejumlah daerah tentang adanya penolakan tes PCR hingga penundaan tes karena alasan kehabisan reagen. ”Untuk kasus sekolah, banyak orangtua melaporkan tentang dibukanya kembali sekolah-sekolah di zona berisiko tinggi terinfeksi, seperti di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan Kota Tuban, Jawa Timur,” katanya.

Laporan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, penambahan kasus baru mencapai 3.737 orang sehingga total menjadi 210.940 orang yang positif Covid-19. Adapun orang yang dinyatakan sembuh sebanyak 2.707 sehingga total sembuh 150.217 orang. Korban jiwa bertambah 88 orang sehingga total menjadi 8.544 jiwa.

Dari jumlah total kasus, Indonesia masih berada di peringkat ke-23 dunia, satu peringkat di bawah Filipina. Namun, untuk total kematian, Indonesia menjadi yang terbanyak di ASEAN atau peringkat ke-20 dunia.

Untuk jumlah tes per 1.000 populasi, sekalipun sudah ada peningkatan, masih tergolong sangat rendah, yaitu di peringkat ke-142 dunia. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 9 September, jumlah tes di Indonesia belum separuh dari ambang minimal 1 per 1.000 populasi per minggu.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 12 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: