200 Tahun Kebun Raya Bogor; Tanaman Langka Terkonservasi Minim

- Editor

Kamis, 18 Mei 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makin masifnya kerusakan habitat asli berbagai tumbuhan Indonesia membuat konservasi tumbuhan di luar habitatnya mendesak dilakukan. Namun, keterbatasan sumber daya yang dimiliki membuat baru sedikit tumbuhan terancam punah bisa dikonservasi.

Kepala Bidang Konservasi Tumbuhan Eksitu Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya (PKTKR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Reni Lestari di Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/5), mengatakan, 118 jenis tanaman Indonesia masuk daftar merah Persatuan Internasional bagi Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN). “Dari jumlah itu, 24 persennya jenis tumbuhan terkonservasi di sejumlah kebun raya di Indonesia,” ujarnya.

Tumbuhan yang masuk daftar merah IUCN berstatus beragam, mulai dari punah, punah di alam liar, kritis, genting, rentan, hampir terancam, dan berisiko rendah. Belum semua manfaat dan potensi tanaman itu diketahui.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika tanaman itu hilang, berarti kerugian besar bagi Indonesia. Banyak tumbuhan itu bernilai ekonomi tinggi, sebagai tanaman pangan, obat, energi, kayu-kayuan, dan tanaman hias.

Pengunjung menyusuri kawasan Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (17/5). Sejak berdiri pada 1817, Kebun Raya Bogor menjadi pusat penelitian dan pusat konservasi ex-situ tumbuhan terbesar di Indonesia. Kamis (18/5) ini, Kebun Raya Bogor genap berusia 200 tahun.

Seiring maraknya perusakan habitat alami tumbuhan akibat perambahan hutan, bencana, dan perubahan iklim, konservasi tumbuhan secara eksitu jadi solusi penyelamatan. Sejumlah tanaman langka dikonservasi Kebun Raya Bogor dikelola PKTKR LIPI seperti Rafflesia patma, anggrek, dan tanaman hias dari genus Hoya dan Begonia.

Tertua dan terlengkap
Kebun Raya Bogor merupakan kebun raya tertua di Indonesia dan Asia Tenggara. Kamis (18/5), Kebun Raya Bogor berulang tahun ke-200 tahun. Kebun Raya Bogor jadi kebun raya terlengkap koleksinya di Asia Tenggara bersama Kebun Raya Singapura.

Saat tumbuhan di habitat asli hilang, kebun raya mengintroduksi ulang tanaman itu lewat penanaman kembali berdasar koleksi kebun raya. Itu dilakukan Kebun Raya Bogor dengan menanam kembali sejumlah palem di Sumatera dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Secara terpisah, Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan kebun raya berperan besar menyelamatkan tanaman Indonesia. “Kebun raya jadi benteng terakhir penyelamatan koleksi tanaman Indonesia,” ujarnya.

Hingga 2016, Indonesia memiliki 33 kebun raya. Ada lima kebun raya dikelola LIPI, tiga dibangun pada masa kolonial Belanda dan dua dibangun sesudah kemerdekaan. Kebun raya daerah berjumlah 28 buah ramai didirikan sejak 2005, beberapa di antaranya di satu ekoregion atau berkarakter iklim sama.

Hal itu membuat jumlah dan sebaran kebun raya daerah amat kurang mengingat ada 47 ekoregion di Indonesia. Keragaman ekoregion tertinggi ada di Indonesia timur, tapi di daerah itu hanya ada Kebun Raya Wamena, Papua. Sesuai Strategi Global Konservasi Tumbuhan, LIPI menargetkan 75 persen tanaman dalam daftar merah IUCN bisa dikonservasi secara eksitu pada 2020. (MZW)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Mei 2017, di halaman 14 dengan judul “Tanaman Langka Terkonservasi Minim”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 47 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB