PSBB Butuh Ketegasan dan Kedisiplinan

- Editor

Jumat, 17 April 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kegagalan langkah pembatasan sosial berskala besar berpotensi memicu ledakan wabah Covid-19 sehingga lebih sulit dikendalikan.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Pembatas dari plastik antara pengunjung dan petugas kasir di supermarket ritel di kawasan Larangan, Kota Tangerang, Banten, Kamis (16/4/2020).

Pembatasan sosial berskala besar hanya berhasil jika dilakukan secara serentak dengan dukungan semua pihak. Namun, hingga hari ini pelaksanaannya di Jakarta belum berjalan efektif. Padahal, kegagalan langkah ini bakal memicu ledakan wabah Covid-19 sehingga lebih sulit dikendalikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kami telah meminta gugus tugas daerah untuk melakukan penertiban agar pelaksanaan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ini berjalan optimal. Kodam dan Polda, satu kesatuan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” kata Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, Kamis (16/4/2020), di Jakarta.

Menurut Doni, mengacu pada Permenkes Nomor 9 Tahun 2020, PSBB meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat umum, kegiatan sosial budaya, moda transportasi, dan beberapa kegiatan lain. Batasan-batasan ini harusnya ditegakkan pemerintah daerah, termasuk larangan sepeda motor untuk mengangkut penumpang.

Ahli epidemiologi dan biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Pandu Rino, mengatakan, PSBB yang mulai diterapkan ini sulit diukur tingkat keberhasilannya karena belum memiliki target penurunan infeksi dengan ukuran waktu yang jelas. ”Misalnya, ada target bisa merdeka dari Covid-19 saat 17 Agustus 2020. Harus ada langkah terukur berapa persen mobilitas penduduk yang harus dikurangi melalui PSBB,” ujarnya.

Menurut Pandu, penurunan tingkat infeksi sangat dipengaruhi oleh penurunan mobilitas penduduk dan kedisiplinan menjaga jarak. Jika mobilitasnya tetap tinggi dan jarak fisik tidak bisa dijaga karena terjadinya antrean di kendaraan umum atau di tempat kerja, upaya penurunan kasus infeksi akan sulit terjadi. ”Penurunan tingkat infeksi ini bertujuan menjaga agar pasien yang butuh perawatan intensif tetap tertangani. Dengan tren saat ini saja rumah sakit sudah kewalahan, jadi memang kurvanya harus diturunkan,” ujarnya.

Menurut Pandu, PSBB akan lebih efektif jika dilakukan secara nasional dengan tahap pelaksanaan disesuaikan kesiapan daerah. Jika memang daerah tidak mampu dari segi pendanaan, harus dibantu pemerintah pusat. ”Presiden telah mengumumkan Indonesia dalam keadaan darurat dan bencana nasional. Karena itu, PSBB harus diterapkan secara nasional walaupun wilayahnya bertahap dan tanggung jawab oleh pemerintah daerah,” ujarnya.

Saat ini, menurut Pandu, Covid-19 sudah bersirkulasi di komunitas. Ini mengakibatkan virus tidak bisa dikurung hanya di satu atau dua wilayah. ”Tidak mungkin hanya Jabodetabek karena kalau tidak akan bolak-balik dari satu daerah ke daerah lain,” ujarnya.

Pandu menambahkan, PSBB nantinya harus ditarget bisa dilakukan secara total dan serempak minimal selama satu bulan atau dua kali masa inkubasi. ”Jika kita bisa melakukan ini, diharapkan bulan berikutnya mulai landai. Di New Zealand, Australia, dan Jerman. Itu contoh yang nyata,” ujarnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Suasana kereta Commuter Line yang relatif tidak terlalu padat saat hendak berangkat dari Stasiun Bekasi, Jawa Barat, pada hari pertama penerapan PSBB, Rabu (15/4/2020).

Tunjangan sosial
Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo mengatakan, keberhasilan PSBB ini juga ditentukan oleh pendistribusian bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. ”Ujian hari-hari ini bagi pemerintahan adalah memastikan terjadinya percepatan atas semua rencana dan target kerja penanganan Covid-19. Terutama memastikan dua hal segera terjadi, yaitu realisasi tes massal dan realisasi bantuan tunai dan bantuan lainnya kepada warga yang menerapkan PSBB,” ujarnya.

Manajer Riset, Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi menyatakan, selain fokus pada kesehatan, pemerintah juga harus segera fokus pada dampak sosial ekonomi yang sudah mulai dirasakan oleh masyarakat. Karena itu, pendistribusian bantuan, baik bantuan langsung tunai maupun bantuan yang terintegrasi dengan bantuan reguler lain, seperti PKH, kartu sembako, dan program lainnya kepada masyarakat harus segera direalisasikan. ”Pendataan harus dilakukan secara cermat, pemerintah harus memastikan bantuan tidak salah sasaran, dan tidak kalah penting pencairan bantuan harus dilakukan secara transparan dan akuntabel,” tuturnya.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 16 April 2020

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB