Home / Berita / Kelembaban Udara Pengaruhi Penularan Covid-19

Kelembaban Udara Pengaruhi Penularan Covid-19

Kajian terbaru merekomendasikan, kelembaban udara berkisar 40-60 persen dapat mengurangi risiko penularan Covid-19.

Penularan virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 melalui partikel aerosol di dalam ruangan sangat dipengaruhi oleh kelembaban sehingga pengaturannya menjadi sangat penting selain pemakaian masker dan menjaga jarak. Kelembaban udara berkisar 40-60 persen dinilai dapat mengurangi risiko penularan.

Demikian kesimpulan yang diambil oleh para peneliti dari Leibniz Institute for Troposfer Research (Tropos) Jerman dan CSIR National Physical Laboratory, India, dalam studi mereka yang dipublikasikan di jurnal Aerosol and Air Quality yang dirilis pada Kamis (20/8/2020).

Berdasarkan kajian ini, peneliti merekomendasikan pengendalian udara untuk mengurangi risiko penularan di dalam ruangan. Disebutkan, kelembaban sebesar 40-60 persen dapat mengurangi penyebaran virus dan penyerapannya melalui selaput lendir hidung.
”Dalam penelitian aerosol telah lama diketahui bahwa kelembaban udara memainkan peran utama. Semakin lembab udaranya, semakin banyak air yang menempel pada partikel sehingga mereka dapat tumbuh lebih cepat,” kata Ajit Ahlawat, ilmuwan dari Tropos, yang terlibat dalam kajian ini.

Mereka kemudian menyelidiki pengaruh kelembaban terhadap kelangsungan hidup, penyebaran, serta infeksi patogen influenza dan virus korona, meliputi SARS-CoV-1, MERS, dan SARS-CoV-2. Hasilnya, kelembaban udara memengaruhi penyebaran virus korona di dalam ruangan dengan tiga cara berbeda, yaitu perilaku virus di dalam tetesan, kelangsungan hidup virus di permukaan, dan peran kelembaban udara di ruangan dalam penularan.

Meskipun kelembaban yang rendah menyebabkan tetesan yang mengandung virus lebih cepat mengering, daya tahan virus masih tetap tinggi. Tim menyimpulkan bahwa proses lain lebih penting untuk infeksi.

”Jika kelembaban udara dalam ruangan di bawah 40 persen, partikel yang dipancarkan oleh orang yang terinfeksi menyerap lebih sedikit air, tetapi membuatnya lebih ringan sehingga bisa terbang lebih jauh ke dalam ruangan dan lebih mungkin terhirup orang. Selain itu, udara yang kering juga membuat selaput lendir di hidung kita menjadi kering dan lebih mudah ditembus virus,” kata Ajit.

Musim dingin
Penemuan baru ini sangat penting untuk musim dingin yang akan datang di belahan bumi utara ketika jutaan orang akan tinggal di ruangan berpemanas. ”Di zona iklim dingin dan sedang, kondisi dalam ruangan yang sangat kering bisa mendorong penyebaran virus korona,” ujar Alfred Wiedensohler, juga dari Tropos.

Sementara itu, pada kelembaban yang lebih tinggi, tetesan akan tumbuh lebih cepat sehingga lebih cepat jatuh ke tanah dan lebih jarang terhirup oleh orang. ”Tingkat kelembaban setidaknya 40 persen di bangunan umum dan transportasi lokal tidak hanya akan mengurangi efek Covid-19, tetapi juga penyakit virus lain, seperti flu musiman. Pihak berwenang harus memasukkan faktor kelembaban pada pedoman dalam ruangan di masa depan,” kata Sumit Kumar Mishra dari CSIR.

Untuk negara-negara dengan iklim dingin, para peneliti merekomendasikan kelembaban dalam ruangan yang minimum. Negara-negara dengan iklim tropis dan panas, sebaliknya, harus berhati-hati agar ruangan tidak dingin.

Udara yang sangat dingin akan mengeringkan udara dan partikel di dalamnya sehingga membuat orang yang berada di dalam ruangan merasa nyaman. Namun, partikel kering akan tetap berada di udara untuk durasi yang lebih lama. Selain itu, udara segar dari luar juga bisa mengurangi risiko penularan.

Selain mengatur kelembaban udara ini, para peneliti tetap menyarankan agar setiap orang mempraktikkan protokol kesehatan dengan ketat, seperti jaga jarak sosial, hindari kontak fisik, dan tetap kenakan masker saat di dalam ruangan.

Selama ini, tetesan atau droplet dianggap sebagai pemicu utama penularan Covid-19. Karena relatif besar dan berat, tetesan ini jatuh dengan sangat cepat ke tanah dan hanya dapat menempuh jarak yang sangat pendek di udara. Akibatnya, rekomendasinya adalah menjaga jarak minimal 1,5 meter sampai 2 meter.

Namun, sejumlah kajian menunjukkan, penularan Covid-19 juga bisa disebabkan oleh kehadiran banyak orang secara bersamaan di satu ruangan, saat latihan paduan suara. Karena itu, jarak aman 1,5 meter rupanya tidak cukup apabila orang yang terinfeksi dan sehat berkumpul dalam satu ruangan untuk waktu yang lama.

Sebagai contoh, para peneliti Belanda sekarang dapat membuktikan bahwa tetesan kecil berdiameter 5 mikrometer, seperti yang dihasilkan saat berbicara, dapat melayang di udara hingga sembilan menit. Pada bulan Juli, 239 ilmuwan dari 32 negara, termasuk ahli kimia Hartmut Herrmann dari Tropos, meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk lebih fokus pada partikel infeksius yang tersuspensi di udara.

Untuk menahan penyebaran melalui partikel aerosol yang melayang di udara, para peneliti merekomendasikan tidak hanya terus memakai masker, tetapi juga, yang terpenting, ventilasi dalam ruangan baik.

Oleh AHMAD ARIF

Editor:ICHWAN SUSANTO

Sumber: kompas, 21 Agustus 2020

Share
%d blogger menyukai ini: