Home / Berita / Bergandengan Tangan Menghadapi Ancaman Pandemi

Bergandengan Tangan Menghadapi Ancaman Pandemi

Suasana di fasilitas isolasi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, di Denpasar, Bali, Kamis (8/11/2018) petang, tampak lengang. Dua pasien diobservasi di ruangan terpisah untuk memastikan apakah menderita tuberkulosis atau penyakit menular lainnya.

Para petugas kesehatan harus mengenakan baju khusus saat menangani pasien untuk menghindari kontaminasi penyakit. Rumah sakit tersebut dilengkapi laboratorium mikrobiologi untuk mendukung diagnosis penyakit berpotensi wabah dan resistensi kuman terhadap antimikroba.

Menurut Direktur Utama RSUP Sanglah I Wayan Sudana, manajemen RS Sanglah menerapkan program pengendalian resistensi antimikroba. Rumah sakit itu juga jadi rujukan penanganan flu burung dan penyakit berpotensi pandemi lainnya di Indonesia.

KOMPAS/EVY RACHMAWATI–Suasana di ruang isolasi, di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali, Rabu (7/11/2018) petang.

Kesiagaan negara menghadapi penyakit berpotensi pandemi dan kasus resistensi kuman pada antimikroba dibahas pada Pertemuan Agenda Keamanan Kesehatan Global (Global Health Security Agenda/GHSA) ke-5. Pertemuan bertema “Melanjutkan Kemitraan Global” di Nusa Dua, Bali, 6-8 November 2018, itu dihadiri sekitar 600 peserta yakni pejabat tinggi negara anggota, organisasi internasional, dan swasta. Para peserta juga berkunjung ke sejumlah fasilitas kesehatan di Bali, termasuk RSUP Shanglah.

KOMPAS/EVY RACHMAWATI–Seorang petugas memeriksa sampel kuman di laboratorium Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, di Denpasar, Bali, Rabu (7/11/2018).

Menurut Ketua Komite Pengarah GHSA 2018 yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Italia, Gluseppe Ruocco, GHSA adalah inisiatif bersama negara-negara agar dunia lebih aman dan tangguh menghadapi penyakit infeksi baru dan ancaman kesehatan lain. Wabah ebola pada 2014 menyadarkan dunia terkait kebutuhan memerkuat sistem kesehatan nasional.

Data Bank Dunia menunjukkan, wabah ebola di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone pada 2014 mengakibatkan pertumbuhan negatif perekonomian tiga negara itu. Kerugian ekonomi akibat outbreak di Afrika 30 miliar dollar AS. Sejumlah kajian menyebut, dampak wabah ebola itu bisa diminimalkan jika sistem kesehatan nasional kuat.

Indonesia pun mengalaminya saat terjadi outbreak flu burung yang menanggung beban ekonomi sampai Rp 4 triliun pada 2004-2006 dan mengakibatkan sektor perdagangan serta pariwisata lesu. Itu berarti keamanan kesehatan global berdampak negatif pada pembangunan ekonomi dan stabilitas suatu negara.

Perubahan iklim dan resistensi anti mikroba memicu peningkatan munculnya penyakit baru dan penyakit berpotensi pandemi dengan risiko kematian tinggi dan amat cepat menyebar. Contohnya, flu burung, Sindrom Pernapasan Timur Tengah disebabkan virus korona (MERS-CoV), ebola, dan zika.

Hal itu menyebabkan organisasi-organisasi internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan Dunia (FAO), dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mengembangkan pedoman dan acuan. Pihak WHO punya Regulasi Kesehatan Internasional (IHR) disahkan pada 2005 dengan memerluas cakupan keamanan kesehatan global.

Sejak diluncurkan pada 2014, GHSA mencapai kemajuan signifikan. Menurut Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek, salah satu agenda prioritas upaya keamanan kesehatan global ialah menanggulangi resistensi anti mikroba. Caranya, dengan mengurangi pemakaian antibiotik agar kuman tak resisten di sektor peternakan. “Ini butuh peningkatan kemampuan laboratorium dan riset,” ujarnya.

Fase kedua
Pertemuan GHSA yang beranggotakan 65 negara tahun 2018 menghasilkan Deklarasi Bali, yakni kesepakatan untuk melanjutkan fase kedua GHSA hingga tahun 2024. “GHSA 2024 dengan pendekatan partisipatif agar dunia aman dari penyakit menular karena alam dan manusia. Kemitraan global itu diperluas dengan mekanisme regional,” kata Gluseppe Ruocco.

KOMPAS/EVY RACHMAWATI–Ketua Komite Pengarah Global Health Security Agenda 2018 Gluseppe Ruocco menyampaikan sambutan pada penutupan GHSA ke-5, di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11/2018).

Kesenjangan kapasitas antarnegara dalam pencegahan, deteksi, dan respons pada ancaman penyakit infeksi harus diatasi. Negara-negara anggota pun berbagi praktik baik menghadapi ancaman kesehatan.

Menurut Nila, deklarasi itu untuk memerkuat kerja sama regional, mekanisme multisektoral, dan kapasitas pendanaan serta kesiapsiagaan. Itu bertujuan memastikan sistem kesehatan berkelanjutan dan pendekatan One Health, yakni penanganan terintegrasi melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan.

“Ketahanan kesehatan tidak bisa dicapai sendiri oleh sektor kesehatan dan pemerintah,” ujarnya. Karena mayoritas penyakit berpotensi pandemi bersumber binatang, penerapan konsep itu melibatkan Kemenkes, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

KOMPAS/EVY RACHMAWATI–Menteri Kesehatan Nila F Moeloek (kedua dari kiri) sedang menyampaikan paparan dalam jumpa pers seusai pembukaan Pertemuan Global Health Security Agenda ke-5, di Nusa Dua, Bali, Selasa (6/11/2018).

Pada fase kedua GHSA, Indonesia berperan aktif jadi anggota tetap tim pengarah, dan memimpin paket aksi penanggulangan zoonosis atau penyakit bersumber hewan. Menurut Nila, strategi kerja sama GHSA fokus pada penguatan kapasitas nasional tiap negara mengantisipasi penyakit. Ada 11 paket aksi jadi prioritas, di antaranya pengendalian resistensi anti mikroba dan zoonosis.

Menurut Hendrik Jan Ormel dari FAO, pihaknya bersama WHO dan negara-negara anggota GHSA bermitra menerapkan pendekatan One Health untuk mencegah penularan penyakit dipicu interaksi manusia dan hewan ternak. Itu membutuhkan kerja sama berkelanjutan.–EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 26 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: