Home / Berita / 32 Tahun Letusan; Belajar Bersiaga di Kawah Galunggung

32 Tahun Letusan; Belajar Bersiaga di Kawah Galunggung

TIGA puluh mahasiswa Jurusan Geografi Universitas Siliwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, duduk melingkar beralas pasir dan bebatuan di dasar kawah Gunung Galunggung. Mereka menyimak kisah bencana 32 tahun silam, saat gunung ini meletus hebat dan memaksa orangtua mereka mengungsi.

Waktu Galunggung meletus, saya Direktur Direktorat Vulkanologi (kini Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi),” kata Adjat Sudradjat, geolog asli Tasikmalaya, kepada para mahasiswa itu. ”Letusannya sangat dahsyat. Sangat mengejutkan.”

Minggu (27/4) pagi, Adjat yang sudah pensiun, bersama sejumlah anggota staf Badan Geologi memberikan kuliah lapangan. Kepala Program Studi Teknik Geologi ITB Budi Bramantyo dan T Bachtiar dari Masyarakat Geografi Indonesia turut serta. Setelah berkeliling di bibir kawah, mereka mengajak para mahasiswa turun hingga ke dasarnya.

Di dasar kawah, yang sebagian tergenang air, itulah Adjat dan para geolog senior berkisah riwayat Galunggung. Adjat menyebutkan, saat itu Direktorat Vulkanologi (sekarang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) tak siap mengantisipasi letusan Galunggung yang sebelumnya dianggap tidur. ”Letusan Galunggung membuka mata pemerintah untuk mulai memperhatikan bahaya gunung api. Pos pemantauan dibangun, alat dimodernisasi,” kata dia.

Syamsul Rizal, mantan petugas vulkanologi saat Galunggung meletus, mengisahkan pengalamannya saat memantau letusan gunung ini. ”Saat terjadi letusan, tercipta awan panas yang mendorong udara (air pressure) bertekanan sangat tinggi. Ini yang membuat dinding dan jendela kaca bergetar hebat, seperti ada belasan pesawat jet terbang bersamaan di atas kepala kita,” kata Syamsul.

Belajar di Kawah GalunggugLetusan Galunggung hingga sembilan bulan saat itu sangat membingungkan. ”Kami sama sekali tidak tahu, bagaimana ujung krisis Galunggung. Semua orang di vulkanologi kebingungan karena memang belum memiliki pengetahuan soal pemantauan gunung api,” katanya.

Letusan Galunggung sejak 5 April 1982 itu menyemburkan abu vulkanik dahsyat. Abu menggelapkan Tasikmalaya, Bandung, Bogor, hingga Jakarta. Bahkan, lontaran abu memaksa pesawat Boeing 747 British Airways mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, karena mesin rusak pada 24 Juni 1982.

Adjat juga menjelaskan terbentuknya bukit-bukit kecil yang terhampar di kaki Galunggung, yang terbentuk dari letusan dahsyat gunung itu. Oleh karena jumlahnya yang banyak, bukit itu dikenal warga lokal sebagai ”Bukit Sepuluh Ribu”. ”Bisa jadi, ada peradaban terkubur di bawah Bukit Sepuluh Ribu ini karena sangat mungkin saat itu sudah ada peradaban di sekitar Galunggung,” kata dia.

Geolog Sutikno Bronto, dalam tesisnya, ”Volcanic Geology of Galunggung” (1989), menyebutkan, sekitar 4.200 tahun silam, Galunggung purba meletus hebat. Letusan itu mengakibatkan terbentuknya kaldera tapal kuda dan mengeluarkan material vulkanik hingga 20 kilometer kubik.

Kaldera tapal kuda itu membuka ke tenggara, memunculkan deretan perbukitan yang lalu dikenal sebagai ”Bukit Sepuluh Ribu” yang menyebar di area seluas 170 km persegi dengan jangkauan terjauh 23 km dari kawah Galunggung. Sementara, bukit terdekat berjarak 6,5 km dari kawah. Bukit terbesar setinggi 50 meter, berdiameter 500 meter.

Geolog Belanda, BG Escher, pada 1925 menghitung jumlah bukit di kaki Galunggung ini lebih dari 3.600 bukit. Lalu, naturalis Belanda, Junghuhn, pada 1853 memopulerkan istilah ”Ten Thousand Hills of Tasikmalaya” dan lalu populer dalam bahasa Sunda ”Bukit Sarewu”.
Gunung Aktif

Seusai menerangkan riwayat letusan Galunggung, Adjat lalu mengingatkan bahwa Galunggung beberapa kali meletus. Letusan Galunggung yang tercatat tahun 1822 menewaskan 4.000 jiwa. Lalu, meletus pada 1894 dan 1918, sebelum meletus April 1982. Setelah letusannya mereda pada 8 Januari 1983, Galunggung relatif tenang. Namun, gunung ini bisa kembali meletus.

Pemaparan riwayat dan ancaman Galunggung itu membuat Erna Sri (21), mahasiswi Universitas Siliwingi, termangu. Erna lahir dan besar di kaki Galunggung, persisnya di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu. Jaraknya sekitar 3 km dari kawah Galunggung. Ia kerap berwisata ke gunung ini.

”Biasanya cuma foto atau sekadar melihat kawah,” kata dia. Sekalipun mengambil Jurusan Geografi, yang sebenarnya cukup banyak mengajarkan ilmu kebumian, ia tak begitu mengerti riwayat Galunggung, apalagi mewaspadai bahayanya.

”Awalnya ikut kegiatan ini hanya untuk memenuhi kewajiban kuliah, ternyata paparannya jadi bekal saya untuk memahami potensi letusan Galunggung. Apalagi, saya dan keluarga tinggal di sini,” kata Erna.

Paparan dampak letusan Galunggung juga mengingatkan Ai Sumiati, peserta kuliah lapangan lainnya, pada pengalaman orangtuanya yang mengungsi pada letusan 1982. Di tengah guyuran hujan abu tebal, orangtua Ai meninggalkan rumah di Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya, yang berjarak 4 km dari kawah Galunggung. Mereka mengungsi ke Kecamatan Mangunreja berjarak 17 km. Ai yakin, bukan tak mungkin hal itu akan ia alami suatu saat nanti.

Ai kini sadar, persiapan menghadapi letusan Galunggung harus sejak dini. Apalagi, desa-desa yang pernah hancur karena letusan Galunggung, 32 tahun silam, kini kembali dipadati hunian. Sementara jalan-jalan yang sewaktu-waktu diperlukan untuk evakuasi hancur dilintasi truk-truk pasir setiap hari.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, ada lima kecamatan persis di kaki Galunggung: Padakembang, Sukaratu, Leuwisari, Sariwangi, dan Kecamatan Cisayong. Total jumlah warga dalam radius 7 km dari kawah Galunggung itu sekitar 184.000 jiwa.

Ingatan manusia terhadap bencana memang relatif pendek. Oleh karena itu, pendidikan bencana harus terus dilakukan, terutama pada anak-anak muda yang tak mengalami sendiri kengerian letusan Galunggung.

Bentang alam sekitar Galunggung, termasuk Bukit Sepuluh Ribu, sebenarnya saksi penting yang bisa menjadi artefak untuk mengingatkan bahaya Galunggung. Sayangnya, bukit-bukit itu terus menghilang karena ditambang.

”Penambangan tanpa kontrol ini, selain merusak lingkungan, juga bisa merugikan dari sisi mitigasi bencana. Sebenarnya Bukit Sepuluh Ribu’ ini ibarat tembok alami penahan lahar bila Galunggung meletus kembali agar material vulkanik tidak langsung mengalir ke Kota Tasikmalaya,” kata Adjat.

Suatu saat, Bukit Sarewu barangkali akan menghilang. Namun, pengetahuan tentang ancaman bahaya harus terus ditanamkan. Bachtiar mengatakan, kuliah lapangan yang mengisahkan kengerian letusan Galunggung 32 tahun silam diharapkan bisa jadi wahana pendidikan kebencanaan yang efektif.

Dengan belajar dan merasakan langsung kebesaran kawah gunung api, anak-anak muda Tasikmalaya itu diharapkan hidup lebih bijak bersanding dengan Galunggung. Bahwa selain memberikan berkah, Galunggung tetaplah gunung api aktif yang menyimpan potensi bencana sehingga harus diwaspadai.

Oleh: Ahmad Arif dan Cornelius Helmy

Sumber: Kompas, 9 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: