Home / Berita / Antisipasi Dampak Menguatnya El Nino

Antisipasi Dampak Menguatnya El Nino

Penguatan El Nino trimester terakhir tahun ini diprediksi tak berdampak signifikan bagi mayoritas wilayah Indonesia. Namun, antisipasi kekeringan dan kebakaran hutan tetap dibutuhkan, terutama di Indonesia bagian timur.

”Menguatnya intensitas El Nino diprediksi bersamaan dengan musim hujan tak akan berdampak signifikan di Indonesia, tetapi kita perlu bersiaga,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo, di Ambon, Selasa (17/7/2018).

Kajian bulanan temporal dan geografis tentang pengaruh El Nino–Southern Oscillation pada curah hujan Indonesia 1961-1993 dilakukan. Ada 6 kali El Nino dan 5 kali La Nina periode itu. Indonesia menerima pengaruh negatif jika El Nino terjadi mulai April dan mencapai puncaknya Agustus-September, lalu menurun. Pengaruh El Nino biasanya hilang pada Desember.

”Jika El Nino menguat selama kemarau, itu memicu penurunan curah hujan, musim kemarau tambah panjang dan kering, serta awal musim hujan mundur. Akibatnya, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan naik seperti terjadi pada 2015,” kata Sutopo.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Kebakaran lahan di Desa Lukun, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti Riau, pada Februari lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino kategori lemah terjadi September 2018 dan menguat hingga April 2019. Menurut Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto, itu sejalan dengan prakiraan Biro Meteorologi Australia (BoM) bahwa ada kenaikan suhu muka laut di Samudra Pasifik. ”BoM menyatakan peluang ada El Nino naik 50 persen pada September-November,” ujarnya.

International Research Institute (IRI) menyampaikan, rerata gabungan El Nino kategori lebih besar dari 0,5 akan terjadi pada Agustus-Oktober dengan peluang lebih dari 65 persen. Itu akan berlanjut sampai 70 persen pada Februari-Maret-April 2019.

“Kami masih perlu menganalisis lagi dampak lebih rinci lagi El Nino di berbagai wilayah Indonesia. Akan tetapi, kemungkinan dampaknya di bagian barat Indonesia memang relatif kecil. Dampaknya akan lebih dirasakan di Indonesia bagian timur,” kata Siswanto.

Kami masih perlu menganalisis lagi dampak lebih rinci lagi El Nino di berbagai wilayah Indonesia. Dampaknya akan lebih dirasakan di Indonesia bagian timur.

Memasuki pertengahan Juli ini, persentase wilayah yang mengalami musim kemarau di Indonesia akan terus meningkat. Aliran massa udara monsun Australia yang membawa sedikit uap air, cenderung kering dan dingin semakin kuat dan dominan.

Beberapa dampak negatif musim kemarau yang dapat terjadi dan perlu mendapat perhatian untuk langkah antisipasi bersama, terutama ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan analisis satelit oleh BMKG pada 17 Juli 2018 pukul 6.00 WIB, dengan tingkat kepercayaan tinggi (81-100 persen), saat ini titik panas telah muncul di sejumlah daerah. Kalimantan Barat tercatat memiliki titik panas terbanyak, yaitu sebanyak 23 titik, Riau 10 titik panas, Lampung 5 titik panas, Nusa Tenggara Barat 4 titik panas, Kalimantan Selatan 2 titik panas, dan Bali 1 titik panas.

Dampak negatif musim kemarau perlu diantisipasi, terutama kebakaran hutan dan lahan. Menurut analisis satelit oleh BMKG, 17 Juli 2018, titik panas muncul di sejumlah daerah. Di Kalimantan Barat ada 23 titik dan di Riau ada 10 titik.

Kebakaran hutan
Terkait dampak El Nino, saat ditemui di Roma, Italia, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ruandha Agung Sugardiman optimistis bisa mengatasi dampak fenomena alam tersebut.

” Namun, ada beberapa syarat untuk membuatnya berhasil. Seperti kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan, meningkatkan kesadaran publik tentang dampak kebakaran hutan dan lahan, mengembangkan metode, teknik dan kebijakan yang sesuai dengan lingkungan kita yang unik dan tentu saja penegakan hukum,” kata dia.

Saat ini sinergi pengendalian kebakaran hutan telah terkoordinasi baik antara pemerintah pusat dan daerah serta meningkatnya peran pengelola konsesi dalam menjaga area dari api. Intinya, kata dia, pemadaman dilakukan sesegera mungkin sebelum api berubah menjadi besar.

Karena itu, persiapan ini didukung dengan infrastruktur dan sarana prasarana pencegahan kebakaran. Data-data titik panas diverifikasi melalui patrol rutin dan patrol pencegahan terpadu yang melibatkan Manggala Agni, TNI/Polri, dan komunitas masyarakat.

Secara periodik, keberadaaan sumur bor dan kanal-kanal serta sekat kanal dalam upaya pembasahan gambut dicek secara rutin dan berfungsi baik. Selain itu, sejak beberapa waktu terakhir pemerintah mengharuskan pengelola swasta memiliki titik pantau yang menunjukkan ketinggian air di gambut.

Menteri LHK menunjuk para eselon I sebagai penanggung jawab pendukung dan memantau serta berkoordinasi ke tiap provinsi rawan karhutla. Selain itu KLHK baru meluncurkan SMS Blast Tanggap Karhutla sebagai sistem peringatan dini karhutla dan emergency call 112 dari operator PT Telekomunikasi Indonesia, PT Telkomsel, PT Indosat Ooredoo, PT XL Axiata, PT Hutchison 3 Indonesia, PT Sampurna Telekomunikasi Indonesia.

Lima helikopter
Di Kota Dumai, Riau, lima helikopter melaksanakan pengeboman air di 15 titik karhutla di 4 kecamatan, tapi kebakaran belum bisa dikendalikan. ”Kekeringan di Dumai kian parah karena dua pekan tanpa hujan. Pemadaman sulit dilakukan karena angin kencang,” kata Tengku Ismet, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Dumai.

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI–Helikopter dari Sinar Mas Forestry membantu pemadaman di Desa Lukun, Kabupaten Kepulauan Meranti pada Februari lalu.

Kebakaran yang berada di lokasi terpisah dan berjauhan juga menyulitkan pemadaman. Tim pemadam darat dari unsur, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Perkebunan, BPBD, perusahaan swasta, dan warga, terpaksa dipecah ke beberapa titik untuk membantu pemadaman.

Seluruh lokasi yang terbakar, lanjut Ismet, merupakan lahan gambut. Di beberapa lokasi, areal yang terbakar berupa lahan kosong semak belukar. Namun di lokasi lain, sudah ada tanaman kelapa sawit. “ Kondisi di lapangan sulit diprediksi. Beberapa kebakaran sebelumya sudah dikendalikan, tapi hari ini api kembali marak. Ditambah lagi api muncul di lokasi baru,” kata Ismet.

Secara terpisah, Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger yang mengomando pemadaman di Dumai, mengatakan, saat ini ada lima helikopter dioperasikan di Dumai. Heli dimaksud berupa satu unit jenis Sikorsky, dua Kamov, satu Bell 214 dan satu unit helikopter perusahaan swasta.

Kebakaran terbesar terjadi di Desa Lubuk Gaung, Kecamatan Sungai Sembikan, seluas 35 hektar. Sampai kemarin sore, api belum dapat dikendalikan. Kebakaran di Riau mencapai 29 titik tersebar di empat kabupaten. Titik terbanyak ada di Dumai, mencapai 15 titik.

“Kami mengerahkan lima heli ke Dumai untuk melakukan pengeboman air dengan volume air lebih besar. Polanya, kami memadamkan ujung api terlebih dahulu agar tak menyebar ke lokasi baru. Di darat, tim membantu menuntaskan pemadaman. Setelah Dumai dapat dikendalikan, kami baru akan membantu pemadaman di lokasi lain,” kata Edwar.

Kepala Stasiun Meteorologi Pekanbaru, Sukisno mengungkapkan, di seluruh wilayah Sumatera ada 50 titik panas yang tersebar di Riau (29), Sumatera Selatan (2), Bangka Belitung (2), Lampung (15), Bengkulu (1) dan Sumatera Utara (1). “Riau terpantau paling banyak titik api. Selain Dumai ditemukan titik panas di Rokan Hilir, dan Bengkalis,” ungkapnya.

Seluruh wilayah Riau yang terbakar berada di pesisir timur Sumatera atau utara Riau. Daerah itu sulit diprediksi, karena kerap terjadi anomali cuaca. “Secara umum cuaca Riau panas dan cerah berawan. Masih ada potensi hujan ringan bersifat lokal, tapi bukan di pesisir timur, melainkan di Kepulauan Meranti dan Indragiri Hilir,” kata Sukisno.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Seorang petani memeriksa tanaman padi yang gagal panen karena kekeringan di lahan pertanian di Dusun Siraman III, Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (27/6/2018). Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, sedikitnya 47 hektar lahan pertanian di Gunung Kidul mengalami kekeringan dan 18 hektar di antaranya mengalami gagal panen.

Bersiaga
Kebakaran lahan mulai menyebar di sejumlah wilayah di Jambi, termasuk di areal gambut. Dua kabupaten di Jambi, yakni Muaro Jambi dan Merangin, pun menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.
Menurut data Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Jambi, api mulai muncul di Kabupaten Merangin, Sarolangun, Tebo, Batanghari, dan Tanjung Timur.

Sejumlah titik kebakaran diketahui terjadi di rawa gambut mengering. Di beberapa titik, ada indikasi lahan sengaja dibakar. Kebakaran di Desa Suo-suo, Kecamatan Sumay, Tebo, dekat berdekatan konsesi PT Alam Bukit Tigapuluh, diindikasikan terjadi karena pemilik lahan ingin membuka kebun baru. Sementara kebakaran meluas hingga 5 hektar di areal konsesi PT Lestari Asri Jaya, di Desa Semambu, Sumay, Tebo.

Kepala Seksi Karhutla Dinas Kehutanan Provinsi Jambi Donny Osmond mengatakan kerawanan kebakaran meningkat. Bahkan, dua kabupaten, Muaro Jambi dan Merangin, menetapkan status Siaga Darurat, berarti penanganan kebakaran di wilayah itu diperluas. Peningkatan status dilakukan jika situasinya makin parah. “Setidaknya 3 kabupaten berstatus Siaga Darurat, provinsi bisa menetapkan status serupa,” ujarnya.

Pihak BMKG Jambi mendeteksi tingkat kemudahan kebakaran pada pekan ini terjadi di Kabupaten Tebo, Sarolangun, Batanghari, Muaro Jambi, Kerinci, Bungo, Tanjung Jabung Barat, dan Merangin. Dalam dua pekan terakhir, jumlah titik panas di Jambi mencapai 30 titik

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Thaha, Jambi, Kurnianingsih, menjelaskan, pada Dasarian II Juli ini, dua daerah diprediksi paling kering karena lama tak diguyur hujan yakni Tanjung Jabung Timur dan Kota Jambi. Di dua daerah itu tak turun hjan selama 11dan 20 hari. “Sehingga menjadi sangat rawan terjadinya kebakaran,” ujarnya.

Asian Games
Menjelang penyelenggaraan Asian Games di Palembang, Tim Satuan Tugas Penanggulangan Karhutla Sumatera Selatan menetapkan status siaga merah per 20 Juli hingga 5 September 2018. Dengan status ini, 60 tim terpadu akan disebar di 56 desa rawan kebakaran di tiga Kabupaten di Sumatera Selatan.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Regu pemadam kebakaran Sinar Mas Forestry menggelar simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan hutan tanaman industri Minas, Siak, Riau, Kamis (26/1/2017). Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini cenderung kering. Kemungkinan kondisi kering ada saat kemarau dan berpeluang menjadi salah satu pemicu karhutla. Presiden Joko Widodo meminta semua pihak lebih serius mencegah kebakaran hutan dan lahan.–Kompas/Hendra A Setyawan

“Melihat kenaikan intensitas titik api, kami meningkatkan status ke siaga merah. Tim terpadu mulai beroperasi di lapangan per 20 Juli 2018,” kata Komandan Satgas Penanggulangan Karhutla Sumatera Selatan Kolonel Infrantri Iman Budiman saat memimpin rapat koordinasi di BPBD Sumatera Selatan, Selasa (17/7/2018) di Palembang. Operasi intai darat ini diberi nama operasi Pati Geni.

Saat ini keberadaan titik api di Sumsel terus meningkat. Selasa, kemarin, terpantau setidaknya 7 titik api. Sepanjang Juli ini ada 64 titik api, sementara di bulan Juni, hanya ada 52 titik api.

Oleh karena itu, tim terpadu akan disebar di 56 desa rawan karhutla yang apabila terbakar, asapnya berpotensi mengarah ke Palembang. Desa-desa itu berada di tiga kabupaten prioritas yakni Ogan Ilir,Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin“Jangan sampai, asap mengganggu penyelenggaraan Asian Games,” ujar Iman.

Tugas dari tim gabungan ini adalah memantau aktivitas masyarakat yang tinggal di desa rawan terbakar, melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran, dan melaksanakan pemadaman dini jika ditemukan titik api. “Selama operasi, tim akan tinggal di desa itu sembari mengamati aktivitas warga di sana, termasuk pemilik lahan. Luas jangkau patroli hingga 200 kilometer per hari,” ucapnya.

Pemantauan aktivitas warga penting agar saat kebakaran, petugas bisa mengindentifikasi pelakunya. Dari hasil patroli sebelumnya, ditemukan ada obat nyamuk yang gagal terbakar dipasang oknum warga. Diduga obat nyamuk itu digunakan untuk membakar lahan. Saat obat nyamuk diletakan di dekat jerami, lahan tidak langsung terbakar.

Dengan ada penerjunan tim, niat oknum warga untuk membakar lahan bisa berkurang karena semua pergerakannya terpantau petugas. Selain itu, patroli melalui udara serta pemadaman dengan bom air juga akan dilakukan namun sifatnua menjadi langkah terakhir. “Kita optimalkan patroli dari darat karena pemadaman dari udara biayanya sangat tinggi,” ucapnya.

Kepala BPBD Sumatera Selatan Iriansyah mengatakan operasi ini merupakan tindak lanjut dari upaya tanggap darurat yang ditetapkan sejak Februari dan akan berakhir pada Oktober 2018. Jelang Asian Games, pihaknya mengusulkan ada 10 helikopter untuk mengantisipasi jika terjadi kebakaran. “Saat ini sudah ada tiga helikopter yang tersedia. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dua helikopter akan segera tiba di Palembang,” kata Iriansyah.

Kepala Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Bandara SMB II Palembang Agus Santosa mengatakan, saat ini hari tanpa hujan di sejumlah daerah mencapai enam hari dengan rata-rata suhu udara 32-34 derajat celsius. Bahkan, curah hujan per dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter.

Pembasahan lahan
Sementara di Kalimanten Tengah, pembasahan lahan gambut dan patroli kebakaran terus dilakukan. Roland Binery, prakirawan BMKG Palangkaraya, Kalimantan Tengah menjelaskan, pihaknya memantau pergerakan El-Nino yang sampai Juni 2018 masih normal sampai ke kategori lemah.

Secara merata, Kalteng saat ini memasuki musim kemarau. Kemarau yang terjadi lebih kering dibanding 2016-2017 karena pada dua tahun belakangan terjadi fenomena La Nina, atau peristiwa di mana suhu air laut di Samudera Pasifik berada di bawah suhu rata-rata sekitarnya. “Meski musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan, hanya saja intensitas hujan menurun. Musim kemarau ini diprediksi sampai bulan Oktober 2018,” ujarnya.

BMKG Palangkaraya juga mengimbau agar warga waspada terhadap lingkungan masing-masing, terutama bahaya kebakaran hutan dan lahan. Sebab, curah hujan di Kalteng termasuk kategori rendah yang bisa memicu keringnya lahan-lahan gambut, sehingga akan mudah terbakar. “Kalau terjadi kebakaran di permukaan gambut maka akan sangat cepat meluas dan sulit dikendalikan, masyarakat harus punya penampungan air di rumah dan lingkungan masing-masing,” kata Roland.

Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut Myrna Safitri menjelaskan, pembasahan lahan gambut dan patroli kebakaran terus dilakukan untuk megantisipasi cuaca terburuk. Pembasahan dilakukan dengan sumur bor dan sekat kanal. “Kami terus memantau kelembapan gambut dan mengidentifikasi sumur-sumur bor dan sekat kanal. Kalau ada yang rusak diperbaiki,” ungkapnya.

Untuk itu pihaknya menyiapkan dana operasional pembasahan gambut untuk tanggap darurat karhutla Rp 4,7 miliar dari total anggaran Rp 86 miliar. Anggaran digunakan untuk operasional sumur-sumur bor yang dibangun sejak 2016-2017, seperti upah tenaga, bahan bakar, dan pemeliharaan. “Patroli kebakaran oleh warga dan kelompok juga terus didorong,” kata Myrna.

Masih terbakar
Di Kabupaten Kotawaringin Barat khususnya di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) masih terbakar seluas 10 hektar. Kebakaran mulai terjadi di lokasi tersebut sejak Sabtu (14/7/2018) lalu. D Kabupaten Kapuas, kebakaran juga melanda wilayah konsesi dengan luas 200 hektar. Pemadaman masih dilakukan hingga menggunakan helikopter pengeboman air.

Dari data Tim Satgas Karhutla, sejak Januari-15 Juli lalu ada 546 titik panas tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalteng seluas 1.304 hektar (ha). Komandan Satgas Karhutla Kolonel Inf Harnoto menjelaskan, api di konsesi berasal dari kebun-kebun warga di sekitarnya dan merembet ke perkebunan. “Kami siaga bersama institusi lain. Masyarakat bergabung mencegah dan memadamkan api,” kata Harnoto yang juga Komandan Korem 102 Panju-Panjung Kalteng.

Gunung Wilis
Sementara itu, frekuensi kebakaran hutan di lereng Gunung Wilis di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, selama Juni-Juli 2018, tinggi. Pihak BPBD setempat mencatat terjadi 15 kali kebakaran atau hampir dua kali dalam sepekan. Itu menandai terjadi krisis lingkungan yang signifikan.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo Setyo Budiono, Selasa (17/7/2018) mengatakan hampir semua kebakaran hutan terjadi di wilayah Perum Perhutani Jatim. Contohnya kebakaran terjadi di Petak 35 Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Sampung, Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sumoroto. “Pada hari Minggu (15/7) luas area hutan yang terbakar mencapai 10 ha,” ujarnya.

Kebakaran juga terjadi di kawasan hutan Desa Tanjung Gunung, Kecamatan Badegan dan RPH Karangpatihan, Kecamatan Balong. Pada musim kemarau, kebakaran hutan cepat membesar dan meluas sebab banyak material mudah terbakar di hutan seperti ranting pohon, dedaunan, dan rerumputan yang kering karena kemarau. Selain itu, angin bertiup kencang, sehingga api cepat menjalar.

Budi menambahkan penyebab utama kebakaran hutan adalah kelalaian manusia. Contohnya, membuang puntung rokok yang masih menyala. Percikan baranya mengenai daun kering atau rerumputan kering sehingga terbakar. Api membesar karena tiupan angin dan banyaknya material yang mudah terbakar.

Kepala Polres Ponorogo Ajun Komisaris Besar Radiant mengatakan penyebab lain kebakaran hutan di wilayahnya adalah aktivitas penerbangan balon udara. Itu terjadi sepekan setelah lebaran. Adapun menyikapi terjadinya kebakaran yang kerap melanda kawasan hutan di wilayah Ponorogo, polisi selalu siap siaga.

Semua jajaran kepolisian siap bekerjasama dengan TNI Angkatan Darat, BPBD dan petugas Perhutani untuk memadamkan api di lokasi. Kendalanya medan yang berat karena berada di lereng gunung dan jauh dari sumber air. Apalagi angin bertiup kencang serta sulit ditebak arah tiupannya sehingga sangat membahayakan petugas yang berupaya memadamkan api.

Berdasarkan pengalaman pada saat terjadi kebakaran hutan, pemadaman dilakukan dengan cara tradisional. Contohnya, membuat jarak antara api dengan material yang mudah terbakar seperti daun-daun kering. Cara lain memukul-mukulkan ranting basah ke sumber api secara manual. (SYAHNAN RANGKUTI/IRMA TAMBUNAN/RHAMA PURNA JATI/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO/RUNIK SRI ASTUTI)–AHMAD ARIF DAN ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 18 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: