Home / Berita / Akurasi Hasil Pemantauan Gunung Api Untuk Mitigasi

Akurasi Hasil Pemantauan Gunung Api Untuk Mitigasi

Indonesia kembali berkolaborasi dengan Perancis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan mengintegrasikan sarana analisis baru sistem pemantauan gunung api. Hal itu bertujuan mendapat hasil pengamatan dengan akurasi tinggi sebagai dasar mitigasi bencana geologi.

Dari 127 gunung api aktif di Indonesia, banyak di antaranya yang akurasi hasil pemantauan aktivitas vulkaniknya perlu ditingkatkan. Fokus kerja sama ini ialah sejumlah gunung api di Maluku Utara seperti Gunung Ibu, Dukono, dan Gamalama.

Kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Perancis ditandai dengan penandatangan kerja sama antara Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) Rudy Suhendar dengan Duta Besar Perancis Jean Charles Berthonnet, disaksikan Menteri ESDM Ignasius Jonan, di Jakarta, Senin (26/3). Itu merupakan tindak lanjut kerja sama pada 2013-2017 di Merapi.

“Dalam kerja sama ini, para pihak sepakat berkontribusi pada peningkatan sistem pemantauan gunung api, membangun bank data terbaru, dan mengkaji bahaya geologi di Indonesia, “ kata Rudy Suhendar. Adapun kualitas sumber daya manusia ditingkatkan lewat pertukaran informasi dan pembentukan tim peneliti.

Peningkatan sumber daya manusia dilakukan lewat pertukaran ilmuan, pertukaran informasi dan pembentukan tim-tim penelitian. Peningkatan teknologi dilakukan dengan mengikuti perkembangan terkini. Puluhan tahun lalu, pemantauan erupsi dilakukan secara visual dan manual, kemudian berkembang metode seismik, yang mampu mendeteksi gempa.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, metode pemantauan gunung api makin dinamik, ada metode magnetik yang mampu menentukan struktur bawah permukaan gunung api dan memodelkan volume magma di dalamnya, GPS (Global Positioning System) yang mampu mengukur deformasi, metode pengukuran suhu dan gas, serta metode penginderaan jarak jauh.

Kolaborasi diyakini mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perancis memiliki banyak ahli geologi, geofisika, dan geokimia, serta menguasai teknologi pemantauan gunung api terkini.

Bentuk kerjasama yang akan dilakukan di Maluku Utara adalah eksperimen inovatif di Gunung Ibu dan Dukono yang menitikberatkan pada konsolidasi data dasar, pengalihan ketrampilan teknis, ilmiah, dan integrasi data pada sistem pemantauan operasional. Selain itu, pemasangan pertama jejaring GPS dan pengolah data dilaksanakan di Gunung Gamalama.

“Aktivitas vulkanik di Gunung Gamalama sangat tinggi, tetapi sistem pemantauannya minimal. Belum ada GPS yang diharapkan memperkaya data sehingga hasil analisa untuk kepentingan mitigasi lebih akurat,” ucap Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani.

Sekretaris Badan Geologi Antonius Ratdomopurbo menambahkan observasi gunung api di Maluku Utara akan memperkaya bank data gunung api di Indonesia, bahkan dunia. Karakter gunung dan kondisi masyarakat di sana tentu berbeda dengan Merapi. ” Mungkin di sana para ahli bisa fokus pada keilmuannya karena kawasan permukiman penduduknya tidak sepadat di Merapi,” ujarnya.

KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI–Acara penandatangan kerjasama bidang vulkanologi antara Indonesia dan Perancis di Jakarta, Senin (26/3).

Duta Besar Perancis Jean Charles mengatakan, hal ini melanjutkan kerja sama sebelumnya di Merapi dan menambah fokus baru di Maluku Utara. Pihaknya menyambut antusias dan berharap kerja sama ini menguntungkan bagi kedua pihak serta memererat kerjasama bilateral antarkedua negara.

Jonan berharap kerja sama bisa berkembang terutama di bidang mitigasi bencana, karena masih banyak masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan erupsi gunung api, tetapi belum mendapatkan sosialisasi dengan baik. “Kerja sama ini jangan hanya fokus pada hal-hal teknis, tetapi juga bagaimana menerjemahkan hal teknis itu untuk memberikan pemahaman mitigasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Dalam kerja sama itu, Indonesia berkomitmen untuk menyediakan tenaga ahli dan asisten sebagai rekan tenaga ahli Perancis untuk kegiatan di lapangan, membantu pengurusan izin yang diperlukan oleh tim Perancis seperti izin penelitian, izin tinggal, serta membantu mendapatkan pembebasan pajak dan bea lain sesuai peraturan perundangan.

Kerja sama Indonesia dan Perancis di bidang vulkanologi telah berlangsung sejak 1964, melalui keterlibatan vukanolog Perancis Haroun Tazieff dalam tim Unesco yang mengkaji risiko ancaman bahaya gunung api. Pada 1970an puluhan ilmuan Perancis datang meneliti fenomena gunung api seperti Merapi, Kelud, Krakatau, dan Dieng.

Perjanjian resmi pemerintah Indonesia dengan Perancis pertama ditandatangani 1986 dan selama lebih dari 30 tahun puluhan mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan S2 dan S3 di berbagai bidang seperti geologi, geofisika dan geokimia di Perancis.

Melalui Institut de Recherche pour le Development (IRD), lembaga penelitian negara yang bergerak di bidang kerja sama internasional dan pembangunan berkelanjutan di bawah naungan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi Perancis, telah dibangun kerja sama dengan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta.

Selain itu, sejak erupsi Merapi tahun 2010, kemitraan lebih fokus pada proyek ilmiah Domerapi yang memungkinkan pemantauan lintas bidang ilmiah melalui pemasangan sejumlah peralatan, membangun bank data baru dan memetik terobosan pengetahuan ilmiah.–RUNIK SRI ASTUTI

Sumber: Kompas, 26 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: