Home / Artikel / Memantau Gunung Api

Memantau Gunung Api

Setelah 54 tahun tenang, Gunung Agung di Bali ”bangun” lagi, ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik. Status gunung berketinggian 3.014 meter dari permukaan laut ini dinaikkan dari Normal menjadi Waspada pada 14 September. Peningkatan status artinya peningkatan risiko bahaya letusan.

Gunung Agung menjadi Siaga pada 18 September dan Awas pada 22 September. Fase Awas adalah tingkat bahaya tertinggi gunung api. Warga dilarang berada dalam radius 9 km dari kawah dengan radius bahaya 12 km. Hingga Selasa (26/9) siang, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pengungsi mencapai 75.673 jiwa. Bersama gelombang pengungsian ini, beredar hoaks berantai di media sosial, ”Gunung Agung akan meletus malam ini (24 September 2017).” Beredar pula video letusan Gunung Sinabung dengan narasi Gunung Agung.

Namun, hingga lima hari setelah fase Awas, Gunung Agung tak kunjung meletus. Benarkah Gunung Agung akan meletus dalam waktu dekat? Jangan-jangan gunung ini baru dalam tahap mengisi kantong magma sehingga berbulan-bulan hingga tahunan, baru meletus. Sampai kapan masyarakat mengungsi?

Tantangan terbesar ada di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan otoritas menaikturunkan status gunung api. Status Awas yang terlambat membahayakan nyawa ribuan warga. Sebaliknya, Awas yang terlalu lama dari letusan memicu persoalan sosial ekonomi pengungsi.

Momen untuk menentukan Awas hingga meletus ini, oleh ahli gunung api Surono, disebut golden time. ”Untuk gunung yang padat penduduknya, idealnya jarak Awas hingga meletus dua hari,” kata Surono, mantan Kepala PVMBG.

Praktiknya, kebanyakan gunung api di Indonesia lebih dulu meletus sebelum Awas. Dalam laporan MT Zen dan Djajadi Hadikusumo (1963), letusan Agung pada 18 Februari 1963 terjadi tanpa peringatan dini. Para petugas vulkanologi dari Bandung baru datang setelah Agung meletus.

Ketika Gunung Galunggung di Jawa Barat meletus 5 April 1982, perwakilan warga lereng Galunggung datang melapor ke kantor PVMBG di Bandung. ”Pak, Galunggung meletus.”

Kejadian berulang saat Gunung Kelud meletus tahun 1990. Sehari sebelum letusan, Direktur Vulkanologi saat itu menyampaikan ke media bahwa aktivitas Kelud masih stabil, bahkan menurun (”Gunung Kelud Tenang, Merapi Terus Dipantau”, Kompas, 10 Februari 1990). Padahal, tepat hari itu Kelud meletus hebat dan menewaskan 50 orang.

Gunung Merapi tahun 1994 meletus saat status masih Siaga. Bahkan, pada hari terjadinya letusan, sejumlah petugas pemantauan berada di Kawah Gendol, pusat letusan Merapi. Nyawa mereka nyaris terenggut (Kompas, 19 Januari 2012).

Demikian halnya ketika Gunung Sinabung meletus, Minggu, 29 Agustus 2010. Hingga saat itu Sinabung masuk kategori B dan sama sekali tak dipantau. Pos Pemantauan Sinabung dibangun setelah letusan, tetapi ketika gunung ini kembali meletus hebat pada 15 September 2013, statusnya masih Waspada.

Sebaliknya, setelah dinyatakan Awas pada 16 Oktober 2007, Kelud ternyata tak kunjung meletus. Padahal, sebanyak 38.170 penduduk telah diungsikan. Pada 4 November 2007, muncul kubah lava dari kawah Kelud yang mengakhiri fase kritis tanpa meletus eksplosif sebagaimana diprediksi sebelumnya.

”Prestasi” dalam pemantauan gunung api di Indonesia adalah ketika Merapi krisis pada 2010. Hanya tiga jam setelah Merapi beralih status dari Siaga menjadi Awas, Senin, 25 Oktober 2010, gunung ini meletus hebat. Namun, tenggat ini pun sebetulnya terlalu singkat untuk evakuasi.

Ketersediaan seismograf untuk mengukur gempa, EDM (electronic distance measurement) dan tiltmeter, serta GPS (global posititioning system) untuk mengetahui perubahan tubuh gunung, menjadi penting untuk menentukan golden time evakuasi. Belakangan, juga digunakan analisis citra satelit untuk mendeteksi perubahan titik panas di gunung.

Namun, di Indonesia dengan 30 persen gunung api dunia, dukungan untuk pemantauan gunung api sangat minim. Gunung api aktif di Indonesia rata-rata hanya memiliki 4-5 stasiun seismometer, bahkan sebagian belum ada, dan tidak semuanya terdapat tiltmeter. Di Gunung Agung pun baru dipasang 22 September lalu menjelang Awas, sedangkan GPS-nya rusak. Gunung St Hellen di Amerika Serikat, misalnya, dipantau lebih dari 50 seismometer dan 20 tiltmeter (Kompas, 4 Maret 2014).

Padahal, peralatan baru satu syarat penting untuk akurasi pemantauan. Berikutnya adalah kapasitas petugas. Indonesia dengan 127 gunung api hanya memiliki 45 pengamat gunung api sehingga satu orang harus memantau lima gunung. Di Jepang. satu gunung dipantau empat pengamat dan satu profesor.–AHMAD ARIF
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 September 2017, di halaman 14 dengan judul “Memantau Gunung Api”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: