Home / Berita / Anomali Cuaca; Hujan Turun di Kala El Nino

Anomali Cuaca; Hujan Turun di Kala El Nino

El Nino yang menguat awal Agustus ini diprediksi baru mulai berdampak nyata akhir Agustus atau awal September. Hujan masih berpeluang di sejumlah daerah meski sesaat. Setelah itu, kelangkaan hujan terjadi hingga akhir tahun di Indonesia. Di lingkup global, El Nino justru mendatangkan banjir di kawasan Asia Selatan dan Amerika Tengah.

Kejadian El Nino 2015 ditandai menghangatnya suhu muka laut di wilayah ekuator Pasifik hingga lebih dari 2 derajat celsius di atas normalnya. Itu masuk kategori kuat. Anomali cuaca regional itu mengakibatkan efek berlawanan antara Asia dan Amerika. Asia akan kekeringan saat kemarau, sedangkan di Amerika mendapat curah hujan yang tinggi.

Meski begitu, sebulan ini hujan masih berpeluang terjadi di Indonesia. Itu karena perairan barat Sumatera, Laut Tiongkok Selatan, hingga Selat Karimata, serta utara Papua masih hangat. Kenaikan suhu muka laut di wilayah itu berkisar 0,5 hingga 2 derajat celsius di atas normal.

“Menghangatnya suhu muka laut di Samudra Hindia sekitar Aceh menyebabkan hujan lebat dan angin kencang hingga mengakibatkan banjir di wilayah tersebut, Senin lalu,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian. Suhu muka laut yang hangat akan meningkatkan pembentukan uap air menjadi awan hujan.

Hujan deras juga terjadi di Riau hingga membuat Bandara Hang Nadim di Batam, Kepulauan Riau, tutup sementara karena jarak pandang minim. “Dalam sepekan lalu, hujan turun di Sumatera bagian utara serta di daerah Riau, Sumatera Barat, dan Bengkulu,” kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG Fachri Radjab.

Sementara itu, angin monsun dari Benua Australia ke Benua Asia mengikuti jalur melengkung ke arah barat, sebelum mengarah ke utara. Itu terjadi karena efek koriolis atau rotasi Bumi. Daerah yang terkena pola arus angin monsun itu adalah wilayah utara Sumatera, yaitu Sumatera Utara hingga Aceh.

Daerah itulah yang masih berpeluang mendapat hujan pada masa kemarau. “Daerah-daerah itu tidak terkena dampak kekeringan akibat pengaruh El Nino,” urai Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Mulyono Rahadi Prabowo.

955d408f3a8842a2888c50b7c6fade15Menghangatnya perairan barat Sumatera karena fenomena Indian Ocean Dipole Mode. Itu akan berubah beberapa bulan karena pengaruh El Nino. Wilayah itu, kata Edvin, juga akan mengalami pendinginan.

Pengaruh siklon
Pergerakan angin monsun saat ini menunjukkan tanda-tanda berbelok ke timur. “Terjadi karena terbentuknya siklon tropis di perairan Filipina di utara Papua,” kata Mulyono R Prabowo. Kondisi itu berpotensi menimbulkan hujan di wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara.

Pembentukan siklon atau badai tropis di Filipina itu berkaitan dengan garis edar matahari di utara khatulistiwa. Pemanasan matahari menimbulkan pusat tekanan rendah yang menimbulkan pusaran angin hingga membesar menjadi badai. Pembentukan badai terjadi karena pengumpulan angin dari berbagai penjuru yang membawa massa udara atau uap air.

Siklon tropis itu, kata Edvin Aldrian, terbentuk pada zona netral di kawasan ekuator. Tepatnya antara perairan Indonesia di barat dan timur Samudra Pasifik yang menghangat.

Menurut Agus Salim, prakirawan BMKG, di timur Filipina, Selasa (3/8) malam muncul badai atau siklon tropis Soudelor. Siklon itu terbentuk di utara Papua Niugini pada Minggu (2/8), yang bergerak ke barat laut.

Siklon itu tergolong kuat, masuk tipe 5, yaitu siklon berkategori terkuat. Kecepatan angin di inti badai 115 knot atau 215 kilometer per jam. Munculnya badai tropis itu mengubah pola angin monsun di atas wilayah Indonesia mengarah ke pusat badai di timur laut itu.

Pada daerah belokan angin, antara lain di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Papua terjadi hujan. Dalam pekan ini, hujan pun masih berpotensi turun dalam intensitas ringan-sedang di daerah tersebut, juga di Sumatera bagian utara dan barat, serta Sulawesi bagian utara.

Ditambahkan prakirawan Subbidang Siklon Tropis BMKG, Rahmah Darulmuqomah, hingga kemarin kecepatan badai 175 km per jam. Diperkirakan Kamis kecepatan badai akan menurun menjadi 165 km per jam dan mengarah ke barat laut menuju perairan Taiwan.

Kejadian hujan, lanjut Fachri selain karena siklon tropis, juga dipengaruhi faktor lokal berupa kondisi topografi. Pengaruh topografi terlihat dari hujan di sejumlah area Sumatera, yang terkait keberadaan Pegunungan Bukit Barisan di sisi barat. Pegunungan membuat massa uap air dari barat naik, mengalami kondensasi, kemudian turun sebagai hujan di kawasan lembah (orografi). Hujan yang terjadi di Bogor dan Jakarta beberapa hari lalu juga karena hujan orografi.

Peluang hujan lokal juga ada karena anomali atau gangguan cuaca yang berlangsung singkat. “Dalam hitungan menit hingga bulan,” kata pakar oseanografi yang juga Manajer Laboratorium Geotech Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadli Samsuddin.

Ada juga hujan yang muncul karena gelombang udara yang muncul sekitar 20 menit di pegunungan. Selain itu, ada juga fenomena gelombang Rossby yang berlangsung sekitar 2-5 hari. Lalu, gangguan cuaca di atmosfer khatulistiwa yang disebut Madden Julian Oscillation, yang ditandai pergeseran udara terkonveksi ke arah timur, yang terjadi dalam periode 30 hari hingga 90 hari.

Semua fenomena itu berpotensi menimbulkan hujan lebat di wilayah yang dilalui.–YUNI IKAWATI DAN J GALUH BIMANTARA
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “Hujan Turun di Kala El Nino”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: