Atasi Resistensi Antimikroba

- Editor

Jumat, 11 September 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasus Terbanyak Terjadi di Rumah Sakit
Organisasi Kesehatan Dunia regional Asia Tenggara kembali mengingatkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara agar segera bertindak mengendalikan ancaman resistensi antimikroba. Jika tak diatasi, berbagai kuman kian kebal obat sehingga penyakit akan sulit diobati.

Pesan itu disampaikan Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara Poonam Khetrapal Singh kepada para menteri dan pejabat kementerian kesehatan dari 11 negara anggota WHO- SEARO pada pertemuan Komite Regional ke-68 di Dili, Timor Leste, Rabu (9/9).

Khetrapal Singh, dalam siaran pers, menyatakan, antibiotik adalah sumber daya yang amat berharga. Jenis obat itu telah menyelamatkan nyawa berjuta orang dari infeksi parah. Setiap orang punya andil dan bisa berperan mempertahankan efektivitas antibiotik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita perlu segera mencegah kemungkinan kembalinya ke era sebelum antibiotik ditemukan. Infeksi ringan dan luka sederhana yang bisa disembuhkan selama beberapa dekade bisa jadi akan membunuh berjuta orang,” kata Khetrapal Singh.

Kini, banyak antibiotik berkurang efektivitasnya. Akibatnya, pengobatan dan penyembuhan penyakit lebih sulit dilakukan. Hal itu misalnya pneumonia, infeksi kandung kemih, diare, gonore, tuberkulosis, dan malaria.

Kuman yang kebal saat ini akibat penggunaan antibiotik yang gegabah oleh tenaga kesehatan, tidak tuntasnya konsumsi obat oleh pasien, penggunaan antibiotik pada hewan ternak dan ikan, serta lemahnya pengendalian infeksi dan kebersihan di fasilitas kesehatan. Pada saat yang sama, tak banyak antibiotik baru yang sama ampuhnya dengan jenis antibiotik yang resisten.

Produktivitas turun
Apabila resistensi antimikroba tidak dikendalikan, hal itu diperkirakan menyebabkan 10 juta kematian di dunia setiap tahun dan kehilangan produk domestik bruto (PDB) 2 persen-3,5 persen secara global pada tahun 2050. Menurunnya produktivitas karena sakit dan ongkos pengobatan yang semakin tinggi menambah nilai kerugian ekonomi.

Oleh karena itu, perlu rencana aksi nasional yang komprehensif dan terintegrasi untuk mengendalikan resistensi antimikroba. Perbaikan sistem harus menyeluruh, mencakup pemantauan penyebab resistensi antibiotik, pengendalian infeksi di rumah sakit, serta pengaturan dan promosi penggunaan obat yang tepat.

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, 28 persen rumah tangga di Indonesia menyimpan antibiotik di rumah. Menurut Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan, Hari Parathon, hal itu bisa jadi pemicu resistensi antibiotik.

Namun, resistensi antibiotik yang ada di masyarakat jauh lebih kecil dibandingkan yang terjadi di rumah sakit. “Penyebab terbanyak resistensi antimikroba di Indonesia adalah sejak awal salah memilih antibiotik dan pemberian antibiotik terlalu lama. Jenis bakteri yang banyak kebal adalah Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae,” ucap Hari.

Mengutip data hasil surveilans KPRA-WHO-Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes tahun 2013 di enam rumah sakit di Indonesia, ada peningkatan prevalensi bakteri penghasil extended spectrum beta lactamase (ESBL) yang resisten terhadap antibiotik golongan sefalosporin generasi 3. Enzim ESBL mampu memecah antibiotik sehingga menghilangkan kemampuan antibiotik untuk melawan kuman penyakit. Itu merupakan indikator serius terhadap risiko kegagalan pengobatan kasus infeksi.

Keenam rumah sakit itu adalah RSUP Persahabatan (Jakarta), RSUD Dr Moewardi (Solo), RSUP Dr Kariadi (Semarang), RSUD Dr Soetomo (Surabaya), RSUD Saiful Anwar (Malang), dan RSUP Sanglah (Denpasar).

Terkait hal itu, menurut Hari, RS rujukan nasional dan provinsi akan dilatih mengendalikan resistensi antimikroba. Harapannya, mereka nantinya mengampu RS rujukan regional secara teknis dan strategis dalam pengendalian resistensi antimikroba. (ADH)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 September 2015, di halaman 13 dengan judul “Atasi Resistensi Antimikroba”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:02 WIB

Gen, Data, dan Wahyu

Berita Terbaru

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB

Artikel

Gen, Data, dan Wahyu

Jumat, 26 Des 2025 - 11:02 WIB